Referat Low Vision

Referat Low Vision
  • Referat Low Vision

  • Views 103

  • Downloads 4

  • File size 986KB
  • Author/Uploader: Finka

BAB I PENDAHULUAN Low vision atau penglihatan kurang didefinisikan sebagai gangguan fungsi penglihatan permanen, yang setelah dilakukan tindakan optimal seperti pengobatan dan/atau koreksi refraksi masih memiliki ketajaman penglihatan kurang dari 6/18 dan lebih baik atau sama dengan 3/60 pada mata yang lebih baik atau lapangan pandang kurang dari 20 derajat dari titik fiksasi. 1 Menurut data World Health Organization (WHO) pada tahun 2019, 2,2 miliar orang di dunia memiliki gangguan penglihatan, dimana 1 miliar mengalami gangguan penglihatan yang dapat dicegah atau belum ditangani.2 Kasus severe low vision berdasarkan data Kementrian Kesehatan tahun 2013 menunjukan angka prevalensi sebanyak 2,1 juta kasus dengan pravelensi terbanyak pada kelompok usia diatas 75 tahun, dan lebih banyak pravelensi pada perempuan daripada laki-laki.3 Penyebab gangguan penglihatan terbanyak di dunia adalah kelainan refraksi yang tidak ditangani (43%) dan katarak (33%). Penyebab lainnya adalah glaukoma (2%), age-related macular degeneration (1%), retinopati diabetik (1%), trakoma (1%), opasitas kornea (1%). Dimana gangguan penglihatan pada negara berkembang disebabkan oleh penyebab yang tidak dapat dicegah atau tidak dapat diobati. Sedangkan pada negara berkembang gangguan penglihatan paling banyak disebabkan oleh penyebab yang dapat dicegah dan/atau dapat diobati.2,4 Individu dengan low vision mengalami gangguan dalam menjalani aktivitas sehari-harinya oleh karena penurunan fungsi penglihatan yang tidak dapat dikoreksi. Perlu dikaji melalui keluhan yang dialami

dalam menjalani

aktivitas sehari-harinya, riwayat medis, dan pemeriksaan fungsi penglihatan untuk menentukan alat bantu yang sesuai dengan tiap-tiap individu.4

1

BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1

Anatomi dan Fisiologi 2.1.1

Anatomi Mata merupakan organ sistem visual yang dapat menangkap

informasi dalam bentuk cahaya dari lingkungan dan merubahnya menjadi sinyal saraf. Proses ini yang memungkinkan objek yang dilihat dapat diinterpretasikan di visual korteks sehingga menghasilkan gambaran dan persepsi. Bola mata dilindungi oleh kelopak mata dan bagian interior mata terbagi menjadi segmen anterior (kornea, iris, badan siliar, dan lensa) serta posterior (akuos humor, retina, koroid, dan nervus optikus).5,6

Gambar 2.1 Anatomi Bola Mata6 Dinding bola mata terdiri dari 3 lapisan jaringan, dimulai dari lapisan terluar yaitu sklera, uvea, dan lapisan terdalam yaitu retina. Sklera merupakan bagian putih bola mata yang merupakan pembungkus fibrosa

2

dan pelindung mata. Kornea merupakan bagian sklera pada anterior mata, kornea merupakan jaringan avascular berwarna jernih dan berfungsi untuk memfokuskan cahaya ke dalam mata. Uvea dibagi menjadi 3 bagian yaitu iris, badan siliar, dan koroid. Iris merupakan bagian yang berwarna pada mata yang memiliki 2 otot untuk kontraksi dan dilatasi pupil. Selanjutnya adalah badan siliar yang membagi bagian antara ruang posterior dan badan vitreous. Badan silia mengandung komponen epitel siliaris yang menghasilkan akuos humor. Koroid mengandung lapisan kapiler yang berfungsi untuk memberi nutrisi bagi fotoreseptor di retina. Pada lapisan terdalam terdapat retina yang mengandung neuron yang sensitif terhadap cahaya dan dapat menghantarkan sinyal visual. Terdapat 2 jenis sel fotoreseptor yaitu sel batang dan kerucut. Sel batang sangat sensitive terhadap cahaya dan gerakan. Sel kerucut sangat sensitive untuk penglihatan warna. 5,6 2.1.2

Fisiologi Refraksi adalah beloknya sebuah berkas cahaya yang berpindah

dari suatu medium transparan ke medium transparan lainnya yang memiliki densitas berbeda. Saat berkas cahaya masuk ke mata, cahaya ini dibelokan (direfraksi) di permukaan anterior dan posterior cornea. Kedua permukaan dari lensa kemudian yang merefraksikan berkas cahaya lebih lagi agar dapat terfokuskan dengan baik ke retina.6,7

3

Gambar 2.2 Refraksi dan Akomodasi6 75% refraksi cahaya terjadi pada kornea, dan 25% sisanya difasilitasi oleh lensa untuk memfokuskan objek baik pada jarak yang dekat maupun jauh. Objek dengan jarak 6 meter atau lebih, merefleksikan cahaya yang hampir pararel dengan mata. Lensa harus memebelokkan cahaya pararel ini agar terfokuskan tepat di central fovea, agar bayangan terbentuk dengan jelas. Objek dengan jarak kurang dari 6 meter lebih divergen dan berkas cahaya harus direfraksi lebih lagi agar dapat difokuskan ke retina. Tambahan refraksi ini dapat dicapai dengan proses yang disebut dengan akomodasi. 6,7 Kemampuan dari otot siliaris untuk berkontraksi dan membuat lensa menjadi lebih cembung disebut sebagai akomodasi. Pada saat mata melihat objek pada jarak yang dekat, lensa menjadi lebih cembung yang akan meningkatkan fokus dan refraksi cahaya yang lebih besar. Dengan bertambahnya usia, lensa secara progresif akan menurun elastisitasnya dan kehilangan kemampuannya untuk merubah bentuknya. Menurunnya akomodasi ditandai dengan berkurangnya kemampuan untuk melihat 4

benda pada jarak dekat dengan jelas (presbiopia), namun kemampuan untuk melihat jarak jauh tetap normal. 6,7 Penurunan ketajaman penglihatan terjadi apabila panjang axial mata terlalu pendek (hypermetropia) atau terlalu panjang (miopia) terhadap kekuatan refraksi dari kornea dan lensa. Individu dengan miopia dapat melihat objek pada jarak yang dekat dengan jelas namun tidak jelas pada saat melihat objek yang jauh. Individu dengan hipermetropia dapat melihat objek yang jauh dengan jelas namun tidak dapat melihat objek yang dekat dnegan jelas. Penurunan ketajaman penglihatan juga menurun apabila kekuatan refraksi dari kornea dan lensa berbeda 1 meridian antara satu dan lainnya

(astigmatisma). Individu dengan astigmatisma akan

melihat objek yang buram atau terdistorsi. 6,7

Gambar 2.3 Kelainan Refraksi6

5

2.1.3

Jaras Penglihatan Proses penglihatan dimulai di retina, dimana terdapat lapisan

fotoreseptor yang akan menghasilkan aksi potensial dengan bantuan dari rhodopsin. Serabut temporal dan serabut nasal dari retina bergabung di diskus optikus dan berjalan secara posterior menjadi nervus optikus. Nervus optikus akan masuk ke kanalis optikus dan keluar dari fossa cranii media untuk membentuk bagian intracranial dari nervus optikus. Kedua nervus optikus ini akan bergabung di kiasma optikus, dimana lebih dari setengah serabut nasal dari mata kiri bersilangan untuk bergabung dengan serabut temporal dari mata kanan untuk membentuk traktus optikus mata kanan dan begitu juga sebaliknya. Sebagian besar traktus optikus lalu melewati corpus geniculatum lateral dari thalamus. Disini traktus optikus akan bergabung dengan neuron yang membentuk radiasi optik dan diteruskan ke primary visual cortex di lobus oksipital (Broadmann area 17), dan persepsi penglihatan terjadi. Sebagian kecil traktus optikus berjalan ke kolikulus superior, yang mengatur otot mata ekstrinsik dan Edinger-Westphal nuclei yang mengatur konstriksi pupil.7,8

Gambar 2.4 Jaras Penglihatan8

6

2.2

Low Vision 2.2.1

Definisi Low vision atau penglihatan kurang merupakan gangguan fungsi

penglihatan permanen, yang setelah dilakukan tindakan optimal seperti pengobatan dan/atau

koreksi refraksi masih memiliki ketajaman

penglihatan kurang dari 6/18 dan lebih baik atau sama dengan 3/60 pada mata yang lebih baik atau lapangan pandang kurang dari 20 derajat dari titik fiksasi.1 Low vision tidak sama dengan kebutaan. Tidak seperti orang yang mengalami kebutaan, seseorang yang mengalami low vision masih dapat mempergunakan penglihatannya. Namun, low vision biasanya mempengaruhi kegiatan atau aktifitas sehari-hari seperti membaca, membaca, menulis, menonton televisi, mengemudi, dan mengenali wajah orang lain. Seseorang dengan low vision mungkin tidak dapat mengenali gambar pada kejauhan atau kesulitan membedakan warna yang hampir serupa.1,4,9 2.2.2

Klasifikasi

Tabel 2.1 Klasifikasi Gangguan Penglihatan Berdasarkan ICD-10 2019 Kategori

0 1 2 3 4 5 9

Gangguan penglihatan ringan atau tidak ada gangguan penglihatan Gangguan penglihatan sedang Gangguan penglihatan berat Kebutaan Kebutaan Kebutaan

Ketajaman penglihatan berdasarkan jarak
*atau hanya menghitung jari pada jarak 1 meter

Penilaian

dilakukan

dengan

visus

terkoreksi

maksimal.

Penggunaan istilah “low vision” dari revisi yang sebelumnya telah digantikan dengan kategori 1 dan 2. Lapang pandang dengan nilai tidak

7

lebih dari 10 derajat pada titik fiksasi pada mata yang lebih baik, maka dikategorikan ke kategori 3. Gangguan penglihatan jarak dekat dengan setara dengan N6 atau M 0.8 pada jarak 40cm.1 Low vision juga dapat dibagi menjadi beberapa jenis berdasarkan gejala yang dialami yaitu :9,10 –

Skotoma sentral

Skotoma perifer

Contrast sensitivity berkurang

Depth perception berkurang

Pandangan buram atau berkabut

Sensitivitas cahaya

2.2.3

Epidemiologi Menurut data World Health Organization (WHO) pada tahun 2019,

2,2 miliar orang di dunia memiliki gangguan penglihatan, dimana 1 miliar mengalami gangguan penglihatan yang dapat dicegah atau belum ditangani. Dimana jumlah kasus dengan gangguan penglihatan jarak jauh lebih banyak dijumpai hingga 4 kali lipat pada negara dengan ekonomi menengah kebawah bila dibandingkan dengan negara yang memiliki tingkat ekonomi yang tinggi. Gangguan penglihatan jarak dekat lebih banyak dijumpai di Afrika diikuti dengan negara dengan nilai ekonomi yang tinggi.2 Tidak terdapat data pasti yang menggambarkan prevalensi low vision secara keseluruhan di Indonesia. Namun untuk kasus severe low vision diketahui memiliki angka prevalensi sebanyak 2,1 juta kasus pada tahun 2013 dengan angka terbanyak didapati pada rentang usia 65-74 tahun dengan 647.511 kasus dan persentase tertinggi didapati pada usia 75+ tahun dengan 13,90%. Penderita severe low vision berjenis kelamin perempuan mendominasi dengan menyumbang 1,2% dari seluruh populasi.3

8

Tabel 2.2 Perhitungan Jumlah Penduduk dengan Severe Low Vision tahun 2013

2.2.4

Kelompok Umur (tahun)

Jumlah Penduduk

5-14 15-24 25-34 35-44 45-54 55-64 65-74 75+ Jumlah

48.024.776 42.612.927 43.002.751 36.617.212 26.763.141 15.164.793 8.519.877 4.008.635 224.714.112

% Sever e Low Vision 0,03 0,06 0,13 0,30 1,00 3,00 7,60 13,90

Jumlah Severe Low Vision 14.407 25.568 55.904 109.852 267.631 454.944 647.511 557.200 2.133.017

Etiologi Penyebab gangguan penglihatan terbanyak di dunia adalah

kelainan refraksi yang tidak ditangani (43%) dan katarak (33%). Penyebab lainnya adalah glaukoma (2%), age-related macular degeneration (1%), retinopati diabetik (1%), trakoma (1%), opasitas kornea (1%). Gangguan penglihatan pada negara berkembang paling banyak disebabkan agerelated macular degeneration, retinopati diabetik, dan glaukoma. Gangguan penglihatan pada negara maju paling banyak disebabkan oleh kelainan refraksi yang tidak ditangani dan katarak, diikuti oleh glaukoma, trauma, dan xerophthalmia. Sehingga dapat disimpulkan bahwa gangguan penglihatan pada negara maju disebabkan oleh penyebab yang tidak dapat dicegah atau tidak dapat diobati. Sedangkan pada negara berkembang gangguan penglihatan paling banyak disebabkan oleh penyebab yang dapat dicegah dan/atau dapat diobati.2,4 Prevalensi dan penyebab dari gangguan penglihatan juga dapat dibedakan berdasarkan usia. Gangguan penglihatan pada anak-anak biasanya disebabkan oleh katarak kongenital, glaukoma kongenital, retinitis pigmentosa, amblyopia, atrofi. Untuk usia muda sering disebabkan oleh kelainan refraksi, albinism, dan keratoconus. Pada usia

9

lanjut paling banyak disebabkan oleh AMD, katarak, glaukoma, dan retinopati diabetik.2,11,12 a. Katarak Katarak adalah kekeruhan yang terjadi pada lensa sehingga cahaya tidak dapat difokuskan dengan tepat kepada retina. Keluhan penurunan ketajaman penglihatan akibat katarak sering dijumpai dengan mudah pada pasien saat anamnesis karena pada umumnya pasien akan menjelaskan

aktivitas-aktivitas

yang

harus

dibatasi

bahkan

ditinggalkannya akibat penyakit ini. Tipe katarak yang berbeda akan memiliki efek yang berbeda pula terhadap perubahan ketajaman penglihatan.11 Tabel 2.3 Katarak dan efeknya terhadap ketajaman penglihatan11

Kortikal Nuklear Subkapsular posterior

Laju Perkembanga n Sedang Lambat Cepat

Silau Sedang Ringan Bermakna

Efek pada Penglihatan Jauh Ringan Sedang Ringan

Efek pada Penglihatan Dekat Ringan Tidak ada Bermakna

Gambar 2.5 Gambaran buram pada penderita katarak11 b. Retinopati Diabetik Perubahan ketajaman penglihatan akibat retinopati diabetik awalnya disebabkan oleh pembengkakan lensa setelah terpapar kadar gula 10

yang tinggi secara berkepanjangan yang bersifat reversibel maupun ireversibel (menyebabkan katarak). Sedangkan pada kasus diabetes yang kronis, akan terjadi kerusakan pembuluh darah di retina yang pada tahap akhir dapat menyebabkan kebocoran darah ke retina dan vitreous, menyebabkan gangguan penglihatan.11 c. Degenerasi Makular Terkait Usia Merupakan

penyakit

yang

disebabkan

oleh

degenerasi

fotoreseptor dan epitel pigmen di area makula. Penyakit ini merupakan penyebab utama kehilangan visualisasi sentral pada usia diatas 50 tahun.11

Gambar 2.6 Degenerasi makular yang mempengaruhi area sentral dari retina, umumnya menyebabkan kehilangan penglihatan area sentral secara progresif11 d. Glaukoma Glaukoma adalah sekelompok kondisi yang bermanifestasi pada kerusakan saraf optikus dan hampir selalu berhubungan dengan peningkatan tekanan intraokuli, atau tekanan di dalam bola mata.11

11

Gambar 2.7 Glaukoma umumnya dihubungkan dengan peningkatan tekanan di dalam bola mata yang menyebabkan adanya titik buta dan konstriksi penglihatan perifer.11 Pada glaukoma tipe sudut tertutup, terjadi penyumbatan aliran sistem drainase mata. Hal ini selanjutnya menyebabkan peningkatan tekanan di dalam bola mata secara tiba-tiba, menyebabkan mata merah, mual, dan muntah. Penurunan penglihatan terjadi akibat adanya pembengkakan dari kornea.11 2.2.5

Gejala Penderita low vision mengalami gangguan dalam menjalani

aktivitas sehari-harinya oleh karena penurunan fungsi penglihatan yang tidak dapat dikoreksi. Beberapa gejala yang dapat dijumpai antara lain penderita mengalami kesulitan dalam membaca, menulis, menonton televisi, mengemudi, dan mengenali wajah orang lain. Seseorang dengan low vision mungkin tidak dapat mengenali gambar pada kejauhan atau kesulitan membedakan warna yang hampir sama.9,13 Keluhan penglihatan yang biasanya terdapat pada individu dengan low vision adalah sebagai berikut : 9,13 –

Berkurangnya lapang pandang bagian tengah.

Berkurangnya lapang pandang di bagian perifer, menimbulkan “tunnel vision”.

Sulit membedakan benda dengan warna yang hampir serupa atau membedakan fitur wajah.

Menurunnya persepsi untuk menentukan posisi benda di sekitar sehingga sulit memperkirakan ketinggian tangga atau kesulitan mengambil barang

12

Pandangan buram atau berkabut

Sensitivitas terhadap cahaya

2.2.6

Penegakan Diagnosis Penatalaksanaan pada kasus low vision dimulai dari evaluasi yang

meliputi anamnesis dan pengukuran fungsi visual. Berbeda dengan pemeriksaan penyakit mata pada umumnya, dimana fungsi visual dan status okular dinilai dengan tujuan untuk menegakkan diagnosis dan memberikan tatalaksana, evaluasi pada pasien dengan low vision yang membutuhkan rehabilitasi visual fokus pada penilaian fungsi visual saat digunakan untuk beraktivitas. Hal ini membutuhkan penilaian yang mendalam dari fungsi visual, evaluasi keberhasilan dalam melakukan aktivitas, dan identifikasi pemberian intervensi yang tepat untuk memaksimalkan fungsi independen penderita.14 1) Anamnesis14 Selayaknya pada kasus-kasus klinis lainnya, anamnesis menyediakan informasi penting untuk mengarahkan pemeriksaan selanjutnya. a. Riwayat okular Korelasikan keluhan fungsional pasien dengan perjalanan penyakit dan adanya intervensi medis atau bedah apapun. Terapi miotik dan fotokoagulasi panretina merupakan 2 contoh intervensi yang dapat memiliki efek samping mempengaruhi fungsi penglihatan disamping manfaatnya dalam tatalaksana penyakit mata. b. Riwayat medis Penyakit sistemik dapat secara tidak langsung mempengaruhi kemampuan visual pasien dalam melakukan aktivitas selain juga beberapa penyakit yang langsung mempengaruhi sistem penglihatan. Misalnya pada kasus-kasus ortopedik, arthritis, tremor, atau paralisis akibat stroke dapat mempengaruhi kemampuan pasien untuk memegang buku atau kaca pembesar genggam, sehingga mengganggu aktivitas membaca. c. Analisis aktivitas

13

Tujuan dari analisis aktivitas adalah untuk menentukan aktivitas apa saja yang bernilai tetapi pasien mengalami kesulitan atau bahkan tidak dapat melakukannya akibat adanya gangguan penglihatan. Pemeriksa harus menanyakan kepada pasien tentang kesulitan saat melakukan sejumlah aktivitas seperti membaca tulisan-tulisan yang berbeda (misalnya buku, label obat, surat kabar, rambu-rambu jalan) dan aktivitas sehari-hari (misalnya berbelanja, memasak, melakukan panggilan telepon, melihat layar komputer, bercukur, menonton televisi atau even olahraga), dan pasien harus diarahakan untuk menentukan urutan prioritas aktivitas-aktivitas yang sangat penting bagi mereka. Hal ini dilakukan sebagai sasaran rehabilitasi individual bagi pasien tersebut. Pertanyaan tentang kesulitan saat bepergian sendiri juga penting untuk ditanyakan, misalnya kesulitan saat menyesuaikan langkah dengan trotoar atau saat mengemudi. Sebagai tambahan, pertanyaan umum tentang adaptasi yang telah dilakukan oleh pasien juga dapat ditanyakan, serta perhatikan tingkat cahaya yang dibutuhkan oleh pasien untuk dapat beraktivitas dengan baik. d. Quality of Life Dalam

perjalanan

anamesis,

kebanyakan

pasien

akan

mendeskripsikan dampak dari kekurangan penglihatan terhadap gaya hidup, keluarga, pekerjaan, serta kegemaran mereka. Ketika ditanyakan secara langsung, pasien dengan low vision umumnya akan mengeluhkan depresi akibat keterbatasan kemampuan penglihatannya, dan hal ini dapat menjadi pertimbangan bagi pemeriksa untuk dapat segera melakukan rujukan kepada dokter spesialis yang sesuai. Selain itu, riwayat jatuh juga harus ditanyakan, sehingga dapat dilakukan pencegahan agar hal ini tidak terulang. 2) Pemeriksaan Fungsi Penglihatan Sebagaimana kasus oftalmologi pada umumnya, pemeriksaan ketajaman penglihatan penting dilakukan serta merupakan ukuran penilaian

14

fungsi visual pada tindakan rehabilitasi, karena tentu saja kemampuan untuk melakukan aktivitas pada orang dengan tajam penglihatan 6/21 akan berbeda dibandingkan orang dengan 6/120. Pemeriksaan fungsi penglihatan lainnya yang juga penting khusunya sensitivas kontras dan lapang pandang tengah.14 a. Ketajaman Penglihatan Pengukuran ketajaman penglihatan yang akurat dapat dimulai dari yang paling rendah. Kartu pemeriksaan dapat diletakkan pada jarak yang lebih dekat daripada standar (misalnya pada jarak 1 m) dibandingkan pada pemeriksaan normal yang dilakukan pada jarak 6 m. Ketika melakukan pemeriksaan pada pasien dengan low vision, kartu Early Treatment Diabetic Retinopathy Study (ETDRS) umunya diletakkan pada jarak 1-2 m. Pada pasien dengan penglihatan yang sangat rendah, pemeriksaan Berkeley Rudimentary Vision Assessment

tersedia untuk menilai ketajaman

penglihatan hingga 6/4.800.4,14 Pasien

dengan

penglihatan

normal

akan

memfiksasikan

bayangan kartu pemeriksaan pada fovea. Pasien dengan penyakit makular akan memfiksasikan bayangan pada bagian lain dari retina, sehingga ketajaman penglihatan akan bervariasi tergantung lokasi fiksasi, karena area yang berbeda pada retina memiliki sensitivitas yang berbeda. Pada retinopati diabetik, tingkat ketajaman penglihatan dapat berfluktuasi dari hari ke hari. Beberapa pasien juga akan memiliki fungsi penglihatan yang berbeda secara signifikan tergantung pada kondisi pencahayaan.14

Gambar 2.8 Penilaian ketajaman penglihatan dengan kartu ETDRS pada jarak 1 meter.4 15

b. Sensitivitas Kontras Kemampuan untuk membedakan kontras merupakan fungsi penglihatan yang terpisah dari tajam penglihatan. Walaupun ketajaman penglihatan dan sensitivitas kontras sering diasosiasikan, namun hal ini bisa tidak terjadi pada beberapa penyakit (misalnya neuropati optik, atrofi geografik). Pasien dengan sensitivitas kontras yang rendah akan mengalami kesulitan saat membaca tulisan berwarna, mengemudi saat kabut atau bersalju, dan mengenali wajah. Pemeriksaan formal untuk sensitivitas kontras dilakukan mengguakan kartu Vistech dan kartu Pelli-Robson.14,15

Gambar 2.9 Kartu pemeriksaan sensitivitas kontras. A, kartu Vistech. Frekuensi spasial meningkat dari atas ke bawah; kontras menurun pada setiap baris dari kiri ke kanan. Pasien harus dapat mendeteksi pola pada gambar apakah miring ke kiri, kanan, atau tersusun vertical; perhatikan

16

contoh pada baris paling bawah. B, kartu Pelli-Robson. Kontras pada hurufhuruf yang tertera semakin menurun dari atas ke bawah dan dari kiri ke kanan di setiap barisnya.4 c. Lapang pandang tengah Kelompok

pasien

terbesar

yang

dirujuk

untuk

menjalani

rehabilitasi penglihatan adalah pasien dengan gangguan lapang pandang tengah akibat degenerasi makular. Alat paling optimal untuk melakukan evaluasi penglihatan pada pasien dengan gangguan lapang pandang tengah adalah macular perimeter yang memonitor lokasi fundus dan selanjutnya menentukan arah tatapan pasien sebelum diberikan target. Macular perimetry mendokumentasikan titik fiksasi retina pasien, adanya skotoma pada lapang pandang tengah, serta hubungan antara titik fiksasi dengan skotoma tersebut.15

17

Gambar 2.10 Gambaran macular perimetry pada skotoma parasentral: titiktitik hijau menunjukkan target yang terlihat oleh pasien; titik-titik merah menunjukkan target yang terabaikan oleh pasien.4 d. Silau Rasa silau adalah ketidaknyamanan atau gangguan penglihatan yang disebabkan oleh adanya berkas sinar yang tersebar. Beberapa kondisi umum yang dapat menyebabkan timbulnya rasa silau meliputi edema kornea, katarak, distrofi sel batang-kerucut, dan albinisme. Selain itu, degenerasi makular atau glaukoma juga dapat menyebabkan rasa silau. Pasien dengan penurunan sensitivitas kontras sering membutuhkan tingkat pencahayaan yang lebih tinggi, yang pada akhirnya dapat memicu timbulnya rasa silau.14 Cara termudah untuk menilai adanya rasa silau adalah melalui anamnesis; namun pemeriksa dapat juga melakukan pemeriksaan ketajaman penglihatan dan sensitivitas kontras, dengan atau tanpa sumber cahaya di dekat kartu pemeriksaan yang diposisikan ke arah pasien.14,15 3. Tes Melakukan Aktivitas Visual Sebagai tambahan dari penilaian fungsi penglihatan yang formal, evaluasi pada pasien dengan gangguan penglihatan seharusnya meliputi penilaian saat melakukan aktivitas yang membutuhkan indera penglihatan, misalnya membaca. Kartu pemeriksaan (reading chart) tersedia untuk menilai pembacaan teks singkat, kalimat, atau paragraf. Variabel yang dinilai antara lain ukuran minimal tulisan yang dapat dibaca tanpa alat bantu, kesalahan pembacaan, dan kecepatan membaca. Pengamatan tambahan terhadap material yang sering dibaca oleh pasien –misalnya surat kabar, label obat, label yang terdapat pada kemasan– juga bermanfaat untuk menilai adanya adaptasi yang telah dilakukan pasien seperti manipulasi postur kepala atau cara lainnya untuk dapat membaca.14 2.2.7

Tatalaksana

18

Tujuan dilakukan penatalaksanaan adalah untuk mengeliminasi kasus low vision (ketajaman penglihatan dibawah 6/18) akibat gangguan refraksi

ataupun

penyebab-penyebab

lainnya.

Strategi

yang

direkomendasikan berdasarkan kampanye ”Vision 2020” termasuk: a. Penapisan untuk mengidentifikasi individu dengan low vision yang dapat dibantu dengan pemakaian kacamata atau alat optik lainnya. b. Ketersediaan layanan refraksi untuk individu yang teridentifikasi mengalami gangguan refraksi signifikan. c. Memastikan layanan optik untuk ketersediaan kacamata yang terjangkau untuk individu dengan gangguan refraksi signifikan. d. Layanan tentang low vision bagi masyarakat yang membutuhkan.14 1. Alat Bantu Low Vision Terdapat lima jenis alat bantu low vision: (1) alat bantu lensa konveks, seperti kacamata, kaca pembesar genggam, dan kaca pembesar berdiri; (2) sistem teleskop, dapat dipasang di kacamata atau digenggam; (3) alat-alat non-optis (adaptif), seperti huruf berukuran besar, perbaikan pencahayaan, penyangga baca, alat penanda, alat yang dapat bersuara (jam, pengatur waktum dan timbangan); (4) pewarnaan dan filter, termasuk lensa antipantul; dan (5) sistem membaca elektronik yang mencakup mesin pembaca closed-circuit television, optical print scanners, komputer yang mampu mencetak tulisan dalam ukuran besar, dan komputer yang dilengkapi dengan perintah suara untuk mengakses program.4 2. Alat Bantu Lensa Konveks Kacamata dan kaca pembesar genggam maupun berdiri diresepkan untuk lebih dari 90% pasien. Berbagai alat tambahan memiliki kelebihan dan kekurangan. Apabila pasien menggunakan kacamata, bahan bacaan harus dipegang pada jarak fokus lensa, misalnya 10 cm untuk lensa 10dioptri. Semakin kuat lensanya, semakin dekat jarak bacanya –sehingga cenderung menghalangi cahaya. Keuntungan memakai kacamata adalah kedua tangan tetap bebas untuk memegang bahan bacaan. Lampu dengan

19

gagang fleksibel dapat disesuaikan untuk menghasilkan penerangan yang seragam.4 Pasien dengan kemampuan binokular dapat menggunakan kacamata berkekuatan 4 sampai 14 dioptri dengan prisma base-in untuk membantu konvergensi. Diatas 14 dioptri, diperlukan lensa monokular pada mata yang lebih baik.4

Gambar 2.11 Kacamata bantu penglihatan kurang. Pasien memperlihatkan jarak membaca yang dekat (dengan kacamata lentikular), tetapi dengan kedua tangan bebas memegang bahan bacaan.4 Terdapat 2 jenis kaca pembesar yang sering digunakan, yaitu kaca pembesar genggam dan kaca pembesar jenis stand magnifiers (model berdiri/diletakkan di atas bacaan). Kaca pembesar digunakan untuk membantu orang dengan penglihatan kurang untuk melakukan aktivitas dengan posisi diam di tempat, seperti membaca surat kabar atau buku, memeriksa pesan masuk, nomor telepon dan alamat di telepon genggam. Kekuatan lensa kaca pembesar genggam bervariasi dari +10 hingga +24 dioptri. Alat ini relatif murah dan mudah didapatkan. Namun keterbatasan lapangan pandang dan penggunaan yang harus menggunakan tangan menyebabkan penggunaanya kurang popular dibandingkan kacamata. Kaca

20

pembesar jenis stand magnifiers lebih dapat diterima karena penggunaanya tidak perlu menggunakan tangan sehingga cocok untuk pasien lanjut usia dengan disertai keluhan tremor. Kekurangannya adalah kurang nyaman saat dibawa-bawa dan juga lapangan pandang yang terbatas.14

Gambar 2.12 Jenis-jenis kaca pembesar. (1) Kaca pembesar genggam yang dapat dilipat; (2) Kaca pembesar genggam biasa; (3) Kaca pembesar stand magnifiers.14 3. Sistem Teleskop Sistem teleskop adalah satu-satunya alat yang dapat difokuskan dari jarak tak hingga ke jarak dekat. Bagi individu berpenglihatan kurang, alat yang paling sederhana adalah teleskop monokular-genggam untuk melihat dalam waktu singkat, khususnya untuk melihat papan petunjuk. Bagi pasien dengan kegemaran atau hobi tertentu, supaya praktis digunakan teleskop Galilean atau Keplerian (sistem prisma internal) dalam sebuah bingkai kacamata.Yang baru-baru ini dikembangkan adalah teleskop autofokus monokular. Rentang kekuatan untuk alat-alat genggam adalah 2-8x. Teleskop kacamata sulit digunakan dengan kekuatan di atas 6x. Kerugian

21

yang dimiliki seluruh teleskop adalah diameter lapangan pandang yang kecil dan dangkalnya bagian tengah lapangan pandangnya.14

Gambar 2.13 Teleskop untuk penglihatan kurang. Kiri: teleskop monokular genggam. Tengah: teleskop Galilean yang menempel pada kacamata dan dapat diatur fokusnya. Kanan: kacamata dengan lensa autofokus.14

4. Alat Non-Optis (Adaptif) Banyak alat-alat praktis yang meningkatkan atau menggantikan fungsi alat-alat bantu. Alat-alat ini dulu disebut “alat non-optis”, tetapi “alat adaptif” mungkin merupakan istilah yang lebih sesuai. Yang termasuk ke dalam golongan ini adalah penggunaan ukuran tulisan yang lebih besar pada media cetak (misalnya majalah, buku, kalender, dan lain-lain), arloji dan jam yang lebih besar dan mengeluarkan cahaya, instrumen yang dapat memberikan instruksi suara (misalnya komputer) dan sebagainya.14 5. Pewarnaan dan Pelapisan Banyak pasien berpenglihatan kurang mengeluhkan kurangnya kontras dan silau (glare), yang mencegah mereka bepergian sendiri. Prinsip dasarnya adalah mempertimbangkan efek sinar matahari pada media buram yang menimbulkan silau dan mengingat bahwa kontras juga dipengaruhi oleh waktu, cuaca, serta tekstur dan warna lingkungan sekeliling. Biasanya diresepkan lensa abu-abu cerah atau agak gelap untuk mengurangi intensitas cahaya. Untuk meningkatkan kontras dan mengurangi efek berkas cahaya gelombang pendek (short-wave), disarankan penggunaan lensa kuning atau

22

kuning kecoklatan (amber). Perlu dipertimbangkan tambahan lapisan antipantul bagi pasien-pasien yang cenderung peka terhadap silau.14 6. Sistem Membaca Elektrik Alat-alat elektronik adalah satu-satunya peralatan saat ini yang mendukung posisi membaca yang alami. Mesin closed circuit television (CCTV) terdiri atas sebuah monitor televisi beresolusi tinggi dengan kamera built-in (sebagian model memiliki kamera genggam), sebuah lensa zoom, sebuah lampu aksesori, dan suatu landasan membaca X-Y. Pasien duduk dengan nyaman di depan layar, menggerakkan teks maju-mundur di atas landasan. Pembesaran dapat berkisar dari 1,5X sampai 45X dengan penyesuaian ukuran huruf, dan latar belakangnya dapat diubah-ubah dari putih sampai abu-abu gelap. Beberapa model mempunyai pilihan warna teks. Perkembangan yang terbaru meliputi sebuah kamera genggam, mousecam, yang dapat dibawa-bawa dan dipasangkan pada televisi mana pun; komputer dengan keluaran suara dan teks yang dapat digeser; dan optical scanner yang dapat membaca teks keras-keras. Komputer rumah standar dapat dimodifikasi dengan mudah agar programnya menggunakan hurufhuruf yang besar. Kontras dan ukuran layar komputer laptop tidak memadai bagi rata-rata pasien dengan low vision sehingga penggunaan laptop untuk kebutuhan ini tidak disarankan.4,14

Tabel 2.4 Aktivitas sehari-hari yang sangat terganggu akibat low vision dan alat-alat bantu yang disarankan.4 Aktifitas Berbelanja Menyiapkan cemilan

Alat bantu Optis

Alat Bantu Non-Optis

Kaca pembesar genggam

Cahaya, petunjuk warna Petunjuk warna, rencana penyimpanan yang konsisten Senter, lampu meja Menyusun dompet dalam kompartemenkompartemen Cahaya, teks berkontras tinggi, teks berukuran

Kacamata bifokus

Makan di luar

Kaca pembesar genggam

Membedakan uang

Kacamata bifokus, kaca pembesar genggam

Membaca tulisan/teks

Kacamata berkekuatan tinggi, kacamata bifokus,

23

kaca pembesar genggam, kaca pembesar berdiri (stand magnifier), closed circuit television Menulis Menekan tombol telepon Menyeberang jalan Mencari tanda taksi dan bus Membaca label obat Membaca huruf di kompor Menyesuaikan thermostat Menggunakan computer

Kaca pembesar genggam Teleskop Teleskop

besar, lubang baca (reading slit) Cahaya, pena berujung besar, tinta hitam Angka telepon berukuran besar, catatan dengan tulisan tangan Tongkat, menanyakan arah

Kaca pembesar genggam Kaca pembesar genggam

Kode warna, huruf berukuran besar

Kaca pembesar genggam

Kode warna

Kaca pembesar genggam Kacamata tambahan berkekuatan sedang

24

Model dengan huruf berukuran besar Warna kontras tinggi, program dengan huruf berukuran besar

BAB III KESIMPULAN Definisi Low vision menurut World Health Organization (WHO) dan International Classification of Diseases 10 adalah gangguan fungsi penglihatan permanen, yang setelah dilakukan tindakan optimal seperti pengobatan dan/atau koreksi refraksi masih memiliki ketajaman penglihatan kurang dari 6/18 dan lebih baik atau sama dengan 3/60 pada mata yang lebih baik atau lapangan pandang kurang dari 20 derajat dari titik fiksasi. Angka gangguan penglihatan di Indonesia sendiri juga masih tergolong tinggi dengan 2,1 juta kasus severe low vision pada tahun 2013 dengan angka terbanyak didapati pada rentang usia 65-74 tahun dengan 647.511 kasus. Penyebab gangguan penglihatan terbanyak di dunia adalah kelainan refraksi yang tidak ditangani (43%) dan katarak (33%). Penyebab lainnya adalah glaukoma (2%), age-related macular degeneration (1%), retinopati diabetik (1%), trakoma (1%), opasitas kornea (1%). Gangguan penglihatan pada negara berkembang paling banyak disebabkan age-related macular degeneration, retinopati diabetik, dan glaukoma. Pada anamnesa, individu dengan low vision akan mengeluhkan kesulitan dalam menjalani aktivitas sehari-harinya oleh karena penurunan fungsi penglihatan yang tidak dapat dikoreksi. Beberapa gejala yang dapat dijumpai antara lain penderita mengalami kesulitan dalam membaca, menulis, menonton televisi, mengemudi, dan mengenali wajah orang lain. Seseorang dengan low vision mungkin tidak dapat mengenali gambar pada kejauhan atau kesulitan membedakan warna yang hampir sama. Dalam pemeriksaan fisik ditemukan menurunnya visus, lapang pandang, sensitivitas terhadap kontras, warna, dan cahaya. Terdapat lima jenis alat bantu low vision yaitu alat optik seperti (1) kaca pembesar atau (2) teleskop, (3) alat non-optis (adaptif), (4) pemberian pewarnaan, filter, dan pencahayaan, dan (5) sistem membaca elektronik.

25

DAFTAR PUSTAKA 1. ICD-10 Version 2019. [Di akses 20 Oktober 2020]. Available from: https://icd.who.int 2. World report on vision. [Di akses 20 Oktober 2020]. Available from: https://www.who.int 3. Badan Litbangkes Kementrian Kesehatan. Situasi Gangguan Penglihatan dan Kebutaan. Riset Kesehatan dasar. 2013. [Di akses 20 Oktober 2020]. Available from: https://pusdatin.kemkes.go.id/ 4. Vaghan

D,

Asbury

Ophthalmology. Eighteenth

T.

Vaghan

ed.

USA;

and Mc

Asbury’s

Grawl-Hill

General Companies

Inc. 2011:383–395. 5. Rehman I, Hazhirkarzar B, Patel B. Anatomy, Head and Neck, Eye Available from: https://www.ncbi.nlm.nih.gov 6. Tortora G, Derrickson B. Principles of anatomy and physiology. Hoboken: Wiley; 2014. 7. Harper R. Basic ophthalmology. San Francisco, CA: American Academy of Ophthalmology; 2010. 8. Gupta M, Bordoni B. Neuroanatomy, Visual Pathway. [Di akses 21 Oktober 2020]. Available from: https://www.ncbi.nlm.nih.gov 9. Low Vision | National Eye Institute. [Di akses 21 Oktober 2020]. Available from: https://www.nei.nih.gov 10. Low Vision and Vision.[Di akses 21 Oktober 2020]. Available from: https://www.aoa.org 11. Bakkar M, Alzghoul E, Haddad M. Clinical characteristics and causes of visual impairment in a low vision clinic in northern Jordan. Clinical Ophthalmology. 2018;Volume 12:631-637. 12. Z. Alotaibi A. A Retrospective Study of Causes of Low Vision in Saud Arabia, A Case of Eye World Medical Complex in Riyadh. Global Journal of Health Science. 2015;8(5):205. 13. Low Vision Symptoms .American Academy of Ophthalmology.[Di akses 21 Oktober 2020]. Available from: https://www.aao.org/ 26

14. Şahlı E, İdil A. Common Approach to Low Vision: Examination and Rehabilitation of the Patient with Low Vision. Turkish Journal of Ophthalmology. 2019;49(2):89-98. 15. Baskaran K, Macedo A, He Y, Hernandez-Moreno L, Queirós T, Mansfield J et al. Scoring reading parameters: An inter-rater reliability study using the MNREAD chart. PLOS ONE. 2019;14(6):e0216775.

27