Manajemen Pemeliharaan Macan Tutul Jawa (Panthera pardus melas) di Taman Satwa Cikembulan

Manajemen Pemeliharaan Macan Tutul Jawa (Panthera pardus melas) di Taman Satwa Cikembulan.pdf
  • Manajemen Pemeliharaan Macan Tutul Jawa (Panthera pardus melas) di Taman Satwa Cikembulan.pdf

  • Views 9,233

  • Downloads 4,041

  • File size 828KB
  • Author/Uploader: Hipni Romansyah

i

MANAJEMEN PEMELIHARAAN MACAN TUTUL (Panthera pardus melas) DI TAMAN SATWA CIKEMBULAN GARUT

HIPNI MANSUR ROMANSYAH

PROGRAM KEAHLIAN PARAMEDIK VETERINER PROGRAM DIPLOMA INSTITUT PERTANIAN BOGOR BOGOR 2016

ii

iii

PERNYATAAN MENGENAI LAPORAN PRAKTIK KERJA LAPANGAN 1 DAN SUMBER INFORMASI Dengan ini saya menyatakan Manajemen Pemeliharaan Macan Tutul di Taman Satwa Cikembulan Garut adalah karya saya dengan arahan komisi pembimbing dan belum diajukan dalam bentuk apapun kepada perguruan tinggi manapun. Sumber informasi yang berasal atau dikutip dari karya yang diterbitkan dari penulis lain telah disebutkan dalam teks dan dicantumkan dalam Daftar Pustaka di bagian akhir laporan ini.

Bogor, Agustus 2016

Hipni Mansur Romansyah NIM J3P114023

iv

v

ABSTRAK HIPNI MANSUR ROMANSYAH. Manajemen Pemeliharaan Macan Tutul (Panthera pardus melas) di Taman Satwa Cikembulan Garut. Dibimbing oleh HERYUDIANTO VIBOWO. Taman Satwa Cikembulan merupakan lembaga konservasi eksitu yang menangkarkan macan tutul jawa yang terancam punah. Menurut IUCN (International Union for Conservation of Nature and Natural Resources), macan tutul jawa termasuk ke dalam Redlist dengan kategori Critically Endangered, oleh karena itu aspek pemelihaan dalam suatu lembaga konservasi sangat penting, karena terkait dengan kesehatan, perawatan dan pemenuhan prinsip kesejahtraan satwa. Praktik kerja lapangan 1 ini bertujuan menguraikan manajemen pemeliharaan macan tutul jawa di Taman Satwa Cikembulan. Pengumpulan data berasal dari data primer dan sekunder. Data primer yang diperoleh berupa sistem perkandangan, jenis pakan, pengayaan dan perawatan. Data sekunder yang diperoleh yaitu dengan mengumpulkan data mengenai manajemen pemeliharaan macan tutul. Manajemen pemeliharaan termasuk aspek perkandangan dengan luas kandang rata-rata 102.09 meter, pakan yang diberikan yaitu kelinci, ayam, dan daging sapi mentah dengan berat 3-3.5 kg per individu macan tutul. Perawatan kesehatan yang dilakukan dengan pemberian obat cacing secara berkala dan pengamatan perilaku harian dan pemeriksaan kesehatan yang dilakukan setiap seminggu sekali. Kata kunci : Macan tutul jawa, manajemen pemeliharaan, taman satwa cikembulan.

vi

vii

RINGKASAN HIPNI MANSUR ROMANSYAH. Manajemen Pemeliharaan Macan Tutul (Phantera pardus melas) di Taman Satwa Cikembulan Garut. Dibimbing oleh HERYUDIANTO VIBOWO. Macan Tutul jawa (Panthera pardus melas) merupakan salah satu dari sembilan jenis (sub species) Macan Tutul yang hidup didunia, dan diketahui salah satu satwa endemik Pulau Jawa. Taman Satwa Cikembulan salah satunya yang merupakan suatu lembaga konservasi yang menangkarkan macan tutul dengan tujuan untuk mencegah kepunahan spesies. Di Indonesia, Macan Tutul jawa termasuk satwa dilindungi menurut UU No.5 tahun 1990 dan PP No.7 tahun 1999. Aspek pemeliharaan dalam suatu lembaga konservasi sangat penting karena terkait dengan kesehatan, perawatan dan pemenuhan prinsip kesejahteraan hewan. Tujuan dalam Praktik Kerja Lapangan ini bertujuan untuk menguraikan manajemen pemeliharaan perkandangan, pakan dan perawatan macan tutul (Panthera pardus) di Taman Satwa Cikembulan Garut. Praktik Kerja Lapangan di Taman Satwa Cikembulan, Kampung Jati, Desa Cikembulan, Kecamatan Kadungora, Kabupaten Garut, Jawa Barat, Indonesia. Praktik Kerja Lapangan dilaksanakan selama 1 bulan, yaitu pada tanggal 18 Juli-13 Agustus 2016 pada jam dan hari kerja yang telah ditetapkan oleh Taman Satwa Cikembulan. Data yang diambil adalah data primer melalui observasi, wawancara dan pelaksanaan PKL 1. Macan tutul yang berada di Taman Satwa Cikembulan ditempatkan di empat kandang dengan tiga kandang ditempati satu individu, serta satu kandang lagi ditempati oleh sepasang macan tutul dengan luas kandang rata-rata 102.09 meter yang terdiri dari kandang tidur (anhok) dan kandang peraga (display). Sanitasi kandang dilakukan setiap hari yang meliputi sanitasi kandang dari sisasisa pakan, feses dan urine. Sanitasi kandang dilakukan dengan cara menyemprotkan air menggunakan selang plastik ke dalam kandang, kandang di sikat dan diberikan desinfektan supaya terhindar dari penyakit. Kandang Macan Tutul memiliki tempat beristirahat (shelter) berupa dipan, kandang tidur (anhok), kolam air untuk minum, serta batang-batang pohon untuk peragaan dan tempat berdiam. Taman Satwa Cikembulan memberikan jumlah pakan Macan Tutul setiap hari dengan bobot pakan adalah 3-3.5 kg per individu macan dengan pakan hidup berupa kelinci satu ekor, ayam satu ekor serta daging sapi mentah. Perawatan kesehatan macan tutul dengan memberikan obat cacing yang rutin setiap tiga bulan, pengamatan perilaku harian dan pemeriksaan kesehatan yang dilakukan setiap satu minggu sekali. Teknik pemeliharaan termasuk aspek perkandangan telah memenuhi ukuran minimum, pakan sudah mencukupi, perawatan baik walaupun ketersediaan fasilitas medis masih kurang. Kata kunci : Macan tutul, manajemen pemeliharaan, taman satwa cikembulan.

viii

ix

MANAJEMEN PEMELIHARAAN MACAN TUTUL (Panthera pardus melas) DI TAMAN SATWA CIKEMBULAN GARUT

HIPNI MANSUR ROMANSYAH

Laporan Praktik Kerja Lapangan 1 Sebagai salah satu syarat untuk seminar pada Program Diploma Keahlian Paramedik Veteriner

PROGRAM KEAHLIAN PARAMEDIK VETERINER PROGRAM DIPLOMA INSTITUT PERTANIAN BOGOR BOGOR 2016

x

xi

Judul Praktik Kerja Lapangan

Nama NIM

: Manajemen Pemeliharaan Macan tutul (Panthera pardus melas) di Taman Satwa Cikembulan Garut : Hipni Mansur Romansyah : J3P114023

Diketahui oleh

Disetujui oleh

Dr Drh Gunanti, MS Koordinator Program Keahlian

Drh Heryudianto Vibowo Pembimbing

xii

xiii

PRAKATA Puji syukur kehadirat Allah SWT atas rahmat dan berkah-Nya, karena penulis dapat menyusun laporan ini tepat pada waktunya. Laporan yang dibuat berjudul “Manajemen Pemeliharaan Macan Tutul (Panthera pardus melas) di Taman Satwa Cikembulan Garut”. Selama penyusunan laporan ini, penulis banyak mendapatkan bimbingan ataupun dukungan dari berbagai pihak. Penulis mengucapkan terima kasih kepada kedua orang tua penulis, kepada Drh Heryudianto Vibowo selaku dosen pembimbing yang telah memberi bimbingan mengenai penyusunan laporan, dan para staff di Taman Satwa Cikembulan Garut yang telah membimbing dan memberikan pengarahan kepada penulis selama melakukan Praktik Kerja Lapangan (PKL), serta kepada semua pihak yang telah membantu serta memberi dukungan moril dan materil penulis untuk menyelesaikan laporan ini. Segala kritik dan saran yang sifatnya membangun sangat diharapkan, semoga laporan ini dapat bermanfaat bagi pembaca sesuai dengan harapan.

Bogor, Agustus 2016

Hipni Mansur Romansyah

xiv

xv

DAFTAR ISI DAFTAR TABEL DAFTAR GAMBAR DAFTAR LAMPIRAN

vii vii vii

1

PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang 1.2 Tujuan

1 1 1

2

METODE KAJIAN 2.1 Lokasi dan Waktu 2.2 Teknik Pengumpulan Data 2.3 Analisa Data 2.4 Tinjauan Pustaka 2.4.1 Macan Tutul Panthera pardus

2 2 2 2 2 2

3

KEADAAN UMUM 3.1 Sejarah Tempat Praktik Kerja Lapangan 3.2 Sarana dan Prasarana 3.3 Kegiatan Lembaga 3.4 Struktur Organisasi 3.5 Visi 3.6 Misi

3 3 4 4 5 6 6

4

MANAJEMEN PEMELIHARAAN MACAN TUTUL 4.1 Perkandangan Macan Tutul 4.2 Pakan Macan Tutul 4.3 Pengayaan 4.4 Perawatan Macan Tutul

6 6 10 11 12

5

SIMPULAN DAN SARAN 5.1 Simpulan 5.2 Saran

13 13 13

6 7

DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN

14 16

xvi

DAFTAR TABEL

1 Deskripsi Macan Tutul Jawa di Taman Satwa Cikembulan 2 Ukuran dan luas kandang Macan Tutul di Taman Satwa Cikembulan

7 8

DAFTAR GAMBAR 1 Struktur Organisasi di Taman Satwa Cikembulan. 2 Kandang Macan Tutul di Taman Satwa Cikembulan 3 Kegiatan Sanitasi kandang di Taman Satwa Cikembulan 4 Pakan Macan Tutul Jawa di Taman Satwa Cikembulan 5 Pengayaan kandang Macan Tutul di Taman Satwa Cikembulan:

5 8 9 10 11

DAFTAR LAMPIRAN 1 2 3 4

Dokumentasi kegiatan di Taman Satwa Cikembulan Jurnal Harian Laporan Priodik Jurnal Aktivitas Harian/Kasus

16 17 22 24

1

1 PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Taman Satwa Cikembulan merupakan salah satu lembaga konservasi yang berfungsi sebagai sarana perlindungan dan pelestarian jenis satwaliar. Taman Satwa Cikembulan juga merupakan salah satu lembaga konservasi eksitu yang menangkarkan macan tutul jawa di areal tersebut. Macan tutul jawa yang terdapat di lokasi ini dipelihara dengan menimbang beberapa aspek pemeliharaan satwa. Salah satu langkah untuk tetap menjaga keberadaan jenis ini adalah dengan upaya konservasi baik insitu (di habitat alaminya) maupun eksitu (di habitat buatan). Konservasi insitu merupakan strategi yang terbaik dalam pelestarian dan perlindungan satwa. Namun dengan semakin berkurangnya luasan habitat alami satwa ini, maka jalan untuk mencegah kepunahan spesies perlu didukung dengan konservasi eksitu (Gunawan 2010). Berdasarkan hal tersebut maka IUCN (International Union for Conservation of Nature and Natural Resources) memasukkan macan tutul jawa ke dalam Redlist dengan kategori Critically Endangered (Ario et al. 2008). Satwa ini juga termasuk ke dalam Appendix I CITES (Convention on International Trade in Endangered Species of Wild Fauna and Flora) (CITES 2013) yang berarti dilarang untuk diperdagangkan. Aspek-aspek pemeliharaan satwa yang penting dalam suatu lembaga konservasi meliputi perkandangan macan tutul, pakan dan perawatan karena terkait dengan pemenuhan prinsip kesejahteraan satwa. Manajemen pemeliharaan macan tutul jawa oleh pengelola di Taman Satwa Cikembulan saat ini mengikuti pada standar pemeliharaan yang umum dilakukan di lembaga konservasi. Sementara itu, pemeliharaan satwa sangat penting untuk diperhatikan oleh pengelola, karena jika diabaikan bisa menimbulkan kerugian diantaranya berupa satwa sakit karena perawatan yang tidak baik dan satwa merasa tertekan oleh kondisi di dalam kandang, bahkan hingga menyebabkan kematian. 1.2 Tujuan Praktik kerja lapangan ini bertujuan untuk menguraikan manajemen pemeliharaan perkandangan, pakan dan perawatan macan tutul (Panthera pardus) di Taman Satwa Cikembulan Garut.

2

2 METODE KAJIAN

2.1 Lokasi dan Waktu Praktik kerja lapangan 1 Mahasiswa Program Keahlian Paramedik Veteriner Program Diploma Institut Pertanian Bogor dilakukan di Taman Satwa Cikembulan Garut yang beralamat di Kampung Jati, Desa Cikembulan, Kecamatan Kadungora, Garut, Indonesia. Praktik Kerja Lapangan dilaksanakan selama satu bulan, yaitu pada tanggal 18 Juli-13 Agustus 2016 pada jam dan hari kerja yang telah ditetapkan oleh Taman Satwa Cikembulan. 2.2 Teknik Pengumpulan Data Data yang diperoleh atau dikoleksi adalah data primer dan sekunder. Data primer merupakan data yang diperoleh secara langsung, meliputi sistem perkandangan, jenis pakan dan perawatan. Pengamatan yang dilakukan di lapangan yaitu dengan wawancara, pemaparan atau penjelasan para perawat satwa (animal keeper), yang telah berpengalaman dalam mengurus satwa terutama satwa Macan Tutul, dan dokter hewan. Data sekunder merupakan data yang diperoleh dengan cara mengumpulkan data dari buku-buku atau jurnal mengenai manajemen pemeliharaan macan tutul. 2.3 Analisa Data Data hasil pengamatan dibandingkan dan dibahas secara deskriptif. Berdasarkan sumber referensi yang diperoleh melalui wawancara, dokumentasi, diskusi, dan studi pustaka. 2.4 Tinjauan Pustaka 2.4.1 Macan Tutul Panthera pardus Macan tutul (Panthera pardus) merupakan salah satu dari genus Panthera dalam famili Felidae. Macan tutul merupakan salah satu dari sembilan jenis sub spesies macan tutul yang hidup di dunia, dan diketahui sebagai salah satu satwa endemik Pulau Jawa. Macan Tutul mempunyai warna dasar Macan Tutul umumnya adalah kekuning–kuningan atau coklat kekuningan dengan banyak tutul–tutul hitam yang tersusun dalam bentuk kembangan (rosette). Whitten (1996) dan Paripurno (2001), membagi jenis pola noktah berdasar bentuk noktah hitam yang diamati menjadi tiga macam, yaitu ceplok, benguk dan kembang. Pola noktah hitam ceplok berbentuk bulat penuh seperti telur ceplok, benguk berbentuk seperti koma, dan kembang berupa tiga atau empat coretan koma melingkar

3

terkadang bergabung seperti kembang. Akan tetapi, ditemukan juga Macan Tutul jawa yang mengalami melanisme yaitu adanya warna dasar tubuh hitam pada seluruh tubuhnya. Macan ini disebut Macan kumbang yang juga memiliki pola tutul–tutul akan tetapi hanya terlihat di bawah cahaya yang kuat (Ahmad 2007). Macan tutul menempati berbagai tipe habitat dengan toleransi yang tinggi terhadap variasi iklim dan makanan macan tutul merupakan spesies yang sangat mudah beradaptasi sehingga mereka ditemukan di setiap tipe hutan, savana, padang rumput, semak, setengah gurun, hutan hujan tropis berawan, pegunungan yang terjal, hutan gugur yang kering, hutan konifer sampai sekitar pemukiman (Toyne and Hoyle 1998). Macan Tutul berperan sebagai pemangsa puncak dilengkapi dengan cakar tajam, rahang kuat gigi taring tajam yang digunakan untuk berburu dan memanjat pohon dan ekor yang panjangnya melebihi setengah badan sebagai penyeimbang serta Macan Tutul memiliki kemampuan khusus dibandingkan kelompok kucing besar lainnya ialah mampu memanjat pohon hingga ketinggian 50 kaki dan turun dengan posisi kepala terlebih dahulu (Toyne and Hoyle 1998).

3 KEADAAN UMUM

3.1 Sejarah Tempat Praktik Kerja Lapangan Taman Satwa Cikembulan berdiri pada tahun 1998 dengan luas kurang lebih 1 hektar. Sebelum diresmikan sebagai Taman Satwa, tempat ini merupakan lahan pribadi warga dan tidak dibuka untuk umum. Lahan pribadi milik Bapak H. Andi berubah sejak ketertarikannya terhadap satwa jenis burung dan berkembang luas menjadi taman satwa. Tidak heran, jika saat ini satwa jenis burung lebih mendominasi jumlahnya daripada kelas satwa lainnya. Taman Satwa ini pertama kali dibuka pada tanggal 9 Agustus 2009 yang bertepatan dengan Hari Raya Idul Fitri. Warga Desa Cikembulan lah yang berinisiatif untuk masuk dan melihat koleksi satwa di tempat ini. Keberadaan tempat ini semakin dikenal warga desa lain sehingga semakin banyak yang berkunjung. Oleh sebab itu, pemilik lahan memutuskan membuka tempat ini untuk umum dengan mengirim surat kepada Kementrian Kehutanan. Tempat ini memiliki izin dengan surat dengan SK Menteri No. SK.105/Menhut-II/2009. Taman Satwa Cikembulan ini diresmikan langsung oleh bupati dan Wakil Bupati Garut waktu itu Bapak Aceng Fikri S.Ag dan Bapak Dicky Chandra pada tanggal 20 November 2009. Pada awal pertama dibuka, Taman Satwa Cikembulan ini memiliki 92 spesies dengan persentase 65% satwa dilindungi dan sisanya satwa tidak dilindungi. Hingga saat ini, Taman Satwa Cikembulan telah mengembangbiakkan beberapa satwa yaitu orang utan, kanguru tanah, dan rusa timor. Selain itu, beberapa hewan seperti rusa totol sedang dilakukan pemeriksaan perkembangbiakan oleh drh. Dian W selaku dokter hewan instansi.

4

Taman Satwa Cikembulan dikenal sebagai tempat wisata bernuansa alam yang memberikan edukasi pengunjung dengan mengenalkan berbagai macam satwa yang berbeda spesies. Sehingga tempat ini cocok untuk liburan keluarga dan memberikan edukasi kepada anak-anak untuk mengenalkan jenis satwa dengan terjun langsung ke lapangan. Taman Satwa Cikembulan dapat dikatakan masih seumur jagung, sehingga banyak hal yang perlu dibenahi. Meskipun begitu, pihak pengelola sangat memperlihatkan kesungguhan dalam perawatan tempat ini. Beberapa contoh, bulan juni 2016 Taman Satwa Cikembulan telah merampungkan pembuatan kandang peraga baru yang lebih layak untuk siamang dan owa jawa, membuat kandang peraga baru di area belakang untuk bangau, cangak, dan ibis suci. Rencana ke depan, taman satwa akan memperluas area dan membuat senyaman mungkin untuk keberlangsungan kehidupan satwa. 3.2 Sarana dan Prasarana Taman Satwa Cikembulan memiliki sarana dan prasarana untuk satwa dan pengunjung. Taman satwa memiliki sekitar 85 kandang koleksi yang ditempatkan untuk hampir semua jenis burung, sekitar 70 kandang peraga yang ditempatkan untuk satwa seperti harimau, macan tutul, macan kumbang, siamang, beruang, dsb. Taman Satwa Cikembulan juga memiliki dapur pakan, klinik yang masih dalam tahap pembangunan, dan kantor. Area parkir untuk pengunjung dibuat jauh dari taman satwa untuk meminimalisir satwa mengalami stres. Sarana untuk pengunjung dapat berupa berperaga anak-anak seperti taman berperaga sebanyak 7 tempat, ATV, naik kuda, tempat pemancingan, rakit, kereta mobil dan lain sebagainya. Selain untuk tujuan edukasi ketika liburan, tujuan pengunjung yang datang juga untuk piknik di tempat ini. tidak heran ketika memasuki kawasan bagian belakang, banyak ditemukan pengtiduran, saung dan jenis tempat istirahat lainnya dengan perincian sepuluh saung pengtiduran, 44 saung dan tempat istirahat lainnya yang biasa digunakan untuk makan dan berkumpul oleh pengunjung setelah berjalan mengitari taman satwa untuk melihat keberagaman satwa. Taman satwa juga memiliki mushola diberbagai sudut tempat sebanyak empat mushola untuk memudahkan pengunjung yang beragama Islam dalam menjalankan kewajibannya. 3.3 Kegiatan Lembaga Pada kegiatan tahunan, Taman Satwa Cikembulan ini tidak buka ketika bulan ramadhan tiba sampai akhir ramadhan. Hal ini bertujuan untuk merehabilitasi tempat dan melakukan perbaikan yang sifatnya jangka panjang. Pada kegiatan kesehatan, dokter hewan instansi melakukan inspeksi kesehatan minimal seminggu sekali. Dokter hewan juga melakukan pemberian obat kepada hewan yang diduga sakit apabila ada laporan dari keeper dan mengonfirmasinya dengan langsung terjun ke tempat untuk menangani satwa yang diduga sakit.

5

Pada kegiatan harian, Taman Satwa Cikembulan melakukan sanitasi kandang kepada semua kandang satwa dimulai pada pukul 7 pagi. Hampir semua satwa di Taman Satwa Cikembulan diberi pakan pagi hari dimulai dari jam 8 sampai 10 pagi. Untuk jenis kucing besar seperti harimau,singa, macan tutul dan macang kumbang, pemberian pakan dilakukan pada jam 5 sore. Untuk satwa jenis kucing besar, tidak diberikan pakan pada hari kamis dengan tujuan agar satwa diperlakukan seperti di alam, tahan dengan ketidakpersediaan pakan. Untuk kegiatan pengunjung, perperagaan seperti ATV, naik kuda, rakitrakitan dan motor elektrik biasanya dijalankan pada hari minggu dan hari libur karena pada hari tersebut pengunjung datang dengan kuantitas yang tidak seperti hari-hari biasa. Taman Satwa Cikembulan juga memberikan tiket gratis kepada warga setempat dengan catatan warga setempat yang masuk memperlihatkan KTP warga setempat. Hal ini sebagai bentuk penghargaan kepada warga karena warga ikut berkontribusi dalam menjaga dan membangun Taman Satwa Cikembulan. Tempat ini juga lebih memilih karyawan warga setempat agar memberikan lapangan pekerjaan untuk warga setempat. 3.4 Struktur Organisasi Struktur organisasi adalah suatu susunan dan hubungan antara tiap bagian serta posisi yang ada pada suatu organisasi atau perusahaan dalam menjalankan kegiatan operasional untuk mencapai tujuan yang diharapkan dan diinginkan. Kejelasan pemisahan kegiatan pekerjaan satu dan yang lainnya digambarkan dengan adanya struktur organisasi. Secara struktural sistem organisasi Taman Satwa Cikembulan dapat dilihat pada gambar 1. Manager

Tenaga Administrasi

Tenaga Ahli/Dokter hewan

Tenaga pengamanan

Keeper/perawat satwa

Gambar 1 Struktur Organisasi di Taman Satwa Cikembulan. Manager

: Mengkoordinasikan secara langsung semua kegiatan baik intern maupun ekstern serta bertanggung jawab atas kegiatan Taman Satwa.

6

Tenaga Administrasi : Melakukan tugas koordinasi dan penanggung jawab internal terutama yang menyangkut administrasi Taman Satwa. Tenaga Ahli/ : Melakukan pengawasan terhadap kesehatan hewan, obat, Dokter hewan dan sanitasi lingkungan Taman Satwa. Keeper/Perawat : Melaksanakan tugas dan tanggung jawab langsung Hewan terhadap penyediaan makanan dan pemberian pakan. Tenaga Pengamanan : Melaksanakan tugas pengamanan terhadap seluruh areal Taman Satwa serta aset-aset yang terdapat di dalamnya. 3.5

Visi

Menjadikan Cikembulan sebagai salah satu wahana konservasi satwa liar ex-situ di daerah/ kabupaten, yang dapat mendukung program pemerintah dalam bidang konservasi. 3.6

Misi

Dengan adanya kehadiran satwa liar di tengah kehidupan keseharian masyarakat, para pelajar dan pengunjung yang hadir dapat mempelajari dan mengamati perilaku dan fungsi dari satwa liar tersebut bagi kehidupan kita di alam ini. Sehingga suatu saat nanti akan muncul regenerasi dari kalangan pelajar yang cinta dan peduli terhadap satwa.

4 MANAJEMEN PEMELIHARAAN MACAN TUTUL

4.1 Sistem Perkandangan Macan Tutul Kandang Macan Tutul di Taman Satwa Cikembulan merupakan kandang permanen. Macan Tutul Jawa (Panthera pardus melas) yang terdapat di Taman Satwa Cikembulan berjumlah enam ekor, terdiri dari lima jantan dewasa, satu betina dewasa. Lima macan tutul yang berada di Taman Satwa Cikembulan berasal dari alam hasil tangkapan oleh penduduk, satu dari peliharaan warga yang diserahkan kepada BBKSDA Jawa Barat (Tabel 1). Status macan tutul jawa dalam daftar IUCN Redlist adalah kritis (Critically Endangered) dan merupakan satwa yang dilindungi dalam Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No. 7 Tahun 1999. Macan tutul jawa yang berasal dari alam langsung dimasukkan ke kandang karantina. Hal ini dimaksudkan agar satwa beradaptasi dengan iklim, cuaca, pakan, dan lingkungan baru. Kesehatan satwa dipantau dan diperiksa secara

7

keseluruhan dalam proses karantina ini, meliputi: kondisi fisik dan satwa khususnya perilaku makan.

perilaku

Tabel 1 Deskripsi Macan Tutul Jawa di Taman Satwa Cikembulan Jenis No. Nama Umur Deskripsi Asal/Sumber Satwa kelamin Satwa merupakan titipan dari 1 Jagur Jantan 8 tahun BBKSDA Jawa Barat kepada Taman Satwa Cikembulan pada 12 Oktober 2009 Satwa berasal dari hasil tangkapan 2 Mayang Betina 6 tahun warga Kp. Cipari, Ds. Sukamurni, Kec. Cilawu, Kab. Garut yang diserahkan ke BBKSDA Jawa Barat. Kemudian dititipkan ke Taman Satwa Cikembulan pada 15 September 2011. Satwa berasal dari hasil sitaan oleh 3 Ibel Jantan 8 tahun BBKSDA Jawa Barat yang kemudian dititipkan di Taman Satwa Cikembulan pada 4 Desember 2012. Satwa berasal dari hasil tangkapan 4 Ompong Jantan 6 tahun warga Kp. Babakan Cicangkrung, Ds. Kertamandala, Kec. Panjalu, Kab. Ciamis yang diserahkan ke BBKSDA Jawa Barat. Kemudian dititipkan ke Taman Satwa Cikembulan pada 4 Mei 2011. Satwa berasal dari penyerahan 5 Sikuning Jantan 6 tahun Kapolres Kuningan kepada Taman Satwa Cikembulan pada 16 Oktober 2012. Satwa berasal dari hasil tangkapan 6 Febby Jantan 4 tahun warga Kp. Babakan Cicangkrung, Ds. Kertamandala, Kec. Panjalu, Kab. Ciamis yang diserahkan ke BBKSDA Jawa Barat. Kemudian dititipkan ke Taman Satwa Cikembulan pada 4 Mei 2014. Macan tutul yang berada di Taman Satwa Cikembulan ditempatkan di empat kandang dengan tiga kandang ditempati satu individu (Ompong, Sikuing dan Ibel), serta satu kandang lagi ditempati oleh sepasang (Jagur dan Mayang). Kandang permanen memiliki ukuran yang berbeda-beda (Tabel 2). Kandang Macan Tutul yang ada di Taman Satwa Cikembulan terdiri dari kandang peraga (display) dan kandang tidur (anhok). Kandang peraga (display) merupakan kandang yang biasa digunakan untuk memperagakan satwa serta tempat peraga bagi satwa. Sementara itu, kandang tidur (anhok) merupakan kandang yang biasa digunakan untuk beristirahat dan berlindung dari cuaca ekstrim seperti hujan dan

8

panas. Kandang tidur memiliki sistem tertutup seperti ruangan, letaknya berada di samping kandang peraga (display), untuk memudahkan satwa dalam berpindah maupun dipindahkan. Tabel 2 Ukuran dan luas kandang Macan Tutul di Taman Satwa Cikembulan Ukuran (m) Nama keterangan Jagur dan Mayang Ibel

Panjang : 28.20 Lebar : 6.00 Tinggi : 3.00 Panjang : 17.50 Lebar : 8.05 Tinggi : 4.20 Sikuning Panjang : 12.85 Lebar : 6.60 Tinggi : 2.55 Ompong Panjang : 12.85 Lebar : 6.60 Tinggi : 2.55 Febi Panjang : 5.20 Lebar : 5.00 Tinggi : 2.00

Terdiri dari kandang peraga (display) dan kandang tidur (anhok) (5.20 x 5.00 x 2.00 meter Terdiri dari kandang peraga (display) dan kandang tidur (anhok) (5.00 x 5.00 x 2.00 meter Terdiri dari kandang peraga (display) dan kandang tidur (anhok) (6.60 x 3.60 x 2.00 meter Terdiri dari kandang peraga (display) dan kandang tidur (anhok) (6.60 x 3.60 x 2.00 meter Kandang karantina

Ukuran suatu kandang harus seluas mungkin supaya satwa mampu bergerak bebas dan bisa mengekspresikan dirinya. Rekomendasi mengenai ukuran kandang menurut Environment and Heritage Service (2004) sekurang-kurangnya memiliki luasan antara 28 meter per individu dan tinggi kandang 3-3.50 meter. Kandang peraga (display) di Taman Satwa Cikembulan sudah memenuhi syarat minimum karena rata-rata ukuran kandang yaitu 102.09 meter dengan tinggi ratarata 3.45 meter. Kandang tidur (anhok) cenderung berukuran lebih kecil dibandingkan dengan kandang peraga (display), karena sebagai tempat beristirahat satwa (Gambar 2).

a

b

Gambar 2 Kandang Macan Tutul di Taman Satwa Cikembulan (a) kandang peraga/display (b) kandang tidur/anhok

9

Kontruksi kandang Macan Tutul di Taman Satwa Cikembulan terdiri dari pagar berupa tembok, besi, kawat ram, kayu dan kaca. Kandang peraga (display) berupa kandang tertutup yang terdiri dari jeruji pada bagian depan dengan dikelilingi oleh dinding semen. Hal ini sudah sesuai dengan rekomendasi Environment and Heritage Service (2004) yang mengatakan pagar kandang seharusnya hanya pada suatu atau dua sisi kandang saja, sedangkan sisinya material solid (dinding semen). Kondisi kandang tersebut hanya ada dua kandang saja, sedangkan dua kandang lainnya memiliki lebih dari dua sisi yang berpagar. Jeruji pada bagian luar disekat oleh kaca setebal 0,50 cm. Adanya sekat kaca bertujuan agar satwa terhindar dari gangguan fisik secara langsung yang berasal dari pengunjung dan bagi keamanan pengunjung. Dalam kandang peraga (display) dibuatkan dipan kayu untuk beristirahat. Lantai kandang peraga (display) berupa tanah dengan sedikit rumput dan semak. Atap kandang berupa kawat ram sehingga sinar matahari dapat langsung masuk ke dalam kandang. Sementara itu, kandang tidur berkontruksi beton dengan jeruji pada bagian depannya dan jeruji besi di dalamnya. Di dalam kandang tidur terdapat dipan kayu yang dapat dimanfaatkan untuk beristirahat dan bersembunyi. Pintu yang menghubungkan antara kandang tidur dan kandang peraga berupa pintu besi.

b a Gambar 3 Kegiatan Sanitasi kandang di Taman Satwa Cikembulan (a) sanitasi kandang tidur; dan (b) sanitasi sekitar kandang Kandang setiap hari dibersihkan. Sanitasi kandang bertujuan agar Macan Tutul dapat hidup sehat dan terhindar dari penyakit. Kegiatan ini meliputi sanitasi kandang dari sisa-sisa pakan, feses dan urine. Sanitasi kandang dilakukan dengan cara menyemprotkan air menggunakan selang pelastik ke dalam kandang, kandang di sikat dan diberikan desinfektan supaya terhindar dari penyakit. Selain itu, sanitasi dilakukan di areal sekitar kandang agar kebersihan kandang tetap terjaga dan menjauhkan satwa dari bibit-bibit penyakit (Gambar 3). Sanitasi yang dilakukan di Taman Satwa Cikembulan yaitu dengan mengeluarkan macan tutul dari kandang tidur ke kandang dislpay. Sanitasi dilakukan dengan membersihkan sisa-sisa pakan dan feses dan membuangnya ke tempat yang sudah disediakan. Lantai kandang disemprot dengan air lalu lantai

10

disikat dengan menggunakan sikat, setelah itu lantai di berikan cairan desinfektan dan dibilas hingga bersih untuk menghilangkan bau, bakteri dan virus patogen yang dapat mengancam kesehatan macan tutul (Larisa et al 2015). 4.2 Pakan Macan Tutul Macan Tutul (Phantera pardus) adalah kucing besar yang termasuk salah satu binatang yang pandai memanjat dan berenang yang lebih aktif di malam hari (nokturnal). Macan Tutul adalah binatang karnivora, jenis mangsa utama potensial bagi Macan tutul di Jawa Barat dan Banten dari kelompok primata dan ungulata seperti Monyet (Macaca fascicularis), Lutung (Trachypithecus auratus), Surili (Presbytis comata), Owa (Hylobates moloch), Oces (Nycticebus coucang), Rusa (Cervus timorensis russa), Mencek (Muntiacus muntjak), Babi Hutan (Sus scrofa), Kancil (Tragulus javanicus) dan Banteng (Bos javanicus). Terdapat 20 jenis satwa yang potensial menjadi mangsa potensial bagi Macan Tutul jawa di Provinsi Jawa Barat dan Banten (Gunawan 2012). Jenis pakan yang diberikan pada macan tutul jawa di Taman Satwa Cikembulan adalah daging sapi mentah, ayam dan kelinci (Gambar 4). Jumlah pakan yang diberikan tergantung pada jenis kelamin. Pakan yang diberikan untuk jantan sebanyak 3,5-3 kg daging sapi mentah. Pakan untuk betina yaitu 3 kg daging sapi mentah. Perbedaan jumlah pakan yang diberikan antara jantan dan betina disesuaikan dengan kondisi macan tutul di alam. Menurut Friedman dan Traylor-Horzer (2008), jantan memegang wilayah teritori yang lebih besar yang meliputi 2-3 wilayah betina, sehingga jantan memerlukan sumber energi yang lebih banyak. Adapun sumber pakan di Taman Satwa Cikembulan berasal dari distributor daging sapi inpor di Bandung.

a

b

Gambar 4 Pakan Macan Tutul Jawa di Taman Satwa Cikembulan : (a) daging sapi mentah dan (b) Macan memakan kelinci hidup Menurut Bailey (1993), konsumsi harian rata-rata macan tutul jantan di alam adalah 3.50 kg dan betina 2.80 kg, sedangkan di Taman Satwa Cikembulan konsumsi harian jantan adalah 3-3.50 kg dan betina 3 kg. Hal ini mengindikasikan bahwa kebutuhan pakan macan tutul jawa sudah tercukupi. Pemberian pakan dilakukan secara rutin setiap hari pada sore hari antara pukul 17.00-18.00 WIB. Frekuensi pemberian pakan diberikan satu kali sehari, namun pada kamis sore macan tutul jawa di Taman Satwa Cikembulan dipuasakan atau tidak diberi makan. Ini dimaksudkan agar satwa tidak obesitas

11

dan untuk meniru kehidupan liarnya, dikarnakan pada habitat aslinya Macan Tutul tersebut tidak menemukan mangsanya setiap hari. Hal ini disamakan dengan habitat aslinya agar tidak menghilangkan sifar liar Macan Tutul jawa tersebut. Selain itu tindakan mempuasakan ini dimaksudkan untuk menjaga nafsu makannya sebagai karnivora, karna menurut Dierenfeld (1987) nafsu makan dan kondisi tubuh mamalia besar karnivora di penangkaran bisa membaik jika dipuasakan sehari atau dua hari dalam seminggu. Pakan diberikan di kandang tidur, melalui celah khusus atau jeruji pada kandang tidur. Di bagian dalam kandang tidak ada tempat khusus untuk pakan sehingga satwa langsung memakan pakan yang berada di lantai kandang. Pakan yang tidak dikonsumsi satwa selama 24 jam atau lebih harus dibuang (Hines 2014). 4.3 Pengayaan Pengayaan merupakan suatu kegiatan yang berhubungan dengan peningkatan kegiatan mental dan fisik satwa dalam kandang. Pengayaan bertujuan untuk merangsang perilaku alamiah satwa di kandang dengan meniru perilaku lingkungan atau situasi kehidupan liarnya. Hal ini dilakukan karena lingkungan kandang tidak sama dengan habitatnya, sehingga satwa perlu diberikan kegiatankegiatan untuk mengisi waktunya dikandang.

b

a

c Gambar 5 Pengayaan kandang Macan Tutul di Taman Satwa Cikembulan: (a,b) shelter; dan (c) kolam serta dahan-dahan pohon. Adanya peralatan, perlengkapan dan daya dukung di dalam kandang sangat berperan penting sebagai tempat untuk mengekspresikan dirinya bagi kehidupan Macan Tutul sehingga dapat merasa nyaman, tidak stres, serta dapat berprilaku alamiah seperti berada di habitat alaminya. Perlengkapan yang ada

12

dalam kandang disesuaikan dengan kebutuhan Macan Tutul. Kandang Macan Tutul memiliki tempat beristirahat (shelter) berupa dipan, kandang tidur (anhok), kolam air untuk minum, serta batang-batang pohon untuk bermain dan tempat berdiam (Gambar 5). Tempat beristirahat Macan Tutul berbentuk rumah beratap dengan ketinggian rata-rata 2 m di atas permukaan tanah. Hal ini sesuai dengan pernyataan Environment and Heritage Service (2004) bahwa dalam suatu kandang harus disediakan papan tidur panggung. Kandang tidur berupa ruangan yang terdapat di samping kandang peraga, di dalamnya berisi dipan berukuran 150 cm x 150 cm yang dapat digunakan untuk beristiraha,. batang pohon disediakan di setiap kandang. Hal ini karena macan tutul merupakan satwa yang senang memanjat derta bertengger untuk beristirahat. Selain itu, macan tutul gemar mencakar-cakar ke batang pohon. Menurut Mallapur et al (2009), Pengayaan lingkungan yang berpengaruh pada aktivitas macan tutul diantaranya adalah papan tidur, dahan pohon, dan pohon. Macan tutul lebih menghabiskan waktunya untuk beraktivitas di tempat yang banyak pengayaan dalam kandang dibandingkan dengan tempat yang sedikit pengayaan. Banyaknya batang pohon ataupun dataran tinggi yang ada pada kandang disesuaikan dengan sifat macan tutul sebagai salah satu kucing besar pemanjat pohon (Schwarz 2006). Pengayaan lain yang dapat dilakukan yaitu metode pemberian pakan (menyembunyikan pakan di sekitar kandang atau memberi pakan yang berbeda) dan menambahkan tanaman di dalam kandang (Environment and Heritage Service 2004). 4.4 Perawatan Macan Tutul Perawatan kesehatan adalah sebuah proses yang berhubungan dengan pencegahan, perawatan, dan manajemen penyakit. Kesehatan merupakan salah satu faktor penting yang akan menentukan keberhasilan penangkaran macan tutul. Aspek kesehatan mencakup jenis penyakit yang sering diderita oleh macan tutul, cara pencegahan serta pengobatannya. Pemantauan kesehatan terhadap macan tutul di Taman Satwa Cikembulan dilakukan secara rutin oleh dokter hewan maupun keeper. Satwa yang tidak sehat dapat terlihat dari prilaku dan nafsu atau frekuensi makannya berkurang. Sejauh ini Macan Tutul di Taman Satwa Cikembulan dapat dikategorikan sehat. Ini karena prilakunya tidak melihatkan sakit dan nafsu makannya baik dari setiap individu. Selain itu, kondisi tubuh Macan Tutul tidak ada yang kurus. Adapun tindakan pencegahan penyakit yang dilakukan meliputi pemberian obat cacing, pemeriksaan kesehatan rutin setiap minggunya, dan manajemen nutrisi, serta perkandangan dan sanitasi. Menurut Environment and Heritage Service (2004), harus ada pemisahan satwa yang sakit atau terluka jika dalam satu kandang atau lebih dari satu individu. Selain itu, pengontrolan rutin terhadap parasit dan vaksinasi, serta pencatatan kesehatan perlu dilakukan oleh pengelola. Kegiatan vaksinasi dan pencatatan riwayat kesehatan Macan Tutul di Taman Satwa Cikembulan belum rutin dan masih kurang lengkap

13

5 SIMPULAN DAN SARAN

5.1 Simpulan Manajemen pemeliharaan macan tutul jawa di Taman Satwa Cikembulan meliputi aspek perkandangan, pengayaan, pakan, dan perawatan. Kandang macan tutul terdiri dari kandang peraga dan kandang tidur. Pakan yang diberikan yaitu ayam, kelinci dan daging sapi mentah dengan berat 3-3,5 kg per individu. Kesehatan satwa dengan pengamatan prilaku harian dan pengecekan kesehatan dilakukan setiap satu minggu sekali oleh dokter hewan. 5.2 Saran Teknik pemeliharaan dan tingkat kesejahteraan yang telah dikaji selanjutnya perlu untuk ditindaklanjuti untuk perbaikan bagi Taman Satwa Cikembulan, khususnya bagi macan tutul jawa di lokasi tersebut. Saran yang dapat diberikan yaitu: 1. Perlunya perbaikan pada aspek sanitasi perkandangan khususnya pembersihan kandang dengan memberikan desinfektan yang lebih mencukupi pada saat sanitasi. 2. Perlunya pelibatan tenaga medis atau dokter hewan dalam penentuan pakan, juga penyediaan fasilitas medis dan obat-obatan bagi satwa. 3. Perlunya pencatatan kesehatan yang rutin dilakukan.

14

6 DAFTAR PUSTAKA

Ahmad G. 2007. Analisis Pola Sebaran Spasial Panthera pardus melas Cuvier 1809 di Taman Nasional Alas Purwo [Skripsi]. Bogor (ID): Institut Pertanian Bogor. Bailey TN. 1993. The African Leopard: A Study of The Ecology and Behavior of A Solitary Felis. New York (US): Columbia University Press. [CITES] Convention on International Trade in Endangered Species of Wild Fauna and Flora. 2013. Appendices I, II, and III. Geneva (CH): International Environmnet House. Chemin des Anemones. Dierenfeld ES. 1987. Nutrional consideration in captive tiger managemnt. In TIGERS OF THE WORD. R.L., Tilson and U.S. Seal, eds. Noyes Publications: park Ridge, NJ, Pp. 149-60. Environment and Heritage Service. 2004. Guidence on the Keeping of Leopard (Panthers), Puma (Cougar) and Jaguars. Belfast (UK): Department of Environment. Friedman Y, Traylor-Horzer K. 2008. Leopard (Panthera pardus) Case Study. Mexico City (MX): NDF Workshop Case Studies. Gunawan H. 2010. Habitat dan penyebaran macan tutul jawa (Panthera pardus melas Cuvier, 1809) di lansekap terfragmentasi di Jawa Tengah [disertasi]. Bogor (ID): Institut Pertanian Bogor. Gunawan H. 2012. Teknik konservasi satwa karnivora puncak Macan Tutul jawa [internet]. [diunduh 2016 Agustus 15]. Tersedia pada: http://status_ekologi_dan_konservasi_macan_tutul_jawa-litbang.pdf . Gunawan H, Prasetyo LB, Mardiastuti A, Kartono AP. 2009. Habitat macan tutul jawa (Panthera pardus melas Cuvier 1809) di lanskap hutan produksi yang terfragmentasi [disertasi] Bogor (ID): Institut Pertanian Bogor. Hines R. 2014. Diet feeding and nutritional careof captive tigers lions and leopards [Internet]. [diunduh 2016 Agustus 15]. Tersedia pada: http://http://www.2ndchance.info/bigcatdiet.htm Larisa C, Elfidasari D, Herdiana I. 2015. Manajemen pemeliharaan macan tutul srilangka (phantera pardus kotiya) di Taman Marga Satwa Ragunan [disertasi] Jakarta (ID) : Universitas Al Azhar Indonesia Mallapur A, Miller C, Christman MC dan Estevez I. 2009. Short-term and longterm movement patterns in confined environments by domestic folw; Influence of grup size and enclosure size. Applied Animal Behaviour Science. 117: 28-34. Raharyono. Paripurno, E. T. 2001. Berkawan Harimau Bersama Alam. KAPPALA Indonesia. Yogyakarta.

15

Schwarz S, Fischer F. 2006. Feeding ecology of leo pards (Panthera pardus) in the western Soutpansberg, Republic of South Africa, as revealed by Scat analysis. Ecotropica 12: 35-42 Toyne, P. and Hoyle, D. 1998. Tiger Status Report. 1998 The WWF Year For The Tiger.WWF-UK.Weyside Park, Godalming. Whitten T, Soeriaatmadja RE, Ariff, SA. 1996. The Ecology of Java and Bali. Singapore: Dalhousie University, Periplus Editions (HK) Ltd.

16

7 LAMPIRAN Lampiran 1 Dokumentasi di Taman Satwa Cikembulan

Sanitasi Kandang Macan Tutul Sanitasi lingkungan kandang

Perilaku macan tutul

Perilaku macan tutul

Pakan macan tutul

Kandang peraga (display)

17

Lampiran 2 Jurnal Harian FRM/DPD/PKL/009

KEMENTERIAN RISET, TEKNOLOGI DAN PENDIDIKAN TINGGI INSTITUT PERTANIAN BOGOR

PROGRAM DIPLOMA Kampus IPB Cilibende, Jl. Kumbang No.14 Bogor 16151 Telp. (0251) 8329101, 8329051, Fax (0251) 8329101

JURNAL HARIAN PKL*) PROGRAM KEAHLIAN PARAMEDIK VETERINER Nama Mahasiswa NIM Nama Perusahaan/Instansi Alamat Hari

Senin

Tanggal

: : : :

HIPNI MANSUR ROMANSYAH J3P114023 TAMAN SATWA CIKEMBULAN GARUT Kp. Jati Ds. Cikembulan Kec. Kadungora Garut Waktu

18 Juli 2016 06.30-08.30 08.30-11.30 16.00-17.00

Selasa

19 Juli 2016 06.30-06.50 06.50-07.30 07.30-11.00 16.00-17.00

Rabu

20 Juli 2016 06.30-07.00 07.00-08.00 08.00-09.00 10.00-11.00 14.00-17.00

Kamis

21 Juli 2016 06.30-07.00 07.00-08.30 08.30-09.30 09.30-11.30

Kegiatan

Observasi hewan di Taman Satwa Cikembulan. Observasi sanitasi kandang, Pembersihan kandang, wawancara dengan petugas/keeper. Pengamatan perilaku sebelum makan dan pemberian pakan macan tutul Inspeksi feses, urin dan pakan macan tutul Sanitasi kandang macan tutul Pengamatan tingkah laku macan tutul Observasi kandang orang utan dan pemberian pakan macan tutul Inspeksi feses, urin dan pakan macan tutul, macan kumbang dan beruang madu. Sanitasi kandang macan kumbang dan kandang beruang madu. Pemberian pakan beruang madu. Perkenalan dan bimbingan pkl dengan dokter hewan. Pencatatan keseluruhan jumlah spesies hewan di Taman Satwa Cikembulan Inspeksi feses, urin beruang madu. Sanitasi kandang beruang madu dan burung kaka tua. Pemberian pakan burung kaka tua. Pencatatan keseluruhan jumlah spesies hewan di Taman Satwa Cikembulan.

18

11.30-13.00 17.00 Jum’at

22 Juli 2016 06.30-07.00

07.00-08.00

08.00-09.30 09.30-10.30

10.30-11.00 11.00-13.00 13.00-15.00 15.00-17.00 17.00

Sabtu

23 Juli 2016 07.00-07.30

07.30-08.30

08.30-09.00 09.00-10.30

17.00 Minggu 24 Juli 2016 06.00-07.00

Isoma Pemberian pakan macan tutul. Observasi kandang, pakan dan minum beruang madu, macan tutul, burung kakatua hitam, burung kakatua maluku, burung kaka tua jambul kuning, burung nuri afrika, dan burung kastruari raja. Sanitasi kandang beruang madu, burung kakatua hitam, burung kakatua maluku, burung kaka tua jambul kuning, burung nuri afrika, dan burung kastruari raja. Menyiapkan dan memberi pakan. Pengamatan kandang, pakan dan minum beruang madu, burung kakatua hitam, burung kakatua maluku, burung kaka tua jambul kuning, burung nuri afrika, dan burung kastruari raja. Pengecekan dan pencocokan jumlah spesies. Ishoma. Sanitasi kandang siamang. Wawancara dengan pengelola Taman Satwa Cikembulan. Pulang Observasi kandang, pakan dan minum beruang madu, macan tutul, burung kakatua hitam, burung kakatua maluku, burung kaka tua jambul kuning, burung nuri afrika, dan burung kastruari raja. Sanitasi kandang beruang madu, burung kakatua hitam, burung kakatua maluku, burung kaka tua jambul kuning, burung nuri afrika, dan burung kastruari raja. Menyiapkan dan memberi pakan hewan. Pengamatan kandang, pakan dan minum beruang madu, burung kakatua hitam, burung kakatua maluku, burung kaka tua jambul kuning, burung nuri afrika, dan burung kastruari raja. Pemberian pakan macan tutul. Perkenalan keeper, observasi kandang, pakan dan minum. Inspeksi feses dan urin macan tutul, beruk, musang, elang brontok, burung hantu, kakatua jambul kuning.

19

07.00-08.00

08.00-09.00

17.00 Selasa

26 Juli 2016 07.00-08.00

08.00-09.00

09.00 16.00

Sanitasi kandang macan tutul, musang, elang brontok, burung kakatua jambul kuning. Menyiapkan dan memberi pakan musang, elang brontok, burung kakatua jambul kuning. Pemberian pakan macan tutul buta

beruk, hantu, beruk, hantu,

Sanitasi kandang karantina hewan, kandang elang berontok, kakatua jambul kuning, burung hantu, kandang macan tutul. Menyiapkan pakan dan memberi pakan burung hantu, elang brotok, kakatua jambul kuning, owa jawa, monyet sulawesi, monyet ekor panjang. Wawancara dengan keeper. Memberi pakan matan tutul.

Rabu

27 Juli 2016 07.00-08.00 08.00-08.30 08.30-09.00

Inspeksi feses, urin, pakan macan tutul. Sanitasi kandang Menyiapkan dan memberi pakan burung kaka tua.

Kamis

28 Juli 2016 06.35-07.00

Sanitasi kandang merak, surili dan orang utan. Menyiapkan pakan dan memberi pakan merak dan orang utan. Bimbingan dengan dosen lapangan. Ishoma Diskusi Penanganan abses pada bagian regio abdomen burung parkit

07.00-08.00 10.00-12.00 12.00-13.00 13.00-14.00 14.00-15.00

Jumat

29 Juli 2016 06.35-08.00

08.00-09.00 09.00-10.00 Minggu 31 Juli 2016 06.30-08.00 08.00-08.30 08.30-09.00 09.00-09.30

Sanitasi kandang merak, surili dan orang utan. Menyiapkan dan memberi pakan merak, orang utan. Pemeriksaan burung parkit. Sanitasi kandang aves. Sanitasi kandang singa. Menyiapkan pakan. Memberi pakan elang laut, aves, angsa hitam, pelikan, bangau tong-tong, cangak

20

abu dan cangak merah. Senin

01 Agustus 07.00-08.00 2016 08.00-09.00

09.00-11.30 11.30-13.00

Selasa

02 Agustus 07.00-08.00 2016 08.00-09.00 09.30-11.00 11.00-14.00

Sanitasi kandang macan, kandang aves. Menyiapkan dan memberi pakan elang laut, bangau tong-tong, buaya, cangak abu dan cangak merah, pelikan, angsa hitam. Grooming kucing. Sikat batok kura-kura. Menyiapkan pakan hewan. Memberi pakan angsa hitam, elang laut, pelikan, bangau tongtong. Grooming kucing. Penaganan luka pada kaki kiri monyet sulawesi.

Rabu

03 Agustus 08.00-09.00 2016 09.00-09.20 11.00-12.00 12.00-13.00 13.00-15.00

Menyiapkan pakan keseluruhan hewan. Melihat kondisi monyet sulawesi. Bimbingan dengan dosen lapangan. Ishoma Melihat kondisi hewan dengan dosen lapangan.

Kamis

04 agustus 08.00-09.00 2016 09.00-09.30

Menyiapkan pakan hewan. Memberi pakan monyet sulawesi dan monyet ekor panjang. Melihat kondisi monyet sulawesi yang mengalami pendarahan. Wawancara dengan keeper. Pengamatan macan tutul.

09.30-10.00 10.00-11.00 13.00-15.00 Jumat

Sabtu

05 Agustus 08.00-09.00 2016 09.00-11.00 11.00-13.00 13.00-15.00 17.00 06 agustus 08.00-09.00 2016 09.00-11.00

17.00 Senin

08 Agustus 07.00-08.00 2016 08.00-08.30

Menyiapkan dan memberi pakan. Grooming kucing. Istirahat. Pengukuran kandang macan tutul. Pemberian pakan macan tutul. Menyiapkan dan memberi pakan hewan. Sanitasi kandang merak, luwak, kucing liar, burung hantu, dan tempat pengolahan pakan. Pemberian pakan macan tutul. Menyiapkan pakan hewan. Memberi pakan monyet sulawesi, monyet ekor panjang.

21

08.30-10.00 10.00 17.00 Selasa

09 Agustus 08.00-09.00 2016 09.00-09.30 09.30-12.00 12.00-13.00 13.00-15.00 17.00

Rabu

10 Agustus 08.00-08.30 2016 08.30-09.00 09.00-09.30 09.30-11.00 13.00-14.00 17.00

Melihat semua hewa di Taman Satwa Cikembulan. Diskusi dengan rekan-rekan PKL. Memberi pakan macan tutul. Menyiapkan pakan hewan. Memberi pakan rusa tutul dan kangguru tanah Membantu relokasi taman satwa. Istirahat. Membantu relokasi taman satwa. Memberi pakan macan tutul. Menyiapkan pakan. Memberi pakan monyet sulawesi, monyet ekor panjang. Memberi pakan babi hutan, burung unta, kijang. Membantu relokasi taman satwa. Memberi antibiotik dan vitamin ke air minum merak. Memberi pakan macan tutul.

Kamis

11 Agustus 07.30-09.00 2016 09.00-11.30

Menyiapkan pakan seluruh hewan. Kunjungan dosen supervisi.

Jumat

12 agustus 08.00-09.00 2016 09.00-09.30

Menyiapkan pakan seluruh hewan. Pemberian pakan beruang madu, burung kakatua. Pemberian pakan beruk, monyet sulawesi dan monyet ekor panjang. Nekropsi merak hijau.

09.30-10.00 10.00-11.30

Sabtu

13 Agustus 08.00-09.00 2016 09.00-10.30 15.00

No. Revisi : 01

Hal: 21/1

Menyiapkan pakan seluruh hewan. Pemberian pakan hewan. Perpisahan dengan staf Taman Satwa Cikembulan.

Tanggal Berlaku : 1 Februari 2010

22

Lampiran 3 Laporan Periodik FRM/DPD/PKL/010 KEMENTERIAN RISET, TEKNOLOGI DAN PENDIDIKAN TINGGI INSTITUT PERTANIAN BOGOR

PROGRAM DIPLOMA Kampus IPB Cilibende, Jl. Kumbang No.14 Bogor 16151 Telp. (0251) 8329101, 8329051, Fax (0251) 8329101

LAPORAN PERIODIK PKL Periode Laporan Nama NIM Program Keahlian Nama Perusahaan/Instansi Alamat

Tanggal 18-24 Juli 2016

28 Juli 2016

Informasi yang diperoleh  Sistem perkandangan semua satwa yang ada di Taman Satwa Cikembulan  Komposisi dan jumlah pakan hewan  Sejarah taman satwa  Jumlah seluruh spesies yang ada di Taman Satwa Cikembulan

  

2-6 Agustus 2016

: Minggu ke-1 : HIPNI MANSUR ROMANSYAH : J3P114023 : PARAMEDIK VETERINER : Taman Satwa Cikembulan Garut : Kp. Jati Ds. Cikembulan Kec. Kadungora Garut

Penanganan abses yang telah mengeras pada burung parkit. Jenis pakan aves. Cara pemberian pakan elang laut, bangau tongtong, cangak abu dan cangak merah. Cara sanitasi kandang singa dan perkandangan singa. Mengetahui sanitasi dan higiene klinik Taman Satwa Cikembulan,

 

Masalah/Kendala Peralatan penunjang kesehatan hewan kurang memadai. Sulitnya bertemu dengan dosen pembingbing

Kurangnya Peralatan medis. Kurangnya peralatan sanitasi kandang. Sulitnya bertemu dengan dosen lapangan.

Pembuangan medis termanejemen baik.

limbah belum dengan

23

mengetahui cara persiapan dan pemberian pakan serta sanitasi kandang. 08-13 Agustus 2016

Animal Rescue Lutung Hitam. Teknik Nekropsi pada Merak Hijau.

Perlindungan keeper saan sanitasi kandang menggunakan perlengkapan seadanya. Peralatan kurang memadai, Tidak memiliki kandang jepit dan SOP kurang diperhatikan. Sulitnya bertemu dengan dosen lapangan.

Catatan Khusus Taman Satwa Cikembulan merupakan taman satwa yang baru dibuka untuk umum sehingga banyak yang harus dilengkapi dan diperbaiki di biang perkandangan dan tenaga kesehatan hewan.

No. Revisi : 01

Hal: 23/1

Tanggal Berlaku : 1 Februari 2010

24

Lampiran 4 Jurnal Kasus FRM/DPD/PKL/010 KEMENTERIAN RISET, TEKNOLOGI DAN PENDIDIKAN TINGGI INSTITUT PERTANIAN BOGOR

PROGRAM DIPLOMA Kampus IPB Cilibende, Jl. Kumbang No.14 Bogor 16151 Telp. (0251) 8329101, 8329051, Fax (0251) 8329101

JURNAL HARIAN AKTIVITAS/KASUS PKL*) PROGRAM KEAHLIAN PARAMEDIK VETERINER

Nama Mahasiswa NIM Nama Perusahaan/Instansi Alamat Tanggal 28 Juli 2016

02 Agustus 2016

No. Revisi : 01

: HIPNI MANSUR ROMANSYAH : J3P114023 : TAMAN SATWA CIKEMBULAN GARUT : Kp. Jati Ds. Cikembulan Kec. Kadungora Garut

Kasus/Aktivitas Prosedur Kerja Penanganan abses  Abses di lepas dari abdominal yang telah mengeras burung parkit dengan pinset pada burung parkit. anatomis lurus dan bengkok.  Area abses di bersihkan dengan NaCl 0,9%.  Abdominal di buka dengan tang arteri anatomis lurus dan bengkok.  Area abses di teteskan lidocain sebanyak 1 tetes.  Debris di potong dengan gunting lurus bengkok.  Area abses di bersihkan dengan Nacl 0,9%.  Area abses di teteskan Penstrep sebanyak 1 tetes. Penanganan luka  Monyet sulawesi dimasukan ke pada kaki kiri dalam kandang jepit. monyet Sulawesi  Luka dibersihkan dengan NaCl 0,9% denga cara disebrot menggunakan sopit 10 ml.  Area luka di berikan Penstrep dengan di sebrot menggunakan spoit sebanyak 3 ml.

Hal: 24/1

Tanggal Berlaku : 1 Februari 2010

25

RIWAYAT HIDUP Penulis dilahirkan di Ciamis, pada tanggal 13 Juli 1995 sebagai anak pertama dari pasangan Bapak Kosim Romansyah dan Ibu Mintarsih. Jenjang pendidikan yang dilalui penulis dimulai dari Sekolah Dasar Negeri 1 Ciakar dan lulus tahun 2008. Pada tahun tersebut Penulis melanjutkan ke Sekolah Menengah Pertama Negeri 3 Cimerak dan lulus pada tahun 2011, kemudian melanjutkan ke Sekiolah Menengah Atas Negeri 3 Ciamis dan lulus pada tahun 2014. Pada tahun 2014 penulis melanjutkan ke Perguruan Tinggi dan diterima di Program Diploma Institut Pertanian Bogor Program Keahlian Paramedik Veteriner melalui jalur Ujian Seleksi Masuk IPB. Selama mengikuti perkuliahan Penulis aktif di Organisasi Mahasiswa Daerah Ciamis (PMGC).