Makalah FTS Suppo (Jurnal)

Makalah FTS Suppo (Jurnal)
  • Makalah FTS Suppo (Jurnal)

  • Views 14

  • Downloads 0

  • File size 594KB
  • Author/Uploader: Gunawan Kusuma

MAKALAH FORMULASI TEKNOLOGI SEDIAAN SEMI SOLID LIQUIDA “Sirup”

Disusun oleh: Kelompok 3

Eka Safitri

11194761920046

Misbahul Jannah

11194761920058

Putri Permata Suka A.

11194761920067

Rizkia Julianti

11194761920069

PROGRAM STUDI FARMASI FAKULTAS KESEHATAN UNIVERSITAS SARI MULIA 2019

DAFTAR ISI BAB I PENDAHULUAN ……………………………………………………………………….. 1 A. Latar Belakang …………………………………………………………………………… 1 B. Rumusan Masalah ………………………………………………………………………. 2 C. Tujuan ………………………………………………………………………………………. 2 BAB II TINJAUAN PUSTAKA………………………………………………………………. 3 A. Teori ………………………………………………………………………………………….. 3 BAB III METODE …………………………………………………………………………………. 6 A. Alat dan Bahan ……………………………………………………………………………. 6 B. Percobaan dan Evaluasi………………………………………………………………… 6 BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN …………………………………………………… 9 A. Hasil ………………………………………………………………………………………….. 9 B. Pembahasan ………………………………………………………………………………. 11 BAB V PENUTUP ……………………………………………………………………………….. 14 DAFTAR PUSTAKA …………………………………………………………………………… 15

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Demam merupakan respon tubuh terhadap penyakit yang disebabkan oleh patogen dan erat kaitannya dengan peningkatan suhu tubuh. Peningkatan suhu tubuh yang cepat pada demam dapat mengakibatkan kejang meskipun hanya dalam waktu yang singkat atau sering disebut kejang demam. Kejang demam merupakan kejang yang terjadi ketika suhu tubuh yaitu suhu rektal meningkat di atas 38°C dan disebabkan oleh suatu proses ekstrakranium. Kejang demam terjadi pada 2-4% anak yang berusia 6 bulan -5 tahun. Penatalaksanaan untuk demam yang utama adalah pemberian antipiretik. Walaupun penggunaan antipiretik tidak terbukti dapat mengurangi risiko terjadinya kejang demam, tetapi para ahli di Indonesia tetap sepakat bahwa pemberian antipiretik seperti parasetamol, ibuprofen, atau aspirin tetap dapat diberikan2. Jika dibandingkan dengan obat lain, ibuprofen memiliki efek yang lebih baik daripada parasetamol atau aspirin pada anak kecil berusia 6 –24 bulan yang sedang demam karena memiliki efek penurunan suhu yang lebih tinggi setelah 6 jam pemberian dosis pertama. Dosis yang diperlukan agar ibuprofen dapat memberikan efek antipiretik terhadap anak pada sediaan supositoria adalah 125 mg. Berdasarkan

klasifikasi

biofarmasetika

atau

Biopharmaceutics

Classification System (BCS), Ibuprofen tergolong dalam BCS kelas II karena kelarutannya yang rendah dan permeabilitas yang tinggi. Untuk obat dengan kelarutan rendah dan permeabilitas tinggi, proses disolusi menjadi tahap penentu absorbsi obat. Dengan demikian perlu suatu usaha untuk meningkatkan disolusi dengan meningkatkan kelarutan yang bertujuan mempercepat proses absorbsi dan mempercepat onset kerja obat. Dalam

penelitian

ini

dilakukan

metode

dispersi

padat

dengan

menggunakan polimer xylitol dan polimer hidrofilik dekstrosa untuk meningkatkan kelarutan ibuprofen dalam sediaan supositoria berbasis lemak cokelat ibuprofen. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh metode dispersi padat dengan dekstrosa sebagai polimer hidrofilik

dalam meningkatkan persen terdisolusi dan efisiensi disolusi ibuprofen pada sediaan supositoria berbasis lemak cokelat serta menentukan rancangan komposisi formula dispersi padat yang optimum dalam meningkatkan profil disolusi ibuprofen.

B. Rumusan Masalah 1. Apakah penambahan polimer xylitol meningkatkan kelarutan ibuprofen melalui pembentukan dispersi padat dalam sediaan suppositoria berbasis lemak coklat. 2. Apakah penambahan polimer dekstrosa meningkatkan kelarutan ibuprofen melalui pembentukan dispersi padat dalam sediaan suppositoria berbasis lemak coklat.

C. Tujuan 1. Mengetahui pengaruh penambahan polimer xylitol dalam meningkatkan kelarutan ibuprofen melalui pembentukan dispersi padat dalam sediaan suppositoria berbasis lemak coklat. 2. Mengetahui pengaruh penambahan polimer dekstrosa dalam meningkatkan kelarutan ibuprofen melalui pembentukan dispersi padat dalam sediaan suppositoria berbasis lemak coklat.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Teori Supositoria adalah sediaan padat yang biasa digunakan melalui dubur, umumnya berbentuk torpedo, dapat melarut, melunak, atau meleleh pada suhu tubuh (Anonim, 1995). Bentuk dan ukurannya harus sedemikian rupa sehingga dengan mudah dapat dimasukkan ke dalam lubang atau celah yang diingankan tanpa menimbulkan kejanggalan dalam penggelembungan begitu masuk dan harus bertahan untuk suatu waktu dan suhu tertentu. Supositoria untuk rektum umumnya dimasukkan dengan jari tangan, tetapi untuk vagina khususnya tablet vagina yang dibuat dengan cara kompresi dapat dimasukkan lebih jauh ke dalam saluran vagina dengan bantuan alat khusus (Ansel, 1989). 1. Bentuk Supositoria Supositoria dengan bentuk torpedo mempunyai beberapa keuntungan yaitu bila bagian yang besar masuk melalui otot penutup dubur, maka bagian supositoria akan masuk dengan sendirinya (Coben dan Lieberman, 1994). Berat supositoria rektal untuk orang dewasa kira-kira 3 gram dan biasanya lonjong seperti torpedo. Umumnya pemberian obat secara rektal adalah setengah sampai dua kali atau lebih dari dosis oral yang diberikan untuk semua obat, kecuali untuk obat yang sangat kuat. Penentuan rentang dosis tergantung pada avaibilitas obat, khususnya dalam basis supositoria yang digunakan (Coben dan Lieberman, 1994). Beberapa supositoria untuk rektum diantaranya ada yang berbentuk seperti peluru, torpedo atau jari-jari kecil, tergantung kepada jenis bobot jenis bahan obat dan basis yang digunakan. Sedangkan supositoria untuk anak -anak beratnya kirakira 1 gram dan ukurannya lebih kecil (Ansel, 1989). Berat supositoria vaginal kira-kira 3 sampai 5,0 gram dan biasanya dicairkan dalam wadah berbentuk bulat atau bulat telur, atau di kompresi dengan suatu mesin cetak tablet dalam bentuk kerucut yang di modifikasi. Supositoria uretral, kadang kadang disebut juga bougi, berbentuk pensil dan meruncing pada salah satu ujungnya. Supositoria uretral yang digunakan untuk laki-laki beratnya kira-kira 4 gram dan panjangnya 100 sampai 150 nm, untuk

wanita, berat masing-masing supositoria 2 gram dan biasanya mempunyai panjang 60 sampai 75 nm (Coben dan Lieberman, 1994). 2. Basis Supositoria Agar supositoria dapat digunakan secara efektif, aman dan nyaman, maka basis supositoria harus memenuhi beberapa persyaratan sebagai berikut (Voigt, 1971) : a. Secara fisiologis netral (tidak menimbulkan rangsangan pada usus: hal ini dapat disebabkan oleh masa yang tidak fisiologis atau tengik, terlalu keras, juga oleh kasarnya bahan obat yang diracik), b. Secara kimia netral (tidak tak tersatukan dengan bahan obat), c. Tanpa alotropisme (modifikasi yang tidak stabil), d. Interval yang sangat rendah antara titik lebur dan titik beku (dengan demikian pembekuan masa berlangsung dengan cepat dalam cetakan, kontraksibilitasnya baik, mencegah pendinginan mendadak dalam cetakan), e. Interval yang rendah antara titik lebur mengalir dengan titik lebur jernih (sangat penting artinya bagi kemantapan bentuk dan juga daya penyimpanan, khususnya pada suhu tinggi), f. Viskositas yang memadai (mampu mengurangi sedimentasi bahan tersuspensi, tingginya ketepatan takaran), g. Supositoria sebaiknya melebur dalam beberapa menit pada suhu tubuh atau melarut (persyaratan untuk kerja obat), h. Pembebasan dan resorbsi obat baik, i. Daya tahan dan daya penyimpanan yang baik (tanpa ketengikan, perwarnaan, pengerasan, kemantapan bentuk, daya patah yang baik dan stabilitas yang memadai dari bahan obat), j. Daya serap terhadap cairan lipofil dan hidrofil. Menurut sifat fisiknya basis supositoria dibagi menjadi : 1. Lemak coklat Lemak coklat merupakan basis supositoria yang paling banyak digunakan karena basis ini mempunyai sifat-sifat fisik yang memenuhi persyaratan ideal. Namun lemak coklat memiliki beberapa kelemahan

yaitu dapat menjadi tengik, meleleh pada udara panas, menjadi cair bila bercampur dengan obat-obatan tertentu dan pemanasan yang terlalu lama, terisomerisasi dengan titik leleh yang terlalu rendah dan tidak dikehendaki (Coben dan Lieberman, 1994). Lemak coklat sebagai lemak tumbuhan diperoleh dari pengepresan biji masak tanpa bungkus dan telah disangrai dari Theobroma cacao. Lemak coklat bersifat netral secara kimia dan fisiologis serta banyak digunakan karena daerah leburnya 31-34ºC, dan pada suhu kamar, bentuk lemak coklat bagus (Voigt, 1971) Lemak coklat merupakan campuran trigliserida. Sekitar 78% adalah gliserol-1-palmitat2-oleat-3-stearat, gliserol-1,3-distearat -2-oleat dan gliserol 1,3-dipalmitat2-oleat, dan sisanya adalah komposisi berbagai campuran trigliserida. 2.

Lemak keras. Lemak keras banyak dimuat dalam farmakope-farmakope sebagai masa supositoria yang telah mendekati sifat ideal basis supositoria.lemak keras terdiri dari mono-, di- dan trigleserida asam-asam jenuh C 10H21COOH sampai C10H10COOH. Lemak keras merupakan produk semi sintesis yang di dominasi oleh asam laurat berwarna putih, mudah patah, tidak berbau, tidak berasa, dan mempunyai kecenderungan yang sangat rendah untuk menjadi untuk menjadi tengik (angka iod paling tinggi 3, angka iod untuk lemak coklat 35-39). Harga viskositas leburan lemak coklat terletak sedikit lebih tinggi daripada lemak keras. Massanya tidak larut air, melebur pada suhu 33,5-35,5ºC. Interval antara titik lebur dan titik bekunya lebih rendah daripada lemak coklat (Voigt, 1971).

3. Basis gelatin gliserin Basis gelatin gliserin ini paling sering digunakan dalam Supositoria vagina dimana yang diharapkan efek setempat yang cukup lama dari unsur obatnya. Basis gelatin gliserin lebih lambat melunak dan bercampur dengan cairan tubuh dari pada oleum cacao dan oleh karena itu waktu pelepasan obatnya lebih lama. Oleh karena basis gelatin gliserin cenderung menyerap uap air, akibat sifat gliserin yang higroskopis, maka basis ini harus dilindungi dari lembab, supaya terjaga bentuk dan konsistensi supositorianya. Adanya air dalam formula supositoria akan mengurangi

kerjanya, tetapi jika perlu supositoria boleh dibasahi dengan air sebelum pemakaiannya, untuk mengurangi kecenderungan basis tersebut menarik air dari membran mukosa dan merangsang jaringan tubuh (Ansel, 1989). Keuntungan dari basis ini adalah melarut dengan cepat dalam rektum. Kerugiannya adalah bahwa supositoria (basis gliserin-gelatin) khusus dengan konsentrasi yang rendah merupakan media makanan yang baik untuk bakteria. Sediaan ini harus dibuat segar, di simpan dalam wadah tertutup rapat (Voigt, 1971). 4. Polietilenglikol (PEG) Polietilenglikol (PEG) merupakan polimer dari etilen oksida dan air, dibuat menjadi bermacam-macam panjang rantainya. Bahan ini terdapat dalam berbagai macam berat molekul dan yang paling banyak yang digunakan adalah polietilenglikol 200, 400, 600, 1000, 1500, 1540, 3350, 4000, dan 6000. Pemberian nomor menunjukkan berat molekul rata-rata dari masing-masing polimernya. PEG yang memiliki berat molekul ratarata 200, 400 dan 600 berupa cairan bening tidak berwarna dan mempunyai berat molekul rata-rata lebih dari 1000 berupa lilin putih, padat. Macam-macam kombinasi dari PEG bisa digabung dengan cara melebur, dengan memakai dua jenis atau lebih untuk memperoleh basis supostoria yang diinginkan konsistensi dan sifat khasnya (Ansel, 1989). Supositoria dengan PEG tidak melebur ketika terkena suhu tubuh, tetapi perlahan-lahan melarut dalam cairan tubuh. Oleh sebab itu basis tidak perlu diformulasi agar melebur pada suhu tubuh. Jadi mungkin untuk menyiapkan supositoria dengan campuran PEG yang mempunyai titk lebur lebih tinggi daripada suhu tubuh. Bahan ini bukan saja tidak memungkinkan perlambatan obat dari basisnya begitu supositoria di masukkan,

tetapi

juga

memberi

kemungkinan

yang

tepat

bagi

penyimpanannya di luar lemari pendingin dan tidak melunak bila terkena udara panas. Kepadatannya pun memungkinkan untuk dimasukkan pada waktu pemakaian secara perlahan-lahan tanpa akan melebur pada jari yang memasukkannya (seperti pada supositoria dengan basis oleum cacao). Karena tidak melebur pada suhu tubuh, tetapi bercampur dengan sekret

dari mukosa pada waktu melarut, supositoria dengan basis PEG tidak akan bocor dari lubang lubang masuknya, seperti yang terjadi pada suppositoria dengan basis oleum cacao. Jika supositoria tidak mengandung sedikitnya 20% air untuk mencegah rangsangan membran mukosa setelah dipakai, maka suppositoria tersebut harus dicelupkan ke dalam air sebelum digunakan, ini mencegah ditariknya cairan dari jaringan tubuh setelah dimasukkan dan terjadi rasa menyengat (Ansel, 1989).

BAB III METODE A. Alat dan Bahan Alat : Bahan : Bahan yang digunakan meliputi ibuprofen, oleum cacao, paraffin cair, xylitol, dekstrosa, NaOH, KH2O4, dan aquades.

B. Percobaan dan Evaluasi Formula I (Polimer Xylitol) Bahan

Jumlah

FA

%

(mg)

Ibuprofen

5

125

125

125

Xylitol

125

250

Oleum cacao

Ad 100

2375

2250

2125

Paraffin cair

Qs

Qs

Qs

100

2500

2500

2500

Jumlah

FA

FB

FC

%

(mg)

(mg)

(mg)

Ibuprofen

5

125

125

125

Dekstrosa

125

250

Oleum cacao

Ad 100

2375

2250

2125

Paraffin cair

Qs

Qs

Qs

100

2500

2500

2500

total

FB 1:1 (mg)

FC 1:2 (mg)

Formula II (Polimer Dekstrosa) Bahan

total

1. Percobaan Pembuatan Supositoria Sejumlah lemak cokelat sesuai dengan uji bilangan pengganti dilelehkan menggunakan hotplate pada suhu 35⁰C dan ditambahkan Ibuprofen secara perlahan dan diaduk hingga homogen. Campuran kemudian dituang dalam cetakan yang telah diolesi parafin cair, dibiarkan 15 menit dalam suhu ruang, lalu disimpan ke dalam lemari es suhu 4 ⁰C selama 45 menit.

2. Evaluasi supositoria a. Uji Organoleptis Dilakukan dengan cara mengambil 10 supositoria yang dihasilkan, kemudian diamati secara visual, meliputi homogenitas warna, bentuk sediaan, dan kondisi permukaan supositoria b. Uji Keseragaman Bobot Dilakukan dengan cara menimbang 10 supositoria, kemudian dihitung bobot rata-rata dan persen deviasinya c. Uji Waktu Leleh Supositoria dimasukkan ke dalam alat disintegrasi tablet yang berisi 700 ml air dengan suhu yang dipertahankan pada 37 ± 0,5 ⁰C d. Uji Disolusi Uji disolusi dilakukan dengan alat uji disolusi tipe I yaitu tipe keranjang (basket). Media disolusi yang digunakan adalah 250 ml dapar fosfat pH 7,4 ± 0,1 pada suhu 37 ± 0,1 ⁰C dan kecepatan 50 rpm. Pada menit ke 5, 10, 15, 30, 45, 60, 90, dan 120 diambil sampel sejumlah10 ml kemudian diukur absorbansinya pada panjang gelombang 221,6 nm. Setiap kali pengambilan media dilakukan penggantian cairan dengan jumlah media disolusi yang sama. Hasil uji disolusi dievaluasi menggunakan parameter persen terdisolusi dan efisiensi disolusi pada menit ke 120. e. Uji Difraksi Sinar-X Sampel berupa serbuk padatan

yang diuji menggunakan alat

difraktometer pada skala sudut difraksi 2θ antara 5-30odengan sumber CuKα17. Sampel digerus dan dipreparasi lebih lanjut menjadi padatan dalam suatu holder yang kemudian diletakkan pada alat XRD dan diradiasi dengan sinar X. Data hasil penyinaran sinar X berupa spektrum difraksi sinar X yang akan terdeteksi dan tercatat oleh komputer dalam bentuk grafik peakintensitas dan akan dianalisis antara bidang kisi kristalnya.

f. Uji Bilangan Pengganti Sebelum pembuatan suppositoria, dilakukan uji bilangan pengganti dengan metode Moody.Uji bilangan pengganti dilakukan dengan menimbang bobot suppositoria menggunakan timbangan analitik. Suppositoria yang ditimbang meliputi suppositoria tanpa bahan aktif, suppositoria dengan bahan aktif murni tanpa dispersi padat, dan suppositoria dengan dispersi padat bahan aktif perbandingan 1:1 dan 1:2.

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN A. HASIL 1. Hasil Uji Organoleptis –

Formula I : Hasil pengujian organoleptis menunjukkan bahwa sediaan suppsitoria pada masing-masing formula berwarna putih kekuningan dan homogen, bentuk runcing seperti torpedo, tekstur halus dan tidak cacat.

Formula II : Hasil pengujian organoleptis menunjukkan bahwa sediaan suppsitoria pada masing-masing formula berwarna putih kekuningan, bentuk runcing seperti torpedo, dan kondisi permukaan tidak retak atau berlubang.

2. Hasil Uji Keseragaman Bobot –

Formula I

Formula II

3. Hasil Uji Waktu Leleh –

Formula I : Rata-rata waktu leleh formula suppositoria FA, FB, dan FC adalah 24,66 ± 0,53 menit; 24, 44 ± 0,47 menit dan 24,51 ± 0,51 menit.

Formula II : Rata-rata hasil uji waktu leleh supositoria adalah 24,66 ± 0,25 menit untuk FA, 24,63 ± 0,33 menit untuk FB, dan 24,61 ± 0,35 menit untuk FC.

4. Hasi Uji Disolusi Formula I : Persentase ibuprofen yang terdisolusi selama 120 menit terdapat pada Gambar 1 sedangkan nilai efisiensi disolusi pada menit ke-120 terdapat dalam Tabel . Analisisstatistikone way Anova menunjukkan bahwapersen terdisolusi ibuprofen selama 120 menit dan nilai DE120 untuk ketiga formula memiliki perbedaan yang bermakna (p = 0,001).

Gambar 1 –

Formula II : Hasil perhitungan persen terdisolusi dan efisiensi disolusi pada menit ke 120 terdapat pada Gambar dan Tabel. Persen terdisolusi semua formula supositoria hingga menit ke 120 terdapat pada Gambar

kurva. Hasil persen terdisolusi pada menit ke 120 yaitu 17,248 ± 1,285% untuk FA; 21,138 ± 1,082% untuk FB; dan 26,857 ± 3,133 untuk FC.

5. Hasil Uji Difraksi Sinar X –

Formulasi I : Hasil uji difraksi sinar X pada Gambar 1 menunjukkan bahwa intensitas puncak pola difraksi pada serbuk ibuprofen murni; dispersi padat FB, dispersi padat FC dan campuran fisik ibuprofen : xylitol 1:2 berturut-turut memiliki nilai 9636,74 pada 206,1667º; 938,10 pada2θ 6,2874º ; 535,08 pada20 6,2869º; dan 8314,11 pada 20 6,1184º. Intensitas puncak pola difraksi serbuk ibuprofen murni lebih tinggi dibandingkan serbuk dispersi padat FB, FC, dan campuran fisik ibuprofen : xylitol 1:2 (perbandingan intensitas puncak antar sampel ditunjukkan dengan tanda panah).

Formulasi II : Hasil uji difraksi sinar X dari ibuprofen murni, dispersi padat 1:1, dispersi padat 1:2, dan dekstrosa terdapat pada Gambar dibawah ini :

6. Hasil Uji Bilangan Pengganti –

Formulasi I : Berdasarkan hasil yang diperoleh dari uji bilangan pengganti, terlihat bahwa FA, FB, dan FC berturut-turut memiliki nilai bilangan pengganti sebesar 0,5350 ± 0,1769; 1,2387±0,0395; dan 0,9831±0,0432.

Formulasi II : Berdasarkan hasil yang diperoleh dari uji bilangan pengganti, terlihat bahwa FA, FB, dan FC berturut-turut memiliki nilai bilangan pengganti sebesar 0,5360 ± 0,1769; 0,4975 ± 0,0395; dan 0,7277 ± 0,0306.

B. PEMBAHASAN Evaluasi sediaan suppositoria ibuprofen yang dilakukan meliputi uji organoleptis, uji keseragaman bobot, uji waktu leleh dan uji disolusi. Uji organoleptis dilakukan untuk melihat kesesuaian antara bentuk fisik sediaan suppositoria ibuprofen meliputi bentuk, warna, homogenitas dan tekstur fisik. Hasil pengujian organoleptis formula I menunjukkan bahwa suppositoria telah memenuhi spesifikasi yang ditetapkanya itu bentuknya runcing seperti torpedo, berwarna putih kekuningan, homogen serta tekstur permukaannya halus dan tidak cacat dan pada formulasi II Hasil yang didapatkan memenuhi spesifikasi yang ditentukan dimana supositoria yang baik adalah yang

berbentuk runcing seperti torpedo, berwarna homogen sesuai dengan warna bahan, dan kondisi permukaannya tidak terdapat retak dan lubang. Uji keseragaman bobot pada formulasi I dan formulasi II dilakukan untuk mengetahui keseragaman bobot pada masing-masing sediaan suppositoria. Hasil pengujian pada formulasi I dan formulasi II sama yaitu menunjukkan bahwa persen deviasi masing-masing suppositoria ≤5% sehingga memenuhi persyaratan yang ditetapkan.Dengan demikian diharapkan dosis dan efektifitas terapi tiap suppositoria menjadi seragam. Uji waktu leleh dilakukan untuk mengetahui waktu hancur atau melunaknya sediaan suppositoria dalam cairan media pada kondisi percobaan yang ditetapkan. Hasil yang diperoleh dari formula I dan formula II telah memenuhi spesifikasi waktu leleh yaitu kurang dari 30 menit sesuai spesifikasi yang ditentukan yaitu waktu leleh supositoria dengan basis lemak tidak lebih dari 30 menit. Dengan demikian sediaan supositoria dapat meleleh pada suhu tubuh dan melepaskan ibuprofen ke cairan rektal untuk memberikan efek terapi dalam waktu yang ideal yaitu kurang dari 30 menit. Uji disolusi dilakukan untuk mengetahui kadar ibuprofen yang terdisolusi dari sediaan suppositoria secara kuantitatif per satuan waktu. Hasil yang diperoleh dari formulasi I menunjukkan bahwa terjadi peningkatan jumlah obat yang terdisolusipada formula suppositoria dengan sistem dispersi padat ibuprofen. Analisis statistik terhadap nilai persen terdisolusi dilakukan dengan uji normalitas menggunakan metode Shapiro-Wilk dan didapatkan nilai α sebesar 0,661 (α>0,05) yang menunjukkan data terdistribusi normal. Peningkatan jumlah obat terdisolusi yang paling tinggi adalah pada formula FC yang berbeda bermakna dengan FB (p = 0,001). Hal ini disebabkan karena penurunan derajat kristalinitasibuprofen yang paling tinggi adalah pada FC sehingga ibuprofen dapat larut lebih baik dalam media disolusi dibandingkan FA dan FB. Kemudian pada formula II Hasil pengujian disolusi menunjukkan bahwa ketiga formula mengalami peningkatan jumlah obat yang terdisolusi tiap satuan waktu. Jika dibandingkan antar aketiga formula, FA memiliki jumlah obat yang terdisolusi paling rendah sedangkan FC memiliki jumlah obat yang terdisolusi

paling tinggi. Jumlah ibuprofen yang terdisolusi pada menit ke-120 berbeda secara signifikan diantara formula FA dan FB dengan FC. Akan tetapi tidak berbeda secara signifikan antara formula FA dengan FB. Hasil perhitungan efisiensi disolusi ketiga formula pada menit ke-120 menunjukkan bahwa efisiensi disolusi FC adalah yang paling tinggi dibandingkan dua formula lainnya. Hal ini menunjukkan bahwa pembuatan dispersi padat dengan metode pelelehan dapat meningkatkan efisiensi disolusi ibuprofen. Hasil uji difraksi sinar X pada formulasi I yang diperoleh untuk serbuk ibuprofen, dispersi padat FB, FC dan campuran fisik ibuprofen:xylitol 1:2 menunjukkan bahwa urutan intensitas pola difraksi dari yang paling tinggi sampai

paling

rendah

adalah

serbuk

ibuprofen

murni,campuran

ibuprofen:xylitol 1:2, dispersi padat FB,dispersi padat FC. Intensitas pola difraksi ibuprofen murni yang lebih tinggi dibanding campuran lain menunjukkan bahwa ibuprofen memiliki kandungan kristalin yang lebih tinggi dibandingkan formula lainnya. Campuran fisik ibuprofen dan xylitol memiliki intensitas pola difraksi lebih tinggi dibandingkan dispersi padat FC, walaupun memiliki jumlah perbandingan ibuprofen dan xylitol yang sama yaitu 1:2. Hal ini menunjukkan bahwa interaksi antara ibuprofen dan xylitol yang terjadi pada proses pencampuran fisik biasa tidak menyebabkan perubahan struktur kristalin ibuprofen. Struktur kristalin ibuprofen dapat berubah melalui proses pelelehan yang memungkinkan terjadinya interaksi fisik antara ibuprofen dan xylitol sebagai polimer hidrofilik. Penurunan intensitas paling besar terjadipada formula dispersi padat dengan penambahan jumlah polimer hidrofilik yang lebih besar yaitu dua kali dari konsentrasi ibuprofen(FC). Hal ini disebabkan karena semakin banyak polimer yang ditambahkan maka jumlah ibuprofen yang dapat berinteraksi fisik dan mengalami perubahan struktur kristalinnya menjadi lebih banyak. Penurunan derajat kristal initas ini menyebabkan berkurangnya kekuatan ikatan antar molekulnya sehingga energi yang diperlukan untuk memecah kristal pada proses pelarutan lebih sedikit.Beberapa puncak yang muncul pada difraktogram serbuk dispersi padat FB dan FC merupakan puncak dari polimer xylitol.

Pada formulasi II analisis untuk menguji kristalinitas dispersi padat dilakukan menggunakan difraksi sinar X. Hasil dari pengujian difraksi sinar X pada Gambar menunjukkan puncak pola difraksi ibuprofen murni yaitu 9636,74 pada 6,1667⁰ (20), puncak pola difraksi dispersi padat FB yaitu 4281,24 pada 6,0733⁰ (20) dan pada dispersi padat FC yaitu 2892,42 pada 6,1042⁰ (20). Jika dibandingkan antara ketiganya terjadi penurunan intensitas pola difraksi ibuprofen pada dispersi padat dibandingkan dengan ibuprofen murni. Hal ini menunjukkan bahwa ibuprofen murni memiliki derajat kristalinitas yang lebih tinggi jika dibandingkan dengan dispersi padat ibuprofen. Penurunan derajat kristalinitas terbesar terjadi pada sistem dispersi padat dengan jumlah polimer dekstrosa yang lebih besar dua kali jumlah ibuprofen. Penurunan derajat kristalinitas ini

menyebabkan kelarutan ibuprofen

meningkat, hal ini disebabkan berkurangnya kekuatan ikatan antar molekulnya sehingga energi yang dibutuhkan untuk memecah kristal selama proses disolusi juga berkurang. Pola puncak dari ibuprofen dalam dispersi padat sama dengan pola pada difraktogram ibuprofen murni, hal ini menunjukkan bahwa tidak terjadi interaksi kimia antara ibuprofen dengan dekstrosa.Uji bilangan pengganti pada formulasi I dan formulasi II untuk mengetahui kesetaraan jumlah bahan aktif yang menggantikan bobot basis dalam suppositoria. Hasil perhitungan bilangan pengganti akan mempengaruhi jumlah basis yang akan ditambahkan.

BAB V PENUTUP A. Kesimpulan Penggunaan xylitol pada formula I dan dekstrosa pada formula II sebagai polimer hidrofilik dalam dispersi padat dapat meningkatkan jumlah ibuprofen yang terdisolusi dan efisiensi disolusi pada sediaan suppositoria berbasis lemak coklat secara signifikan. Peningkatan jumlah ibuprofen yang terdisolusi dan efisiensi disolusi paling besar adalah pada formula suppositoria yang mengandung dispersi padat ibuprofen : xylitol sebesar 1:2. Semakin banyak polimer xylitol yang ditambahkan maka jumlah ibuprofen yang dapat berinteraksi fisik dan mengalami perubahan struktur kristalinnya menjadi lebih banyak sehingga disolusinya akan meningkat. Penggunaan dekstrosa pada formula II sebagai polimer hidrofilik dalam dispersi padat dapat meningkatkan jumlah ibuprofen yang terdisolusi dan efisiensi disolusi pada sediaan suppositoria berbasis lemak coklat secara signifikan, Bahwa penggunaan dekstrosa sebagai polimer hidrofilik dalam dispersi padat dapat meningkatkan profil disolusi pada sediaan supositoria berbasis lemak cokelat. Formula dispersi padat yang optimum dalam meningkatkan profil disolusi adalah pada perbandingan ibuprofen dan dekstrosa sebesar 1:2.

DAFTAR PUSTAKA

Wong, T., Stang, A.S., Ganshorn, H., Hartling, L., Maconochie, I.K., Thomsen,

A.M.,

Johnson,

D.W.

Combined

and

Alternating

Paracetamol and Ibuprofen. Cochrane Database of Systematic Review, 2013. Ikatan Dokter Anak Indonesia, 2006. Konsensus Penatalaksanaan Kejang Demam, Badan Penerbit IDAI, Jakarta. Autret, E. et al. Evaluation of Ibuprofen versus Aspirin and Paracetamol on Efficacy and Comfort in Children with Fever. Eur J Clin Pharmacol, 1997; 51, pp.367-71. Handayani, S., Hadinegoro, S.R., Sastroasmoro, S. The Efficacy of Suppository Versus Oral Ibuprofen for Reducing Fever in Children, Paediatrica Indonesiana. 2005; 45 (9-10): 211-216. Lindenberg, M., Kopp, S. dan Dressman, J.B. Classification of Orally Administered Drugs on the World Health Organization Model List of Essential Medicines According to the Biopharmaceutics Classification System. European Journal of Pharmaceutics and Biopharmaceutics, 2004; 58: 265–278. Sutriyo, Rachmat, H. & Rosalina, M. Pengembangan Sediaan dengan Pelepasan Dimodifikasi Mengandung Furosemid sebagai Model Zat Aktif Menggunakan Sistem Mukoadhesif. Majalah Ilmu Kefarmasian, 2008; Vol. V, No.1, April. pp.1-8. Dhirendra, K., Lewis, S., Udupa, N. dan Atin, K. Solid Dispersions: A Review. Pak. J. Pharm. Sci, 2009; 22(2):234-246. Saffoon, N., Jhanker, Y.M. dan Huda, N.H. Dissolution Profile of Ibuprofen Solid Dispersion Prepared with Cellulosic Polymers and Sugar by Fusion Method. Stamford Journal of Pharmaceutical Sciences, 2011; 1:31-37. Marison, E. Pengaruh Formulasi Dispersi Padat Terhadap Peningkatan Disolusi Tablet Meloksikam dengan Menggunakan Manitol Sebagai

Polimer Hidrofilik. Tugas Akhir. Tidak diterbitkan, Program Studi Farmasi Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya, Malang; 2015. Khan, A., Iqbal, Z., Shah, Y., Ahmad, L., Ismail, Ullah, Z., dan Ullah, A. Enhancement

of

dissolution

rate

of

class

II

drugs

(Hydrochlorothiazide); A Comparative Study of The Two Novel Approaches; Solid Dispersion and Liqui-solid Techniques. Saudi Pharmaceutical Journal, 2015; 23:650-657. Prasad, S. et al. Solubility and Bioavailability Enhancement of Nateglinide by Solid

Dispersion

Techniques.

Journal

of

Global

Trends

in

Pharmaceutical Sciences, 2016; 7(2), pp.3102-10. Bushra, R. dan Aslam, N. An Overview of Clinical Pharmacology of Ibuprofen. Oman Medical Journal, 2010; 25 (3):155-161.13.Allen, L.V. dan Ansel, H.C. Ansel’s Pharmaceutical Dosage Forms and Drug Delivery Systems.10thed, Lippincott Williams & Wilkins, United States; 2014. Ibrahim, S.A., El-Faham, T.H.T.S.S. & Mostafa, E.M. Formulation, Release Characteristics

and

Evaluation

of

Ibuprofen

Suppositories.

International Journal of Pharmaceutics, 1990; pp.1-7.15.Jones, D. FASTtrack Pharmaceutics -Dosage Form and Design, Pharmaceutical Press: London; 2008. Amalia. Penentuan Displacement Value Allopurinol dan Meloxicam dalam Supositoria dengan Pembawa PEG 1000-4000 dan Oleum Cacao. Tugas Akhir. Tidak diterbitkan. Surabaya: Fakultas Farmasi Universitas Surabaya; 2007. Octavia, M. & Novety, O.H.A. Karakterisasi Kompleks Inklusi Ibuprofen Beta Siklodekstrin dengan Menggunakan Teknik Penggilingan Bersama. In: Prosiding Seminar Nasional & Workshop “Perkembangan Terkini Sains Farmasi & Klinik 5”; 2015. Padang.