LP CKD Etc Batu Ginjal +HD

LP CKD Etc Batu Ginjal +HD
  • LP CKD Etc Batu Ginjal +HD

  • Views 13

  • Downloads 0

  • File size 546KB
  • Author/Uploader: husnul khotimah

LAPORAN PENDAHULUAN CHRONIC KIDNEY DISEASE ETC. BATU GINJAL DAN HEMODIALISA DI RUANG HD RSSA MALANG PROVINSI JAWA TIMUR

DI SUSUN OLEH : HUSNUL KHOTIMAH NIM: 2016.01.008

PROGRAM STUDI DIPLOMA III KEPERAWATAN SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN BANYUWANGI MALANG 2019

LEMBAR PENGESAHAN LAPORAN PENDAHULUAN CHRONIC KIDNEY DISEASE ETC. BATU GINJAL DAN HEMODIALISA DI RUANG HD RS. DR. SAIFUL ANWAR MALANG PROVINSI JAWA TIMUR disahkan pada : Hari/ tanggal :

Mahasiswa

HUSNUL KHOTIMAH 2016.01.008

Pembimbing Institusi

(

Pembimbing Klinik

)

(

)

Kepala Ruangan

(

)

LAPORAN PENDAHULUAN CKD(Chronic Kidney Disease)

A. Konsep Dasar Chronic Kidney Disease ( CKD ) a.

Definisi Chronic Kidney Disease ( CKD ) Chronic Kidney Disease (CKD) merupakan gangguan fungsi ginjal yang

progresif

dan

irreversible

dimana

tubuh

gagal

untuk

mempertahankan metabolisme dan keseimbangan cairan dan elektrolit, menyebabkan uremia (retensi urea dan sampah nitrogen lain dalam darah) (Zurmeli, Bayhakki, & Utami, 2015). Chronic Kidney Disease (CKD) didefinisikan sebagai nilai laju filtrasi glomerulus (LFG) yang berada dibawah batas normal selama > 3 bulan (Muchtar, Heedy, & Widdhi, 2015). Chronic Kidney Disease (CKD) merupakan suatu perubahan fungsi ginjal yang progresif dan ireversibel ditandai oleh penurunan laju filtrasi glomerulus secara medadak dan cepat (hitungan jam – minggu) (Faruq, 2017). b.

Klasifikasi Penyakit Chronic Kidney Disease ( CKD ) Gangguan fungsi ginjal kronis dapat dikelompokkan menjadi 4 stadium menurut keparahanya, yaitu : a) Kondisi normal: Kerusakan ginjal dengan nilai GFR normal Nilai GFR 60 – 89 ml/menit/1,73 m2. b) Stadium 1: Kerusakan ginjal ringan dengan penurunan nilai GFR, belum terasa gejala yang mengganggu Ginjal berfungsi 60-89%. Nilai GFR 60-89 ml/menit/1,73 m2. c) Stadium 2: Kerusakan sedang, masih bisa dipertahankan. Ginjal berfungsi 30-59%. Nilai GFR 30-5 ml/menit/1,73 m2. d) Stadium 3: kerusakan berat sudah tingkat membahayakan. Ginjal berfungsi 15-29%. Nilai GFR 15-29 ml/menit/1,73 m2. e) Stadium 4: Kerusakan parah, harus cuci ginjal. Fungsi ginjal kurang dari 15% Nilai GFR kurang dari 15 ml/menit/1,73 m2.

c.

Etiologi

Gagal Ginjal Chronic dapat disebabkan karena berbagai penyakit antara lain : penyakit diabetes melitus, hipertensi, glomeluronefritis, gangguan kongenital dan herediter, nefropati toksik, nefropati obstruktif dan batu saluran kencing. 1)

Pre Renal a) Diabetes Melitus Diabetes melitus merupakan suatau penyakit kelainan metabolik dengan karakteristik hipeglikemia terjadi karena kelainan sekresi insulin dan gangguan metabolisme karbohidra, lemak dan protein. b) Hipertensi Hipertensi merupakan salah satu faktor pemburuk fungsi ginjal disamping faktor lain seperti proteinuria, jenis penyakit ginjal, hiperglikemi dan faktor lain. Tingginya tekanan darah membuat pembuluh darah dalam ginjal tertekan dan akhirnya menyebabkan pembuluh darah rusak. Akibatnya fungsi ginjal menurun hingga

mengalami gagal ginjal. c) Zat Toksik 2) Renal a) Glomeluronefritis Glomerulonefritis (GN) adalah penyakit parenkim ginjal progesif yang sering berakhir dengan gagal ginjal kronik, disebabkan oleh respon imunologik. b) Gangguan kongenital dan herediter Misalnya penyakit ginjal polikistik, asidosis tubulus ginjal. c) Nefropati toksik Misalnya : penyalahgunaan analgesik, nefropati timah. 3) Post Renal a) Nefropati obstruktif Misalnya : traktus urinarius bagian atas (adanya batu, neoplasma fibrosis

retroperitoneal,

traktus

urinarius),

bagian

bawah

(hipertrofi prostat, struktur uretra, anomalycongenital, leher vesika urinaria dan uretra). (Riyadi, 2015) d.

Patofisiologi Patofisiologi Chronic Kidney Disease (CKD) beragam, bergantung pada proses penyebab penyakit. Proses patologi umum yang menyebabkan kerusakan nefron. Tanpa melihat penyebab awal, glomerulosklerosis dan

inflamasi interstisial dan fibrosis adalah ciri khas CKD dan menyebabkan penurunan fungsi ginjal (Sylvia, 2016). Pada tahap awal, saat nefron hilang , nefron fungsional yang masih ada mengalami hipertrofi. Aliran kapiler glomerulus dan tekanan meningkat dalam nefron ini dan lebih banyak pertikel zat terlarut disaring untuk mengkompensasi massa ginjal yang hilang. Kebutuhan yang meningkat ini menyebabkan nefron yang masih ada mengalami sklerosis (jaringan parut) glomerulus, menimbulkan kerusakan nefron pada akhirnya. Proteinuria akibat kerusakan glomerulus di duga menjadi penyebab cedera tubulus. Proses hilangnya nefron yang kontiunu ini terus berlangsung meskipun setelah proses penyakit awal telah teratasi (Fauci et al., 2016). Perjalanan Chronic Kidney Disease (CKD) beragam, berkembang selama periodebulanan hingga tahunan. Pada tahap awal, sering kali disebut penurunan cadangan ginjal, nefron yang tidak terkena mengkompensasi nefron yang hilang. GFR sedikit turun dan pada pasien asimtomatik disertai BUN dan kadar kreatin serum normal. Ketika penyakit berkembang dan GFR turun lebih lanjut, hipertensi dan beberapa manifestasi insufisiensi ginjal dapat muncul. Serangan berikutnya pada ginjal di tahap ini (misalnya infeksi, dehidrasi atau obstruksi saluran kemih) dapat menurunkan fungsi dan dapat memicu awitan gagal ginjal atau uremia nyata lebih lanjut. Kadar serum kratinin dan BUN naik secara tajam, pasien menjadi Oliguria, dan manifestasi uremia muncul. Pada End Stage Renal Disease (ESRD), tahap akhir CKD, GFR kurang dari 10% normal dan terapi penggantian ginjal diperlukan untuk mempertahankan hidup (LeMone, 2016). e.

Perhitungan Glomelurus Filtration Rate (GFR) GFR untuk laki – laki :

GFR =

GFR untuk perempuan :

GFR

f.

=

0,85

Manifestasi Klinis Manifestasi yang terjadi pada CKD antara lain terjadi pada system kardiovaskuler, dermatologi, gastro intestinal, neurologis, pulmoner, muskuloskletal, dan psiko-sosial menurut (Chang, dkk 2013) diantaranya adalah : 1) Kardiovaskuler : a) Hipertensi Tingginya tekanan darah membuat pembuluh darah dalam ginjal tertekan

dan

akhirnya

menyebabkan

pembuluh

darah

rusak.Akibatnya fungsi ginjal menurun hingga mengalami gagal ginjal. Hipertensi diakibatkan oleh retensi cairan dan natrium dari b)

aktivitas sistem renin angiotensin aldosteron. Gagal Jantung Kongestif Kegagalan jantung dalam memompa pasokan darah yang dibutuhkan tubuh. Hal ini dikarenakan terjadi kelainan pada otot-

otot jantung sehingga jantung tidak bisa bekerja secara normal. 2) Dermatologi Kulit pasien berubah menjadi putih seakan-akan berlilin diakibatkan penimbunan pigmen urine dan anemia. Kulit menjadi kering dan bersisik. Rambut menjadi rapuh dan berubah warna. Pada penderita uremia sering mengalami pruritus. 3) Gastrointestinal Gangguan gastrointestinal berkaitan

dengan

malnutrisi

yang

menyebabkan meningkatnya morbiditas dan mortalitas pasien gagal ginjal. ejala gastrointestinal yang paling sering ditemukan pada pasien gagal ginjal adalah nausea, vomitus, nyeri abdomen, diare, dan konstipasi. 4) Neuromuskuler Gagal ginjal menyebabkan peningkatan kadar fosfat darah, yang mempengaruhi fungsi saraf perifer serta fungsi neuromuskular yang

disebabkan oleh nyeri otot, otot spasititas,kebingungan serta terjadinya perubahan tingkat kesadaran, tidak mampu berkonsentrasi, kedutan otot sampai kejang. 5) Pulmoner seperti adanya sputum kental dan liat, pernafasan dangkal, kusmol, sampai terjadinya edema pulmonal. 6) Muskuloskletal Gagal ginjal melemahkan tulang karena kondisi yang disebut penyakit ginjal kronis gangguan mineral dan tulang. Gagal ginjal dapat menghilangkan keseimbangan kalsium dan fosfor dalam darah, menyebabkan kelenjar paratiroid memproduksi terlalu banyak hormon paratiroid. Tingginya tingkat hormon paratiroid menarik kalsium dari tulang ke dalam darah, membuat tulang tidak memiliki kalsium yang cukup. 7) Psiko-sosial Terjadinya penurunan tingkat kepercayaan diri sampai pada harga diri rendah (HDR), ansietas pada penyakit dan kematian. 8) Gangguan Keseimbangan Asam Basa Kondisi ketika kadar asam dan basa dalam darah tidak seimbang. Kondisi ini dapat mengganggu kerja ginjal. Gangguan keseimbangan asam basa, disebabkan oleh kondisi yang berbeda. Pada gagal ginjal terjadi asidosis metabolik dan alkalosis metabolik dimana asidosis metabolik terjadi ketika tubuh menghasilkan terlalu banyak asam, atau saat ginjal hanya mampu membuang sedikit asam melalui urine. 9) Ketidakseimbangan Elektrolit Gangguan elektrolit adalah kondisi saat kadar elektrolit di dalam tubuh seseorang menjadi tidak seimbang, bisa terlalu tinggi atau terlalu rendah. Ketidakseimbangan kadar elektrolit bisa menimbulkan berbagai gangguan pada fungsi organ di dalam tubuh seperti gagal ginjal. 10) Penurunan Hormon Eriprotein Eritropoietin merupakan suatu glikoprotein hormon yang dapat merangsang proliferasi dan diferensiasi sel-sel progenitor darah merah. Eritropoietin digunakan pada kondisi anemia akibat penyakit gagal ginjal kronik, serta anemia. Mekanisme kerja eritropoietin adalah

dengan cara mengikat reseptor eritropoietin pada permukaan sel darah merah sehingga menyebabkan proses diferensiasi dan proliferasi sel erythroid. Kadar eritropoietin di dalam darah cenderung rendah pada kondisi anemia.

h.

Pemeriksaan Diagnostik 1) Laboratorium : a) Laju Endap Darah : Meninggi yang diperberat oleh adanya anemia, dan hipoalbuminemia. Anemia normositer normokrom, dan jumlah b) c) d) e) f) g)

retikulosit yang rendah. Gas Darah Arteri : pH kurang dari 7,2 (normal 7,38-7,44) Kalium : meningkat (normal 3,55-5,55 mEq/L) Magnesium/fosfat : meningkat (normal 1,0-2,5 mg,dl) Kalsium : menurun (normal 9-11 mg/dl) Protein (khususnya albumin) menurun (normal 4-5,2 g/dl) Ureum dan kreatinin : Meninggi, biasanya perbandingan antara

ureum dan kreatinin kurang lebih 20 : 1. h) Kadar BUN (Blood Urea Nitrogen) meningkat. i) Nilai normal : Laki-laki: 97-137 mL/menit/1,73 m3 atau 0,93-1,32 mL/detik/m2 Wanita : 88-128 mL/menit/1,73 m3 atau 0,85-1,23 mL/detik/m2 j) Hiponatremi : Umumnya karena kelebihan cairan. k) Phosphate alkaline : meninggi akibat gangguan metabolisme tulang, terutama isoenzim fosfatase lindi tulang. l) Radiologi : Foto polos abdomen untuk menilai bentuk dan besar ginjal ( adanya batu atau adanya suatu obstruksi ). Dehidrasi karena proses diagnostikakan memperburuk keadaan ginjal, oleh sebab itu penderita diharapkan tidak puasa. m)Intra Vena Pielografi (IVP) Untuk menilai sistem pelviokalisisdan ureter. n) USG (Ultrasonografi) :Untuk menilai besar dan bentuk ginjal, tebal parenkim

ginjal,

kepadatan parenkim ginjal, anatomi sistem

pelviokalises, ureter proksimal, kandung kemih dan prostat.

o) EKG (Elektrokardiografi) :Untuk melihat kemungkinan hipertropi ventrikel kiri, tanda-tanda perikarditis, aritmia, gangguan elektrolit (hiperkalemia). (Johnson, 2010) i.

Penatalaksanaan Penatalaksanan penyakit Chronic Kidney Disease (CKD) antara lain : a) Tindakan konservatif, untuk meredakan atau memperlambat gangguan fungsi ginjal progresif. 1) Pengaturan diet protein, kalium, natrium dan cairan. 2) Pembatasan protein, tidak hanya mengurangi kadar Blood Urea Nitrogen (BUN), tetapi juga mengurangi asupan kalium dan fosfat, serta mengurangi produksi ion hidrogen yang berasal dari protein. Jumlah kebutuhan protein biasanya dilonggarkan sampai 60-80 g/hari, apabila penderita mendapatkan pengobatan dialisis teratur. Rasional: Untuk membatasi produk akhir metabolisme protein yang tidak dapat di ekskresi oleh ginjal. Menurunkan kadar ureum dan kreatinin dalam darah, mencegah/mengurangi penimbunan garam/air dalam tubuh. 3) Diet rendah kalium Hiperkalemia biasanya merupakan masalah pada gagal ginjal lanjut. Asupan kalium dikurangi, diet yang dianjurkan adalah 40-80 mEq/hari. 4) Diet rendah natrium Diet Na yang dianjurkan adalah 40-90 mEq/hari (1-2 g Na). Asupan natrium yang terlalu longgar dapat mengakibatkan retensi cairan, edema perifer, edema paru, hipertensi dan gagal jantung kongestif. 5) Pengaturan cairan Merupakan tindakan untuk mengobservasi intake dan output cairan pada klien. Cairan yang diminum penderita gagal ginjal tahap lanjut harus diawasi dengan seksama.Parameter yang tepat untuk diikuti selain data asupan dan pengeluaran cairan yang dicatat dengan tepat adalah pengukuran berat badan harian.Asupan yang bebas dapat menyebabkan

beban

sirkulasi

menjadi

berlebihan

dan

edema.Sedangkan asupan yang terlalu rendah, mengakibatkan

dehidrasi, hipotensi dan gangguan fungsi ginjal. ) (Herdin et al, 2010). b) Hemodialisa dan dialisis 1) Hemodialisis merupakan suatu proses yang digunakanpada pasien dalam keadaan sakit akut dan memerlukan terapi dialisis jangka pendek (beberapa hari hingga beberapa minggu) atau pasien dengan penyakit ginjal stadium akhir atau end stage renal disease (ESRD) yang memerlukan terapi jangka panjang atau permanen. Tujuan hemodialisisa dalah untuk mengeluarkan zat-zat nitrogen yang toksik dari dalam darah dan mengeluarkan air yang berlebihan 2) Dialisis merupakan suatu proses yang digunakan

untuk

mengeluarkan cairan dan produk limbah dari dalam tubuh ketika ginjal tidak mampu melaksanakan proses tersebut. Bagi penderita gagal ginjal kronik, hemodialisis akan mencegah kematian. Namun demikian, hemodialisistidak menyembuhkan atau memulihkan penyakit ginjal dan tidak mampu mengimbangi hilangnya aktivitas metabolik atau endokrin yang dilaksanakan ginjal dan dampak dari j.

gagal ginjal serta terapinya terhadap kualitas hidup pasien. Komplikasi Suwira (2012) yang melaporkan penelitian tahun 2008 oleh Smeltzer kompikasi pada penyakit Chronic Kidney Disease (CKD) antara lain adalah: 1) Hiperkalemi akibat penurunan sekresi asidosis metabolik, katabolisme, dan masukan diit berlebih. 2) Prikarditis, efusi perikardial, dan tamponad jantung akibat retensi produk sampah uremik dan dialisis yang tidak adekuat. 3) Hipertensi akibat retensi cairan dan natrium serta malfungsi sistem renin angiotensin aldosteron. 4) Anemia akibat penurunan eritropoitin. 5) Penyakit tulang serta klasifikasi metabolik akibat retensi fosfat, kadar kalium serum yang rendah, metabolisme kadar vitamin D yang abnormal dan peningkatan kadar alumunium akibat peningkatan nitrogen dan ion anorganik. 6) Uremia akibat peningkatan kadam ureum dalam tubuh. 7) Gagal jantung akibat peningkatan kerja jantung yang berlebih.

8) Malnutrisi karena anoreksia, mual dan muntah. 9) Hiperparatiroid, hiperkalemia, dan hiperfosfatemia. B. Konsep Asuhan Keperawatan Chronic Kidney Disease ( CKD ) a.

Pengkajian Pengkajian merupakan dasar utama proses perawatan yang akan membantu dalam penentuan status kesehatan dan pola pertahanan klien, mengidentifikasi kekuatan dan kebutuhan klien serta merumuskan diagnosa keperawatan (Darma, 2015). 1. Identitas klien Penderita Chronic Kidney Disease (CKD) kebanyakan berusia diantara 30 tahun, namun ada juga yang mengalami Chronic Kidney Disease (CKD) dibawah umur tersebut dan kebanyakan terjadi pada laki-laki yang diakibatkan oleh berbagai hal seperti proses pengobatan, penggunaan obat-obatan dan sebagainya. Chronic Kidney Disease (CKD) dapat terjadi pada siapapun, pekerjaan dan lingkungan juga mempunyai peranan penting sebagai pemicu kejadian Chronic Kidney Disease (CKD), karena kebiasaan kerja dengan duduk / berdiri yang terlalu lama dan lingkungan yang tidak menyediakan cukup air minum/mengandung banyak senyawa/zat logam dan pola makan yang tidak sehat. 2. Keluhan utama Keluhan utama yang didapat pada pasien Chronic Kidney Disease (CKD) biasanya bervariasi, mulai dari output sedikit sampai tidak dapat buang air kecil, bengkak pada ekstremitas, gelisah sampai penurunan kesadaran, tidak selera makan (Anoreksia), mual muntah, mulut terasa kering, rasa lelah, nafas berbau (ureum) dan gatal pada kulit. 3. Riwayat Penyakit sekarang Pengkajian ditujukan sesuai dengan predisposisi etiologi penyakit terutama pada prerenal dan renal. Secara ringkas perawat menanyakan berapa lama keluhan penurunan jumlah urine output dan apakah penurunan jumlah urine output tersebut ada hubungannya dengan predisposisi penyebab, seperti pasca perdarahan setelah melahirkan,

diare, muntah berat, luka bakar meluas, cedera luka bakar, setelah mengalami episode serangan infark, adanya riwayat minum obat Non Steroidal

Anti-inflammatory

Drugs (NSAID)

atau

pemakaian

antibiotik, adanya riwayat pemasangan tranfusi darah, serta adanya riwayat trauma langsung pada ginjal. 4. Riwayat Penyakit Dahulu Kaji adanya riwayat penyakit yang diderita pasien sebelum Chronic Kidney Disease (CKD) seperti batu saluran kemih, infeksi sistem perkemihan yang berulang, penyakit diabetes melitus dan penyakit hipertensi pada masa sebelumnya yang menjadi predisposisi penyebab pasca renal. Penting untuk dikaji tentang riwayat pemakaian obat-obatan masa lalu dan adanya riwayat alergi terhadap jenis obat dan dokumentasikan. 5. Riwayat Penyakit Keluarga Mengkaji ada atau tidaknya salah satu keluarga yang mengalami penyakit yang sama. Bagaimana pola hidup yang biasa diterapkan dalam keluarga, ada tidaknya riwayat penyakit infeksi, hereditas dan penyakit menular pada keluarga. 6. Riwayat Psikososial Adanya kelemahan fisik, penurunan urine output dan prognosis penyakit yang berat akan memberikan dampak rasa cemas dan koping yang maladaptif pada klien, ditemukanya tingkat stress yang tinggi serta emosi yang labil. a. Pola Kebiasaan Sehari – hari a. Pola Nutrisi Kaji asupan nurisi dalam mengonsumsi tinggi garam, protein, natrium, kalium, lemak, kolestrol serta cairan yang berlebih. Gejalanya adalah pasien tampak lemah, terdapat penurunan BB dalam kurun waktu 6 bulan disertai anoreksia, mual, muntah, asupan nutrisi dan air naik atau turun. b. Pola Eliminasi Kaji pengeluaran urin dan feses, kaji warna dan volume haluran serta ketidakseimbangan antara input dan output. Biasanya haluran urin menurun volume urine kurang dari 400 ml/24jam dengan warna urin kuning kemerahan, kecokelatan atau mirip seperti minuman bersoda, hal ini bisa disebabkan karena adanya

kemungkinan darah yang tercampur dari sebuah infeksi. Pada pasien Chronic Kidney Disease (CKD) juga mengalami gangguan BAB konstipasi dengan konsistensi keras atau diare dengan konsistensi cair berbau khas feses. c. Pola Kebersihan Diri Kaji kebersihan pada pasien mandi (frekuensi, cara, alat mandi, kesulitan, mandiri/dibantu) cuci rambut, gunting kuku, gosok gigi dan ganti baju. Pada pasien Chronic Kidney Disease (CKD) tidak mengalami masalah dalam kebersihan dirinya, pasien bisa mandi meskipun adanya keterbatasan gerak, rambut tampak bersih, gigi tampak bersih dan pasien mengganti baju 2 kali dalam sehari. d. Pola Aktivitas, latihan dan Bermain Kaji kegiatan aktivitas pasien sehari-hari apakah pasien mengalami keletihan, kelemahan, keterbatasan gerak dengan aktivitasnya dan bekerja secara berat atau ringan. Biasanya pada pasien Chronic Kidney Disease (CKD) yang mengalami edem karena kelebihan volume cairan, mengalami keterbatasan dalam mobilitas sehingga aktivitasnya dibantu oleh orang lain. e. Pola Istirahat dan Tidur Kaji istirahat pasien pada siang hari berapa jam sekali dan kaji tidur pasien malam hari dengan nyenyak atau tidak, selama berapa jam dan bangun pada pukul berapa. Pada pasien Chronic Kidney Disease (CKD) sering mengalami gangguan istirahatnya terutama pada malam hari karena nyeri pada kaki, merasa tidak nyaman atau gelisah. Pasien sulit untuk memulai tidur dan sering terbangun durasinya kurang dari 5 jam. f. Pola Persepsi sensori dan kognitif Rasa panas pada telapak kaki, perubahan tingkah laku, kedutan otot, perubahan tingkat kesadaran, nyeri panggul, sakit kepala, kram/nyeri kaki (memburuk pada malam hari), perilaku berhatihati/distraksi, gelisah, penglihatan kabur, kejang, sindrom, rasa kebas pada telapak kaki, kelemahan khusussnya ekstremitas bawah (neuropati perifer), gangguan status mental. g. Pola Reproduksi dan seksual

Kaji

adanya

ada

tidaknya

penurunan

libido,

amonera,

infertilitas, impotensi dan atropi. (Carpenito & Bauldof, 2011) b. Pemeriksaan fisik 1. Keadaan Umum a. Keadaan umum : pasien tampak lemah, dan ekspresi wajah biasanya gelisah. b. Tingkat kesadaran : tingkat kesadaran pasien biasanya kompos mentis sampai koma. c. Tanda – tanda vital : tekanan darah mengalami peningkatan sistolik lebih dari 160 mmHg dan diastolik lebih dari 90 mmHg. Respiration rate lebih dari 20 x/menit, suhu badan relative normal 36,6-37,5 °C, denyut nadi teraba takikardi dalam kisaran 90-120 x/menit, skala nyeri 3-6 (Skala nyeri ringan sampai skala nyeri berat). 2. Pemeriksaan Head To Toe a. Kepala dan Rambut Inspeksi :

Dilihat

bentuk

kepala,

kesimetrisan

kepala,

penyebaran rambut merata atau tidak, kebersihan rambut, rambut mudah rontok atau tidak, terdapat lesi atau tidak dikulit rambut Palpasi :

Tekan apakah terdapat benjolan atau tidak, terdapat odem dikepala atau tidak, adanya nyeri tekan atau tidak.

b. Hidung Inspeksi :

Bentuk hidung simetris kanan dan kiri, septum nasi tepat ditengah hidung, penciuman kanan dan kiri normal atau tidak, terdapat lesi atau tidak.

Palpasi :

Apakah terdapat benjolan atau tidak, adanya odem dan adanya nyeri tekan atau tidak.

c. Telinga Inspeksi :

Bentuk telinga simetris atau tidak , ada lesi atau tidak, kebersihan telinga kurang atau tidak dan pendengaran kanan dan kiri normal atau tidak.

Palpasi :

Ada nyeri tekan atau tidak, terdapat benjolan tau tidak, ada odem atau tidak.

d. Mata Inspeksi :

konjungtiva anemis atau tidak normalnya merah muda, sclera bening atau tidak normalnya putih, pupil terdapat kejulingan mata kanan dan kiri atau tidak.

Palpasi :

Terdapat nyeri tekan disekitar mata atau tidak, terdapat benjolan atau tidak, terdapat odem atau tidak.

e. Mulut, gigi, lidah, tonsil dan pharing Mulut Inspeksi :

Mukosa bibir terdapat sianosis atau tidak, bibir terdapat lesi atau tidak dan kebersihan mulut.

Palpasi :

Tidak terdapat benjolan dan nyeri tekan.

Gigi Inspeksi :

Terdapat karies gigi atau tidak, gigi lengkap atau tidak.

Lidah Inspeksi :

Lidah kotor atau tidak, terdapat lesi dilidah atau tidak.

Tonsil dan pharing : tidak ada pembengkakan pada tonsil, dipharing terdapat gangguan menelan atau tidak.

f. Leher dan Tenggorakan Inspeksi :

Tidak terdapat lesi, warna leher sama dengan area sekitarnya, biasanya terjadi peningkatan kelenjar tiroid, dan pembesaran tiroid pada leher.

Palpasi :

tidak adanya nyeri tekan, tidak ada pembengkakan pada kelenjar tiroid.

g. Dada dan Thorax Inspeksi :

Bentuk dada anterior dan posterior simetris atau tidak normalnya chest, kaji frekuensi pernafasan dan ritme pernafasan, biasanya pernafasan dipsnea sampai pada edema pulmonal, tampak penggunaan otot bantu pernapasan.

Palpasi :

Adanya nyeri tekan atau tidak, vocal fremitus getaran terapa di ICS 5 mid clavikula sinistra.

Perkusi :

Paru dexstra ics I – VI sonor, ics VI – X pekak, Paru sinistra ics I – II sonor, ics II – V redup, ics VI – VII sonor, ics VIII – X timpani.

Auskultasi : Kaji

adanya

suara

tambahan

seperti

ronki,

whezing, crackles normalnya suara nafas vesikuler. h. Jantung Inspeksi :

Ictus cordis teraba di ICS 5 Mid clavikula sinistra.

Palpasi :

Palpasi kuat dan ictus cordis teraba di ICS 5 Mid clavikula sinistra terdapat adanya nyeri tekan atau tidak.

Perkusi :

Batas ics 3 sinistra, batas bawah ics 5 sinistra, batas kiri midclavikula sinistra, batas kanan linea sternalis dextra, biasanya terjadi pembesaran jantung

sehingga terjadi pelebaran pembuluh

darah jantung pada ics 3 suara terdengar redup.

Auskultasi : Terdengar bunyi jantung I dan II tunggal dan terdengar suara mur- mur. i. Abdomen Inspeksi :

Amati bentuk abdomen pada pasien Chronic Kidney Disease (CKD), biasanya perut tampak adanya asites, amati warna kulit, adanya lesi atau tidak.

Auskultasi : Bising usus normalnya 5-30 kali/menit. Jika kurang dari itu atau tidak ada sama sekali kemungkinan ada peristaltik ileus, konstipasi, peritonitis atau obstruksi, biasanya pada pasien Chronic Kidney Disease (CKD) terjadi penurunan peristaltik usus. Palpasi :

Terdapat nyeri tekan atau tidak, terdapat benjolan atau tidak, terdapat odem atau tidak.

Perkusi :

Kuadran I pekak (hepar), kuadran II timpani (gaster), kuadran III (apendiks), kuadran IV timpani (usus).

j. Ekstremitas Inspeksi :

Amati warana kulit, biasanya kulit tampak kering dan bersisik mengkilat/uremia, terdpat odem pada ekstremitas tubuh seperti wajah, tangan dan kaki.

Palpasi :

Pada pasien gagal ginjal kronik biasanya terdapat odem di daerah ekstremitas seperi kaki, tangan terlihat dari pemeriksaan piting edem >2 detik, drajat pitting odem 1-3 mm, CRT (capilary Refil Time) kembali lebih dari >2 detik, akral teraba dingin.

Kekuatan

otot

biasanya

kelemahan fisik, aktifitas dibantu. Nilai 0 : Bila tidak terlihat kontraksi sama sekali.

mengalami

Nilai 1 : Bila terlihat kontraksi dan terapi tidak ada gerakan pada sendi. Nilai 2 : Bila ada gerakan pada sendi tetapi tidak bisa melawan gravitasi. Nilai 3 : Bila dapat melawan grafitasi tetapi tidak dapat melawan tekanan pemeriksaan. Nilai 4 : Bila dapat melawan tahan pemeriksaan tetapi kekuatanya berkurang. Nilai 5 : Bila dapat melawan tekanan pemeriksaan dengan keluatan penuh. k. Genetalia dan anus Inspeksi :

Amati kebersihan genetalia, terdapat lesi atau tidak disekitar genetalia, amati adanya edem pada genetalia atau tidak, amati adanya cairan yang keluar dari sekitar anus dan tampak adanya lesi atau tidak di bagian anus.

Palpasi :

adanya nyeri tekan atau tidak, adanya benjolan atau tidak dan adanya odem atau tidak.

b.

Diagnosa Keperawatan Diagnosa keperawatan yang muncul pada pasien Chronic Kidney Disease (CKD) dengan kelebihan volume cairan sebagai berikut : 1.

Ketidakefektifan pola nafas berhubungan dengan

berhubungan dengan hiperventilasi. 2. Gangguan pertukaran gas berhubungan dengan edema paru 3. 4.

Ketidak efektifan perfusi jaringan perifer berhubungan dengan Hb menurun, suplai oksigen ke jaringan menurun. Kelebihan Volume Cairan berhubungan

dengan

Gangguan mekanisme regulasi. 5. Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan 6.

tubuh berhubungan dengan anoreksia, mual, muntah. Kerusakan Intregritas kulit berhubungan

7.

akumulasi ureum dalam kulit. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan keletihan, kelemahan otot, anemia.

dengan

8.

Gangguan rasa nyama berhubungan dengan gejala terhadap penyakit ( Nanda, 2015 -2017 )

c.

Rencana Keperawatan 1.

Ketidakefektifan pola nafas berhubungan dengan berhubungan dengan hiperventilasi. Tujuan : Setelah dilakukan asuhan keperawatan 1 x 24 jam diharapkan pola nafas kembali efektif. NOC (Kriteria Hsil)

1. Status pernafasan : Ventilasi a. Frekuensi pernafasan (4-5 ) b. Irama pernafasan ( 4-5 ) c. Kedalaman inspirasi ( 4-5 ) d. Suara perkusi nafas ( 4-5 ) e. Suara nafas tambahan (4-5 ) f. Retraksi dinding dada (4-5 )

2.

NIC (Intervensi dan Aktivitas) 1.

Manajement jalan nafas a. Posisikan pasien untuk memaksimalkan ventilasi b. Auskultasi suara nafas, catat area yang ventilasinya menurun atau tidak ada adanya suara tambahan c. Posisikan untuk meringsnksn sesak nafas d. Monitor status pernafasan dan oksigenasi, sebagaimana mestinya

Gangguan pertukaran gas berhubungan dengan edema paru Tujuan : setelah dilakukan asuhan keperawatan 2 x 24 jam diharapkan tidak terjadi gangguan pertukaran gas.

NOC (Kriteria Hasil) 1. Respon ventilasi mekanik : dewasa a. Tingkat pernapasan (4-5) b. irama pernapasan (4-5) c. Kedalaman inspirasi (4-5) d. Saturasi oksigen (4-5) Skala target outcome 1. Sanggat terganggu 2. Banyak terganggu 3. Cukup terganggu 4. Sedikit tergnggu 5. Tidak terganggu

3.

NIC (Intervensi dan aktivitas) 1. Terapi Oksigen a. Bersihkan mulut, hidung, dan sekresi trakea denagn cepat. b. Batasi (aktivitas) merokok. c. Pertahankan kepatenan jalan nafas. d. Berikan oksigen tambahan seperti yang diperintahkan . e. Monitor aliran oksigen

Ketidakefektifan perfusi jaringan perifer berhubungan dengan Hb menurun, suplai oksigen ke jaringan menurun. Tujuan : Setelah dilakukan asuhan keperawatan selama 1×24 jam diharapkan sirkulasi perifer tetap normal. NOC (Kriteria Hasil)

NIC (Intervensi dan aktivitas)

1.

Perfusi jaringan a. Pengisiian kapiler jari (4-5) b. Pengisian kapiler jari kaki (4-5) c. Suhu kulit ujung kaki dan tangan (4-5) d. Kekuatan denyut nadi (4-5)

Skala target outcome 1 Deviasi berat dari kisaran normal 2 Deviasi yang cukup besar dari kisaran normal 3 Deviasi sedang dari kisaran normal 4 Deviasiringan dari kisaran normal 5 Tidak ada deviasi dari kisaran normal

4.

1. Manajemen Sensasi Perifer a. Monitor tekanan darah, nadi, suhu, dan status pernapasan. b. Monitor tekan darah, denyut nadi, dan pernapasansebelum, selama, dan setelah beraktivitas dengan tepat. c. Catat gaya dan fluktuasi yang luas pada tekanan darah. d. Monitor sianosis sentral dan perifer

Kelebihan Volume Cairan berhubungan dengan gangguan mekanisme regulasi. a) Tujuan : Setelah dilakukan asuhan keperawatan 2 x 24 jam mempertahankan masukan cairan yang adekuat.

NOC (Kriteria Hasil) 1.Keseimbangan cairan a. Tekanan darah (4 -5) b. keseimbangan intake dan output dalam 24 jam (4 – 5) c. Berat badan stabil (4 – 5) d. Kelembapan kelembapan mukosan (4-5) Skala target outcome

1.

Sangat terganggu

2.

Banyak terganggu

3.

Cukup terganggu

4.

Sedikit terganggu

5.

Tidak terganggu

NIC (Intervensi dan aktivitas) 1.Manajement cairan/ elektrolit a. Timbang berat badan harian b. Berikan cairan yang sesuai c. Tingkatkan intake/asupan cairan per oral ( misalnya, memberikan cairan oral sesuai prefensi pasien, tempatkan cairan yang mudah dijangkau, dan menyediakan air segar ) yang sesuai d. Minimalkan asupan makanan dan minuman dengan diuretik atau pencahar e. Jaga pencatatan intake/output yang akurat f. Monitor tandatanda vital g. Monitor respon pasien terhadap terapi elektrolit yang

diresepkan

5. Ketidakseimbangan

nutrisi

kurang

dari

kebutuhan

tubuh

berhubungan dengan anoreksia, mual, muntah. Tujuan : Setelah dilakukan asuhan keperawatan selama 3 x 24 jam diharapkan kebutuhan nutrisi terpenuhi. 1.

NOC ( Kriteria Hsil ) Status nutrisi : makanan dan cairan a. b. c.

6.

Asupan makanan secara oral (4-5) Asupan cairan secara oral (4-5) Asupan cairan secara intravena (4-5)

NIC ( Intervensi dan Aktivitas ) 1.Manajement nutrisi a. Identifikasi ( adanya ) alergi atau intoleransi makanan yang dimiliki pasien b. Berikan pilihan makanan sambil menawarkan bimbingan terhadap pilihan ( makanan ) yang lebih sehat, jika diperlukan c. Ciptakan lingkungan yang optimal pada saat mengkonsumsi makanan ( misalnya : bersih, berventilasi, santaidan bebas dari bau yang menyengat ) d. Lakukan atau bantu pasien terkait dengan perawatan mulut sebelum makan e. Monitor kalori dan asupan makanan f. Monitor kecenderungan terjadinya penurunan dan kenaikan berat badan

Kerusakan intregritas kulit berhubungan dengan akumulasi ureum dalam kulit Tujuan : setelah dilakukan asuhan keperawatan 3 x 24 jam diharapkan kerusakan intregritas kulit dapat teratasi.

1. a. b. c. d.

NOC (Kriteria Hasil) Intregritas jaringan : kulit dan mukosa Lesi pada kulit (4-5) Lesi mukosa membran (4-5) Pengelupasan kuli (4-5) Jaringan parut (4-5)

Skala target outcome 1. Berat 2. Cukup berat 3. Sedang 4. Ringan 5. Tidak ada

NIC (Intervensi dan Aktivitas) 1. manajement pruritas a. Tentukan penyebab dari (terjadinya) pruritus misalnya : dermatitis kontak, kelainan sistemik, dan obat – obatan b. Lakukan pemeriksaan fisik (terjadinya) kerusakan kulit c. Berikan krim dan losion yang mengandung obat, sesuai dengan kebutuhan

7.

Intoleransi aktivitas berhubungan dengan keletihan, kelemahan otot, anemia. Tujuan : Setelah dilakukan asuhan keperawatan 3 x 24 jam aktivitas dapat kembali normal.

1. a. b. c. d. e.

NOC ( Kriteria Hasil ) Toleransi terhadap aktivitas Saturasi oksigen ketika beraktivitas (4-5) Frekuensi nadi ketika beraktivitas (4-5) Frekuensi pernafasan ketika beraktivitas (4-5) Kekuatan tubuh bagian atas (45) Kekuatan tubuh bagian bawah (4-5)

Skala target outcome 1. Sangat terganggu 2. Banyak terganggu 3. Cukup terganggu 4. Sedikit terganggu Tidak terganggu

1.

NIC ( Intervensi dan Aktivitas ) Terapi aktivitas a.Pertimbangakan kemampauan klien dalam berpartisipasi melalui aktivitas spesifik b. Berkolaborasi dengan ahli terapi fisik, okupasi dan terapis rekreasioanl dalam perencanaan dan pemantuan program aktivitas, jika memang perlu c.Bantu pasien untuk mengeplorasi tujuan personal dari aktivitas – aktivitas yang konsisten dari kemampauan fisik , fisiologis dan sosial d. Bantu klien dan keluarga untuk mengidentifikasi kelemahan dalam level ktivitas tertentu

8. Gangguan rasa nyaman b.d gejala terkait penyakit NOC ( Kriteria Hasil ) Status kenyamanan (2008) Indicator: 1. Kesejahteraan fisik (1-5) 2. Control terhadap gejala (1-5) 3. Lingkungan fisik (1-5) Keterangan: 1. Deviasi berat dari kisaran normal 2. Deviasi yang cukup besar dari kisaran normal 3. Deviasi sedang dari kisaran normal 4. Deviasi ringan dari kisaran normal 5. Tidak ada deviasi dari kisaran normal

NIC ( Intervensi dan Aktivitas ) Manajemen lingkungan: kenyamanan (6482) 1. Tentukan tujuan pasien dan keluarga dalam mengelola lingkungan dan kenyamanan yang optimal 2. Ciptakan lingkungan yang tenang dan mendukung 3. Hindari gangguan yang tidak perlu dan berikan untuk waktu istirahat 4. Posisikan pasien untuk memfalisitasi kenyamanan spt. Imobilisasi bagian tubuh yang nyeri.

d. Implementasi Implementasi adalah pengelolaan dan perwujudan dari rencana keperawatan yang telah disusun pada tahan perencanaan (Asmadi, 2013). Implementasi merupakan tahap proses keperawatan dimana perawat

memberikan intervensi keperawatan secara langsung dan tidak langsung terhap klien (Smeltzer, 2012). e.

Evaluasi Evaluasi adalah tahap akhir dari proses keperawatan yang merupakan perbandingan yang sistematis dan terencana antara hasil akhir yang teramati dan tujuan atau kriteria hasil yang dibuat pada tahap perencanaan. Evaluasi dilakukan secara berkesinambungan dengan melibatkan klien dan tenaga kesehatan lainnya (Asmadi, 2012).

BATU GINJAL A.

Definisi Urolitiasis mengacu pada adanya batu (kalkuli) ditraktus urinarius. Batu

terbentuk di dalam traktus ketika konsentrsi substansi tertentu seperti kalsium oksalat, kalsium fospat, dan asam urat meningkat. Batu juga dapat terbentuk ketika terdapat defisiensi substansi tertentu, seperti sitrat yang secara normal mencegah kristalisasi dalam urine. Kondisi lain yang mempengaruhi laju pembentukan batu mencakup pH urine dan status cairan klien (batu cenderung terjadi pada klien dehidrasi) (Brunner & Suddarth 2002). Urolitiasis adalah Batu ginjal (kalkulus) bentuk deposit mineral, paling umum oksalat Ca2+ dan fosfat Ca2+, namun asam urat dan kristal lain juga membentuk batu, meskipun kalkulus ginjal dapat terbentuk dimana saja dari saluran perkemihan, batu ini paling sering ditemukan pada pelvis dan kalik ginjal.(Marilynn E,Doenges 2002). B.

Etiologi Batu ginjal kebanyakan tidak diketahui penyebabnya. Namun ada beberapa

macam penyakit yang dapat menyebabkan terjadinya batu ginjal, antara lain : renal tubular acidosis dan medullary sponge kidney. Secara epidemiologi terdapat dua

factor yang mempermudah/ mempengaruhi terjadinya batu pada saluran kemih pada seseorang. Faktor-faktor ini adalah faktor intrinsik, yang merupakan keadaan yang berasal dari tubuh seseorang dan faktor ekstrinsik, yaitu pengaruh yang berasal dan lingkungan disekitarnya. Faktor intrinsik itu antara lain adalah : a. Umur Penyakit batu saluran kemih paling sering didapatkan pada usia 30-50 tahun. b. Hereditair (keturunan). Penyakit ini diduga diturunkan dari orang tuanya.

Dilaporkan bahwa pada orang yang secara genetika berbakat terkena penyakit batu saluran kemih, konsumsi vitamin C yang mana dalam vitamin C tersebut banyak mengandung kalsium oksalat yang tinggi akan memudahkan terbentuknya batu saluran kemih, begitu pula dengan konsumsi vitamin D dosis tinggi, karena vitamin D menyebabkan absorbs kalsium dalam usus meningkat. c. Jenis kelamin Jumlah pasien laki-laki tiga kali lebih banyak dibanding

dengan pasien perempuan.

C. Faktor ekstrinsiknya antara lain adalah: D. Asupan air Kurangnya asupan air dan tingginya kadar mineral kalsium pada air yang dikonsumsi, dapat meningkatkan insiden batu saluran kemih. E. Diet Obat sitostatik untuk penderita kanker juga memudahkan terbentuknya batu saluran kemih, karena obat sitostatik bersifat meningkatkan asam urat dalam tubuh. Diet banyak purin, oksalat, dan kalsium mempermudah terjadinya penyakit batu saluran kemih. F. Iklim dan temperatur Individu yang menetap di daerah beriklim panas dengan paparan sinar ultraviolet tinggi akan cenderung mengalami dehidrasi serta peningkatan produksi vitamin D3 (memicu peningkatan ekskresi kalsium dan oksalat), sehingga insiden batu saluran kemih akan meningkat. G.Pekerjaan Penyakit ini sering dijumpai pada orang yang pekerjaanya banyak duduk atau kurang aktifitas ( sedentary life ) H.Istirahat ( bedrest ) yang terlalu lama, misalnya karena sakit juga dapat menyebabkan terjadinya penyakit batu saluran kemih. I. Geografi pada beberapa daerah menunjukkan angka kejadian batu saluran kemih lebih tinggi daripada daerah lain sehingga dikenal sebagai daerah ston belt (sabuk batu). J.

Jenis-Jenis Batu pada Saluran Kemih Jenis batu ginjal yang paling sering (lebih dari 80 %) adalah yang terbentuk

dari kristal kalsium oksalat. Pendapat konvensional mengatakan bahwa konsumsi kalsium dalam jumlah besar dapat memicu terjadinya batu ginjal. Namun, bukti-bukti terbaru malah menyatakan bahwa konsunsi kalsium dalam jumlah sedikitlah yang memicu terjadinya batu ginjal ini. Hal ini disebabkan karena dengan sedikitnya kalsium yang dikonsumsi, maka oksalat yang diserap tubuh semakin banyak. Oksalat ini kemudian melalui ginjal dan dibuang ke urin. Dalam urin, oksalat merupakan zat yang mudah membentuk endapan kalsium oksalat. Jenis batu yang lain adalah yang terbentuk dari struvit (magnesium, ammonium, dan fosfat), asam urat, kalsium fosfat, dan sistin. 1) Batu struvit dihubungkan dengan adanya bakteri pemecah urea seperti Proteus mirabilis, spesies Klebsiela, Seratia, dan Providensia. Bakteri ini memecah urea menjadi ammonia yang pada akhirnya menurunkan keasaman urin. 2) Batu asam urat sering terjadi pada penderita gout, leukemia, dan gangguan metabolism asam-basa. Semua penyakit ini menyebabkan peningkatan asam urat dalam tubuh. 3) Batu kalsium fosfat sering berhubungan dengan hiperparatiroidisme dan renal tubular acidosis. 4) Batu sistin berhubungan dengan orang yang menderita sistinuria.

K.

Patofisiologi Uroliasis merupakan kristalisasi dari mineral dari matrik seputar, seperti: pus,

darah, jaringan yang tidak viral, tumor atau urat. Peningkatan konsentrasi di larutan urine akibat intake cairan rendah dan juga peningkatan bahan-bahan organik akibat ISK atau utine statis, mensajikan sarang untuk pembentukan batu. L.

Proses perjalanan panyakit: Proses

terbentuknya

batu

terdiri

dari

beberapa

teori

(Prof.dr.Arjatmo

Tjokronegoro, phd.dkk,1999) antara lain: M.

Teori Intimatriks Terbentuknya Batu Saluran Kencing memerlukan adanya substansi organik Sebagai inti. Substansi ini terdiri dari mukopolisakarida dan mukoprotein A yang mempermudah kristalisasi dan agregasi substansi pembentukan batu.

N.

Teori Supersaturasi Terjadi kejenuhan substansi pembentuk batu dalam urine seperti sistin, santin, asam urat, kalsium oksalat akan mempermudah terbentuknya batu.

O.

Teori Presipitasi-Kristalisasi Perubahan pH urine akan mempengaruhi solubilitas substansi dalam urine. Urine yang bersifat asam akan mengendap sistin, santin dan garam urat, urine alkali akan mengendap garam-garam fosfat.

P.

Teori Berkurangnya Faktor Penghambat Berkurangnya Faktor Penghambat seperti peptid fosfat, pirofosfat, polifosfat, sitrat magnesium, asam mukopolisakarida akan mempermudah terbentuknya Batu Saluran Kencing.

Faktor etiologi: 1.

Teori nukleasi

Teori matriks

Penghambatan kristalisasi

Batu Ginjal (Urolitiasis)

Pembedahan

obstruksi

Post operasi

Aliran balik urin

Invasi kuman Resiko infeksi

Hydronefrosis

Ansietas

Mendesak lambung

Tirah baring

Resiko kurang volume cairan

Fungsi muskuloskeletal belum pulih Pembatasan gerak Hambatan mobilitas fisik

Kesalahan interpretasi

Defisit pengetahuan

Reflek renointestinal

Mual muntah

Kurang informasi

Terputusnya kontinuitas jaringan

Nyeri akut

Defisit perawatan diri

Q.

Manifestasi Klinis Manifestai klinis adanya batu dalam traktus urinarius tergantung pada

adanya obstruksi, infeksi, dan edema. Ketika batu menghambat aliran urine, terjadi obstruksi, menyebabkan peningkatan tekanan hidrostatik dan system piala ginjal serta ureter proksimal. Infeksi (pielonefritis dan sistitis yang disertai menggigil, demam, dan disuria) dapat terjadi dari iritasi batu yang terus menerus. Beberapa batu, jika ada, menyebabkan sedikit gejala umum secara perlahan merusak unit fungsional (nefron) ginjal: sedangkan yang lain menyebabkan nyeri yang luar biasa dan ketidak nyamanan. Batu di piala ginjal mungkin berkaitan dengan sakit yang dalam dan terus menerus diarea kostovertebral. Hemeturia dan piuria dapat dijumpai. Nyeri yang berasal dari area renal menyebar secara anterior dan pada wanita mendekati kandung kemih sedangkan pada pria mendekati testis. Bila nyeri mendadak menjadi akut, disertai nyeri tekan ke seluruh area kostovertebral, dan muncul mual dan muntah, maka pasien mengalami episode kolik renal. Diare dan ketidak nyamanan abdominal dapat terjadi. Gejala gastrointestinal ini akibat dari reflex renointestinal dan proktimitas anatomik ginjal ke lambung, pankreas dan usus besar. Batu yang terjebak di ureter menyebabkan gelombang nyeri yang luar biasa, akut, dan kolik yang menyebar ke paha dan genitalia. Pasien merasa ingin berkemih, namun hanya sedikit urin yang keluar, dan biasanya mengandung darah akibat aksi abrasif batu. Kolompok gejala ini disebut kolik ureteral. Umumnya pasien akan mengeluarkan batu dengan diameter 0,5 sampai 1 cm secara spontan. Batu dengan diameter lebih dari 1 cm biasanya harus diangkat atau dihancurkan sehingga dapat diangkat atau dikeluarkan secara spontan. Batu yang terjebak di kandung kemih biasanya menyebabkan gejala iritasi dan berhubungan dengan infeksi traktus urinarius dan hematuria. Jika batu menyebabkan obstruksi pada leher kandung kemih, akan terjadi retnsi urin.Jika infeksi berhubungan dengan adanya batu, maka kondisi ini jauh lebih serius, disertai sepsis yang mengancam kehidupan pasien ( Brunner&Suddarth 2005).

R.

Pemeriksaan Diagnostik Adapun pemeriksaan diagnostik yang dilakukan pada klien batu kandung kemih adalah : a) Urinalisa Warna kuning, coklat atau gelap. b) Foto KUB Menunjukkan ukuran ginjal ureter dan ureter, menunjukan adanya batu. c) Endoskopi ginjal Menentukan pelvis ginjal, mengeluarkan batu yang kecil. d) EKG Menunjukan ketidak seimbangan cairan, asam basa dan elektrolit. e) Foto Rontgen Menunjukan adanya di dalam kandung kemih yang abnormal. f) IVP ( intra venous pylografi ) Menunjukan perlambatan pengosongan kandung kemih,membedakan derajat obstruksi kandung kemih divertikuli kandung kemih dan penebalan abnormal otot kandung kemih. g) Vesikolitektomi ( sectio alta ) Mengangkat batu vesika urinari atau kandung kemih. h) Litotripsi bergelombang kejut ekstra korporeal. Prosedur menghancurkan batu ginjal dg gelombang kejut. i) Pielogram retrograde Menunjukan abnormalitas pelvis saluran ureter dan kandung kemih. Diagnosis ditegakan dg studi ginjal, ureter, kandung kemih, urografi intravena atau pielografi retrograde. Uji kimia darah dg urine dalam 24 jam untuk mengukur kalsium, asam urat, kreatinin, natrium, dan volume total merupakan upaya dari diagnostik. Riwayat diet dan medikasi serta adanya riwayat batu ginjal, ureter, dan kandung kemih dalam keluarga di dapatkan untuk mengidentifikasi faktor yang mencetuskan terbentuknya batu kandung kemih pada klien.

S. Penatalaksanaan Sekitar 90 % dari batu ginjal yang berukuran 4 mm dapat keluar dengan sendirinya melalui urin. Namun, kebanyakan batu berukuran lebih dari 6 mm memerlukan intervensi. Pada beberapa kasus, batu yang berukuran kecil yang tidak menimbulkan gejala, dapat diobservasi selama 30 hari untuk melihat apakah dapat keluar dengan sendirinya sebelum diputuskan untuk dilakukan intervensi bedah. Tindakan bedah yang cepat, perlu dilakukan pada pasien yang hanya

mempunyai satu ginjal, nyeri yang sangat hebat, atau adanya ginjal yang terinfeksi yang pada akhirnya dapat menyebabkan kematian. Penghilang rasa sakit Obat penghilang rasa sakit yang paling cocok untuk nyeri karena batu ginjal adalah golongan narkotika seperti morfin, demerol, atau dilaudid. Namun standar saat ini untuk menghilangkan nyeri akut karena batu ginjal adalah penyuntikan ketorolak melalui pembuluh darah. Intervensi bedah a) Extracorporeal Shock Wave Lithotripsy (ESWL), tehnik ini menggunakan getaran gelombang untuk memecahkan batu dari luar sehingga batu menjadi serpihan kecil yang pada akhirnya dapat keluar dengan sendirinya. b) Percutaneus nephrolithotomy atau pembedahan terbuka dapat dilakukan pada batu ginjal yang besar atau yang mengalami komplikasi atau untuk batu yang tidak berhasil dikeluarkan dengan cara ESWL. T.

Komplikasi Jika batu dibiarkan dapat menjadi sarang kuman yana dapat menimbulkan

infeksi saluran kemih, pylonetritis, yang akhirnya merusak ginjal, kemudian timbul gagal ginjal dengan segala akibatnya yang jauh lebih parah. U.

Pencegahan 1) Minum banyak air putih sehingga produksi urin dapat menjadi 2-2,5 liter 2) 3) 4) 5)

per hari Diet rendah protein, nitrogen, dan garam Hindari vitamin C berlebih, terutama yang berasal dari suplemen Hindari mengonsumsi kalsium secara berlebihan Konsumsi obat seperti thiazides, potasium sitrat, magnesium sitrat, dan allopurinol tergantung dari jenis batunya.

3. Masalah Keperawatan dan data yang perlu dikaji 1) Pengkajian Pengkajian keperawatan merupakan pengumpulan data yang berhubungan dengan pasien secara sistematis pada pengkajian klien dengan tergantung pada ukuran, lokasi, dan etiologi kalkulus (Doengus 2002), yaitu :

a. Akivitas/ istirahat Gejala: Pekerjaan monoton, pekerjaan dimana klien terpajan pada lingkungan bersuhu tinggi, keterbatasan aktivitas/ mobilisasi sehubungan dengan kondisi sebelumnya (contoh penyakit tak sembuh, cedera medulla spinalis) b. Sirkulasi Tanda: peningkatan TD/ nadi (nyeri, ansietas, gagal ginjal), kulit hangat dan kemerahan. c. Eliminasi Gejala: riwayat adanya/ ISK kronis: obstruksi sebelumnya (kalkulus), penurunaan haluan urine, kandung kemih penuh, rasa terbakar, dorongan berkemih, diare. Tanda: Oliguria, hemeturia, piuria, perubahan pola berkemih. d. Makanan/ cairan Gejala: Mual/ muntah, nyeri tekan abdomen, diet tinggi purine, kalsium oksalat, dan / fosfat, ketidak cukupan pemasukan cairan: tidak minum air yang cukup. Tanda: Diestensi abdominal: penurunan/ tak ada bising usus, muntah. e. Nyeri/ kenyamanan Gejala: a) Episode akut nyeri berat, nyeri kolik. Lokasi tergantung pada lokasi batu, contoh pada panggul di region sudut kostovetebrel: dapat menyebar kapanggul, abdomen, dan turun ke lipatan paha/ genetalia. b) Nyeri dangkal konstan menunjukan kalkulus ada dipelvis atau kalkulus ginjal. c) Nyeri dapat digambarkan sebagai akut, hebat dengan posisi atau tindakan lain. Tanda: Melindungi: perilaku distraksi, nyeri tekan pada daerah ginjal pada palpasi. f. Keamanan Gejala: Penggunaan alkohol: demam menggigil. g. Penyuluhan/ pembelajaran Gejala: Riwayat kalkulus dalam keluarga, penyakit ginjal, hipertensi, gout, ISK kronis. Riwayat penyakit usus halus, bedah abdomen sebelumnya, hiperparatiroidisme. Penggunaan antibiotik anti hipertensi,

natrium

bikarbonat

aluporinol,

pemasukan berlebihan kalsium/ vitamin. h. Pemeriksaan Penunjang

fosfat, tiazid,

a) Urinalisa: warna mungkin kuning, coklat gelap, berdarah; secara umum menunjukkan SDM, SDP, Kristal (sistin, asam urat, kalsium oksalat), serpihan, mineral, bakteri, pus; pH mungkin asam (meningkatkan sistin dan batu asam urat) atau alkalin (meningkatkan magnesium, fosfat ammonium, atau batu kalium fosfat). b) Urine (24 jam): kreatinin, asa urat, kalsium, fosfat, oksalat, atau sistin mungkin meningkat. c) Kultutur urine; mungkin menunjukkan ISK (stapilococus aureus, proteus, klebsiela, pseudomonas) d) Survei biokimia: Peningkatan kadar magnesium, kalsium, asam urat, fosfat, protein, elektrolik. e) BUN/kreatinin serum dan urine: Abnormal (tinggi pada serum/ rendah pada urine) sekunder terhadap tingginya batu obstruktif pada ginjal menyebabkan iskemia/nekrosis. f) Kadar klorida dan biokarbonat serum: Peningkatan kadar klorida dan penurunan bikarbonat menunjukkan terjadinya asidosis tubulus ginjal. g) Hitung darah lengkap: SDP meningkat menunjukkan infeksi/septicemia. h) SDM: Biasanya normal. i) Hb/Ht: Abnormal bila pasien dehidrasi nerat atau polisitemia terjadi (mendorong

presitipasi

pemadatan

atau

anemia,

perdarahan

disfungsi/gagal ginjal). j) Hormon paratiroid: Mungkin meningkat bila ada gagal ginjal. (PTH merangsang reabsorpi kalsium dari tulang meningkatkan sirkulasi serum dan kalsium urine) k) Foto ronsen KUB: Menunjukkan adanya kalkuli dan/atau perubahan anatomik pada area ginjal dan sepanjang ureter. l) IVP: Memberikan konfirmasi cepat urolitiasis seperti penyebab nyeri abdominal atau panggul. Menunjukkan abnormalitas pada struktur anatomik (distensi ureter) dan garis bentuk kalkuli. m) Sistoureterokopi: Visualisasi langsung kandung kemih dan ureter dapat menunjukkan batu dan/atau afek obstruksi. n) Scan CT: Mengidentifikasi/menggambarkan kalkuli dan massa lain; ginjal, ureter, dan distensi kandung kemih. o) Ultrasound ginjal: Untuk menentukan perubahan obstruksi, lokasi batu. 2) Masalah keperawatan

a) b) c) d) e)

Perubahan eliminasi urine Resiko tinggi terhadap kekurangan volume cairan Resiko tinggi terhadap infeksi Gangguan rasa nyaman, nyeri Kurang pengetahuan tentang kondisi , prognosis dan kebutuhan pengobatan

3) Diagnosis keperawatan Diagnosa keperawatan adalah data data yang didapatkan pada pengkajian keperawatan kemudian disusunlah diagnosa yang umum timbul pada batu saluran kemihMenurut Marliynn E, Doengoes diagnose keperawatan pada klien dengan Post Operasi Ureter Resection Sitoscopy adalah: a) Perubahan eliminasi urine berhubungan dengan obstruksi bedah, tekanan dan mitasi kateter/ badan b) Resiko tinggi terhadap kekurangan volume cairan berhubungan dengan kesulitan mengontrol perdarahan, pembatasan pra- operasi c) Resiko tinggi terhadap infeksi berhubungan dengan trauma jaringan sekunder terhadap: presedur bedah, presedur alat invasive, alat selama pembedahan kateter, irigasi kandung kemih. d) Nyeri berhubungan dengan iritasi mukosa kandung kemih, reflek spasme otot: presedur bedah atau tekanan dari balon kandung kemih. e) Ansietas berhubungan dengan perubahan status kesehatan f) Defisiensi pengetahuan berhubungan dengan kurangnya pengetahuan atau informasi.

pajanan

4) Rencana tindakan keperawatan No.

Diagnosa keperawatan

1.

Perubahan eliminasi urine berhubungan dengan obstruksi bedah, tekanan dan mitasi kateter/ badan

2.

Tujuan dan Kriteria Hasil

Intervensi dan Rasional

NOC : urinary elimination NIC : urinary retention care Urinary continence 1. monitor intake dan output Setelah dilakukan asuhan keperawatan 2. instruksikan pada keluarga pasien untuk memonitor output urin selama 3X24 jam perubahan eliminasi urin 3. sediakan privacy untuk elimasi dapat teratasi 4. kateterisasi jika perlu Kriteria Hasil : 5. stimulasi refleks bladder dengan kompres dingin pada – Kandung kemih kosong secara penuh abdomen – tidak ada residu urin > 100-200cc – bebas dari ISK – tidak ada spasme bladder – balance cairan seimbang Resiko tinggi NOC : NIC : Fluid management terhadap kekurangan 1. Monitor tanda-tanda vital klien volume cairan Fluid balance 2. Pasang kateter urin sesuai indikasi berhubungan dengan Setelah dilakukan asuhan keperawatan 3. Monitor status hidrasi klien kesulitan mengontrol selama 3×24 jam volume cairan klien akan 4. Beri terapi cairan sesuai indikasi perdarahan, 5. Monitor respon hemodinamik seimbang dengan kebutuhan cairan klien 6. Kolaborasi pemberian terapi farmakologis untuk menjaga pembatasan prakeseimbangan cairan tubuh klien Kriteria Hasil : operasi – Tekanan darah dalam rentang normal – Integritas kulit baik – Membran mukosa lembab

3.

Resiko

tinggi NOC 1. Immune status

NIC :

terhadap infeksi berhubungan dengan trauma jaringan sekunder terhadap: presedur bedah, presedur alat invasive, alat selama pembedahan kateter, irigasi kandung kemih.

4.

5.

Nyeri berhubungan dengan iritasi mukosa kandung kemih, reflek spasme otot: presedur bedah atau tekanan dari balon kandung kemih.

2. Knowledge: infection control Setelah dilakukan tindakan keperawatan 1×24 jam tidak terjadi infeksi dan meningkatkan status imun

1. 2. 3. 4. 5.

Monitor tanda dan gejala infeksi Dorong masukan nutrisi yang cukup Pertahankan teknik aseptik Ajarkan pasien dan keluarga cara menghindari infeksi Kolaborasi pemberian antibiotik jika perlu

Kriteria Hasil : – Tanda-tanda vital dalam keadaan normal – Pasien bebas dari tanda dan gejala infeksi Jumlah leukosit dalam batas normal

NOC: pain level dan pain control NIC:Pain Managament Setelah dilakukan asuhan keperawatan 1. lakukan pengkajian nyeri secara komprehensif (P=penyebab, Q=kualitas dan kuantitas, R=daerah dan selama 3X24 jam nyeri berkurang penyebarannya, S=seberapa kuat nyeri yang Kriteria Hasil: dirasakan, T=waktu terjadinya nyeri) – Pasien mampu mengontrol nyeri (tahu 2. kontrol lingkungan pasien yang dapat mempengaruhi penyebab nyeri dan mampu menggunakan nyeri seperti suhu ruangan, pencahayaan, dan teknik nonfarmakologi untuk mengurangi kebisingan nyeri) 3. ajarkan tentang teknik non farmakologi seperti teknik – Mampu mengenali nyeri (skala, intensitas, relaksasi nafas dalam frekuensi) 4. tingkatkan istirahat Menyatakan rasa nyaman setelah nyeri 5. evaluasi keefektifan control nyeri berkurang 6. Pertahankan patensi kateter dan sistem drainase. Pertahankan selang bebas dari lekukan dan bekuan. 7. Kolaborasi dalam pemberian antispasmodic Ansietas NOC: Anxiety self control, coping NIC: anxiety reduction 1. gunakan pendekatan yang menenangkan berhubungan dengan Setelah dilakukan asuhan keperawatan 2. jelaskan semua prosedur dan apa yang yang dirasakan selama 1X24 jam ansietas dapat perubahan status

kesehatan

6.

teratasi

selama prosedur 3. dengarkan dengan penuh perhatian 4. identifikasi tingkat kecemasan 5. instruksikan pasien menggunakan teknik relaksasi

Kriteria Hasil: – Pasien mampu mengidentifikasi dan mengungkapkan gejala cemas – Mengidentifikasi, mengungkapkan dan menunjukkan tekhnik untuk mengontrol cemas – Vital sign dalam batas normal Defisiensi NOC : NIC : teaching : disease proses Knowledge : disease proses 1. berikan penilaian tentang tingkat pengetahuan pasien pengetahuan tentang proses penyakit yang spesifik berhubungan dengan Knowledge : health behavior Setelah dilakukan asuhan keperawatan 2. gambarkan tanda dan gejala yang biasa muncul pada kurangnya pajanan penyakit selama 1X24 jam klien mengetahui pengetahuan atau 3. gambarkan proses penyakit dengan cara yang tepat informasi tetntang penyakitnya. informasi. 4. sediakan informasi tentang kondisi Kriteria Hasil : 5. diskusikan perubahan gaya hidup yang mungkin – pasien dan keluarga menyatakan diperlukan pemahaman tentang penyakit, kondisi, prognosis, dan program pengobatan – pasien dan keluarga mampu melaksanakan prosedur yang telah dijelaskan

HEMODIALISIS 1. Definisi Hemodialisis Hemodialisis merupakan salah satu terapi pengganti ginjal yang menggunakan alat khusus dengan tujuan mengeluarkan toksisn uremik dan mengatur cairan, elektrolit tubuh. Hemodialisis adalah pengalihan darah pasien dari tubuhnya melalui dialiser yang terjadi secara difusi dan ultrafiltrasi, kemudian darah kembali lagi ke dalam tubuh pasien. Hemodialisis memerlukan akses ke sirkulasi darah pasien, suatu mekanisme untuk membawa darah pasien ked an dari dializen (tempat terjadi pertukaran cairan, elektrolit, dan zat sisa tubuh), serta dialiser. Ada 5 cara memperoleh akses ke sirkulasi darah pasien : 1) Fistula arteriovena 2) Graft arteriovena 3) Shunt (pirai) arteriovena eksternal 4) Kateterisasi vena femoralis 5) Kateterisasi vena subklavia (Baradero, 2008) 2. Indikasi Hemodialisis Indikasi HD dibedakan menjadi HD emergency atau HD segera dan HD kronik. Hemodialisis segera adalah HD yang harus segera dilakukan. Indikasi hemodialisis segera antara lain (Daurgirdas et al., 2007): 1) Kegawatan ginjal a. Klinis : keadaan uremik berat, overhidrasi. b. Oligouria (produksi urine