Laporan Praktikum Penyehatan Makanan Dan Minuman

Laporan Praktikum Penyehatan Makanan Dan Minuman
  • Laporan Praktikum Penyehatan Makanan Dan Minuman

  • Views 17

  • Downloads 0

  • File size 899KB
  • Author/Uploader: Fitria

LAPORAN PRAKTIKUM PENYEHATAN MAKANAN DAN MINUMAN – B “ INDUSTRI PEMERAHAN SAPI “

Dosen Pengajar : Narwati, S.Si, M.Si Putri Arida Ipmawati SKM, M.Kes Instruktur : Dewi Agustin, S.Tr.Kes Disusun Oleh : Kelompok 4 Aisyah Al Mas’udah

( P27833319003 )

Berlinda Rekta Putri Januarista

( P27833319007 )

Dewi Lia Listyawati

( P27833319010 )

Fitria Dwi Yuliatiningsih Sumartin ( P27833319012 ) Muhammad Ulil Amri H

( P27833319021 )

Rieke Indah Maharani

( P27833319030 )

Sugiana

( P27833319033 )

Tengku Hendrawan Al Ubaidah

( P27833319034 )

Firdausy Lintang Tunggadewi

( P27833319039 )

D4 Semester 5 KEMENTRIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA POLTEKKES KEMENKES SURABAYA JURUSAN KESEHATAN LIUNGKUNGAN PRODI SANITASI LINGKUNGAN PROGRAM SARJANA TERAPAN TAHUN AKADEMIK 2021/2022

KATA PENGANTAR Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, dengan telah disusunnya laporan “Industri Pemerahan Sapi” mengenai praktikum yang telah kami lakukan pada Jumat, 15 Oktober 2021. Kami menyadari bahwa dalam penulisan laporan ini tidak terlepas dari bantuan banyak pihak yang dengan tulus memberikan doa, saran dan kritik sehingga laporan ini dapat terselesaikan. Ucapan terima kasih kami sampaikan kepada Narwati, S.Si., M.Kes dan Putri Arida Ipmawati, SKM., M.Kes selaku dosen mata kuliah Penyehatan Makanan dan Minuman B yang telah membimbing kami dalam penyusunan laporan praktikum ini. Tidak lupa kami juga berterima kasih kepada semua pihak yang membantu dalam penyusunan laporan praktikum ini. Laporan praktikum ini kami susun dengan dasar tugas praktikum Penyehatan Makanan dan Minuman B. Dengan melakukan praktikum ini mahasiswa mampu melakukan survei industri pemerahan sapi yang benar. Kami menyadari sepenuhnya bahwa laporan ini masih jauh dari kata sempurna dikarenakan terbatasnya pengalaman dan pengetahuan yang kami miliki. Oleh karena itu, kami mengharapkan segala bentuk saran serta masukan bahkan kritik yang membangun dari berbagai pihak. Akhirnya, kami berharap semoga laporan ini dapat memberikan manfaat bagi perkembangan dan pendidikan.

Surabaya , 16 Oktober 2021

Penulis

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR………………………………………………………………………………………………..2 DAFTAR ISI……………………………………………………………………………………………………………..3 BAB I………………………………………………………………………………………………………………………..4 PENDAHULUAN……………………………………………………………………………………………………..4 A. Latar Belakang………………………………………………………………………………………………..4 B. Tujuan…………………………………………………………………………………………………………….5 C. Manfaat…………………………………………………………………………………………………………..5 BAB II………………………………………………………………………………………………………………………7 TINJAUAN PUSTAKA……………………………………………………………………………………………..7 A.

Sapi Perah……………………………………………………………………………………………………….7

B. Higiene Sanitasi Peternakan Sapi Perah……………………………………………………………9 C. Penanganan Pemerahan Susu Sapi…………………………………………………………………12 D. Penyakit Potensial Sapi Perah………………………………………………………………………..13 BAB III……………………………………………………………………………………………………………………15 METODE PRAKTIKUM………………………………………………………………………………………..15 A. Tempat dan Waktu Pelaksanaan…………………………………………………………………….15 B. Alat dan Bahan………………………………………………………………………………………………15 C. Metode Pengumpulan Data…………………………………………………………………………….15 D. Prosedur Kerja Inspeksi Sanitasi……………………………………………………………………15 E. Prosedur Penilaian Inspeksi Sanitasi………………………………………………………………16 BAB IV……………………………………………………………………………………………………………………18 HASIL DAN PEMBAHASAN………………………………………………………………………………….18 A. Gambaran Umum Peternakan Sapi Perah………………………………………………………18 B. Hasil Penilaian dan Pembahasan…………………………………………………………………….19 BAB V…………………………………………………………………………………………………………………….37 PENUTUP……………………………………………………………………………………………………………….37 A. Kesimpulan……………………………………………………………………………………………………37 B. Saran……………………………………………………………………………………………………………..37 DAFTAR PUSTAKA……………………………………………………………………………………………….39 LAMPIRAN………………………………………………………………………………………………………………..

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Peternakan merupakan kegiatan membudidayakan hewan ternak untuk mendapatkan hasil produk yang dapat berguna bagi manusia. Salah satu dari hasil peternakan adalah susu sapi. Peternakan biasanya dilakukan di daerah pedesaan, karena lahan di pedesaan masih luas dan memiliki suasana yang mendukung dibandingkan di kota yang telah terjadi banyak pencemaran lingkungan. Ternak perah merupakan ternak yang mempunyai prinsip sebagai penghasil susu. Diantara ternak perah, sapi perah merupakan penghasil susu yang sangat dominan dibanding ternak perah lainnya dan sangat besar kontribusinya dalam memenuhi kebutuhan konsumsi bagi manusia. Pengembangan peternakan sapi perah di Indonesia pada dasarnya bertujuan meningkatkan produksi susu dalam negeri untuk mengantisipasi tingginya permintaan susu. Hal tersebut memberikan peluang bagi peternak, terutama peternakan sapi perah rakyat untuk lebih meningkatkan produksi, sehingga ketergantungan akan susu impor dapat dikurangi. Menurut Dawud susu di indonesia berkualitas rendah dipengaruhi oleh dua faktor, yaitu : Pertama, sanitasi kandang yang rendah dan perilaku peternak yang belum mengarah pada goodfarming practice. Banyak peternak yang membangun kandang sapi mereka menyatu dengan rumah alasan keamanan. Limbah peternakan, baik limbah yang padat maupun limbah yang cair, belum dikelola dengan benar sehingga menimbulkan pencemaran terhadap lingkungan. Kedua, kualitas dan kuantitas pakan yang rendah. Indonesia tergolong sebagai negara yang berkontribusi menghasilkan susu sapi. Terhitung sejak 36 tahun terakhir yakni periode 1980 hingga 2016 populasi sapi perah meningkat sebesar 5,26%. Provinsi Jawa timur menjadi sentra produksi susu sapi perah dimana tahun 2019 jumlah produksi susu segar mencapai 532.103,69 ton dengan persentase 52% merupakan setengah dari total produksi susu sapi nasional (BPS, 2020). Berdasarkan penelitian Septiani & Drastini (2014:68) yang dilakukan pada koperasi warga di daerah Sleman, Yogyakarta dan di Tulungagung, Jawa Timur menunjukkan bahwa total bakteri susu sapi melebihi batas persyaratan yang telah ditentukkan SNI 3141-01 dengan hasil 3,6 x 106 CFU/ml dan 3,6 x 106 CFU/ml. Penelitian yang sama dilakuakan oleh Arjadi et al (2017:6) Total bakteri melebihi standart SNI juga ditemukan

di daerah Boyolali, bahkan mulai dari tingkat peternakan, pengepul hingga KUD masih berada diatas standart. Hasil yang selaras dengan penelitian sebelumnya, yakni total bakteri 1,1 x 106 CFU/ml melebihi batas juga terdapat pada susu sapi di Kota Semarang (Santoso et al, 2012:402). Peningkatan keamanan pangan merupakan langkah yang tepat sebagai upaya pengendalian. Keamanan pangan perlu dicanangkan sebagai usaha pencegahan pangan dari segala bahaya yang mengganggu, merugikan dan membahayakan kesehatan manusia baik dari unsur biologis ataupun kimia (Peraturan Pemerintah RI, 2004:4). Berdasarkan latar belakang permasalahan tersebut, maka kami melakukan penilaian terhadap sanitasi tempat peternakan sapi perah milik Bapak Harjuna yang berada di Sidoarjo

menggunakan

acuan

Keputusan

Menteri

Pertanian

Nomor

:

422/Kpts/OT.210/72001 tentang Pedoman Budidaya Ternak Sapi Perah yang Baik (Good Farming Practice) sehingga bahaya kesehatan bagi lingkungan sekitar dapat diminimalisir dan status kesehatan tetap terjaga. B. Tujuan 1. Tujuan Umum Agar mahasiswa dapat memahami tentang sanitasi tempat peternakan sapi perah serta mengetahui masalah sanitasi yang terdapat pada tempat peternakan sapi perah tersebut. 2. Tujuan Khusus Mahasiswa dapat memahami dan menganalisa kondisi sanitasi tempat peternakan sapi perah baik dari konstrksi lokasi dan lingkungan produksi, bangunan dan fasilitas, peralatan produksi dan sarana prasana lainnya. C. Manfaat 1. Manfaat bagi mahasiswa a. Mahasiswa dapat mengetahui bagaimana persiapan dalam melakukan inspeksi sanitasi tempat peternakan sapi perah b. Mahasiswa mampu membuat form inspeksi sesuai dengan acuan peraturan yang ada

c. Mahasiswa dapat melakukan penilaian dalam melakukan inspeksi sanitasi tempat peternakan sapi perah 2. Manfaat bagi masyarakat Memberikan informasi kepada masyarakat bagaimana sanitasi tempat peternakan sapi perah yang baik sesuai dengan Keputusan Menteri Pertanian Nomor : 422/Kpts/OT.210/72001 tentang Pedoman Budidaya Ternak Sapi Perah yang Baik (Good Farming Practice).

BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Sapi Perah Pada awalnya jumlah susu yang dihasilkan oleh hewan menyusui (sapi, kerbau, kambing, dan unta) hanya sebatas cukup untuk menyusui anaknya yang baru lahir sampai tiba saatnya disapih. Karena adanya perubahan gen dan variasi alam, beberapa hewan tersebut menghasilkan susu lebih dari kebutuhannya. Hewan-hewan ini akhirnya diternakkan dengan cara merangsang bekerjanya kelenjar susu secara maksimal melalui beberapa tata laksana. Usaha-usaha tersebut meliputi perkandangan, pemberian pakan yang rasional, pemerahan secara teratur, pemeliharaan kesehatan, pengaturan perkawinan, persilangan, inseminasi buatan, transfer embrio, dsb. Lambat laun orang mendapatkan sekelompok ternak yang mampu menghasilkan susu lebih banyak dan lebih baik kualitasnya. Perbaikan manajemen, pakan, dan pemuliaan tersebut dilakukan secara terus menerus selama puluhan bahkan ratusan tahun, sehingga terciptalah jenis-jenis ternak perah yang unggul sekarang ini. Seekor sapi perah mampu menghasilkan susu sebanyak 5.000 liter/tahun. Jumlah produksi susu setara nilai gizinya dengan nilai gizi daging yang dihasilkan dari seekor sapi potong jantan seberat 625 kg. Makanan pokok sapi perah adalah hijauan dan dapat pula mengonsumsi limbah pertanian yang tidak laku dijual atau yang nilai ekonomisnya sangat rendah (Suriasih, 2015). Kandang adalah suatu tempat dimana hewan ternak dapat beristirahat dengan anakanaknya tanpa kehujanan dan kepanasan. Oleh karena itu memerlukan perhatian terhadap luas kandang, alas kandang, ventilais, sinar matahari yang cukup, drainase, dan kenyamanan ternak. Kandang adalah tempat untuk hidup, berproduksi, dan berlindung sapi dari pengaruh luar yang tidak diinginkan. Perkandangan adalah syarat penting bagi pemeliharaan ternak. Kandang sapi perah yang efektif harus dirancang untuk memenuhi persyaratan kesehatan dan kenyamanan ternak, enak, dan nyaman untuk operator, efisien untuk tenaga kerja dan pemakaian alat-alat disesuaikan dengan peraturan kesehatan ternak. Berdasarkan bentuknya, kandang dibagi menjadi dua, tradisional dan intensif. Kandang tradisional terbuat dari bahan sederhana seperti papan, kayu, genting ataupun bahan rumbia dan ijuk. Kontruksi bangunan tradisional kurang memenuhi persyaratan baik dari segi kesehatan bagi hewan ternak. Sementara itu, kandang intensif berukuran

besar dan dibuat secara permanen dengan dinding tembok keliling yang terbuka, dinding kayu, papan atau pembatas dari pipa besi. Faktor lingkungan dapat mempengaruhi kesehatan manusia, lingkungan fisik, dan biologi. Limbah kotoran sapi perah merupakan salah satu sumber pencemar biologi dan fisik. Cara untuk menghindari timbul terjadinya penyakit adalah menjaga kondisi sanitasi kandang sapi perah. 1. PEMBIBITAN SAPI PERAH Ada beberapa pelaksanaan dalam pembibitan sapi perah, yakni : a. Pemilihan bibit b. Pemberian makan Pemberian makan harus memperhatikan kandungan nutrisi berupa protein, vitamin, mineral, dan serat kasar yang dibutuhkan sesuai kondisi fisiologis ternak c. Pemeliharaan `Dalam pembibitan sapi perah diperlukan secara baik sejak indukan hingga siap beranak, meliputi pemeliharaan pedet betina, pedet lepas sapih, sapi dara, calon induk, induk bunting, sapi laktasi, sapi bunting kering, pedet calon pejantan, calon pejantan, dan pejantan muda. d. Pembibitan Metode dalam pembibitan sapi perah dilakukan melalui pemuliaan, yaitu pemurnian rumpun dan/atau grading up menuju pure breed. Dalam pembibitan sapi perah dilakukan cara perkawinan, pencatatan, seleksi bibit, ternak pengganti, dan afkir. Salah satu aspek pembibitan adalah perkawinan, dimana pembibitan harus sesuai standar, perkawinan sapi perah dilakukan dengan perkawinan Inseminasi Buatan (IB) dan kawin alam. Perkawinan dengan teknik IB dilakukan dengan menggunakan semen beku sesuai dengan SNI, sedangkan kawin alam dilakukan dengan menggunakan pejantan unggul, masih produktif dan satu rumpun. e. Manajemen Reproduksi 1) Deteksi birahi Bertujuan untuk menghindari kegagalan perkawinan. Birahi adalah ternak betina siap dikawinkan dengan saling menaiki, penurunan nafsu makan, keluar lendir jernih transparan dan perubahan alat kelamin bagian

luar. Peternak harus segera melaporkan kepada petugas IB setalah melihat gejala birahi. 2) Pelaksanaan IB Inseminasi buatan (IB) atau kawin suntik adalah suatu cara atau teknik untuk memasukkan mani/spermatozoa yang telah dicairkan dan telah diproses terlebih dahulu yang berasal dari ternak jantan ke dalam alat kelamin betina menggunakan metode dan alat khusus yang disebut ‘insemination gun’. 3) Nutrisi Nutrisi merupakan faktor yang sangat erat kaitannya dengan metabolisme tubuh, kesehatan, dan kinerja reproduksi. Pada sapi perah nutrisi memiliki pengaruh penting terhadap penampilan reproduksi. Ketidakcukupan asupan energi dapat menurunkan aktivitas reproduksi yang ditandai dengan tidak munculnya gejala birahi (anestrus). 4) Kontrol Kondisi Lingkungan Kondisi lingkungan perlu diperhatikan untuk kenyaman ternak antara lain temperatur, kelembaban, dan kebersihan kandang. 5) Pertumbuhan Sapi Dara Pengganti (Replacement Stock) Pertumbuhan sapi dara pengganti dipengaruhi antara lain kapasitas kandang (daya tampung ternak), pengelolaan pakan, dan kesehatan. B. Higiene Sanitasi Peternakan Sapi Perah I.

Higiene Dan Sanitasi Kandang Sapi Faktor higiene lingkungan sekitar sangat penting bagi sapi yang dipelihara ataupun bagi peternak. Oleh karena itu, untuk dapat memberi jaminan kesehatan kepada sapida lingkungan sekitar, hygiene lingkungan perlu diindahkan. Peternak dalam membangun kandang harus mengindahkan lingkungan yang bersih dan aman. 

Mengingat factor higiene sangat penting, maka kandang harus dibangun dan ditempatkan : 1. Jauh dari pemukiman penduduk. 2. Di tempat yang lebih tinggi dari sekitar, sehingga air tidak menggenang disekitar kandang.

3. Di tempat yang tidak terlalu tertutup oleh pepohonan yang rindang. Sinar matahari dan sirkulasi udara dengan lancar masuk ke dalam ruangan kandang. Di suatu daerah yang tertutup oleh pepohonan besar, kondisi ruangan menjadi lembab, sehingga kondisi ruangan kurang sehat. Jika hendak ditanam pepohonan, seharusnya agak jauh dengan bangunan kandang. 

Kandang untuk usaha peternakan sapi perah harus memenuhi persyaratan sebagai berikut : 1. Dinding dibedakan antara dinding pembatas sekeliling kandang dan dinding penyekat. a. Dinding Pembatas Sekeliling kandang Batas di sekeliling kandang dapat dilengkapi dengan dinding tau tanpa dinding (dinding terbuka), tergantung kondisi iklim setempat. Dinding untuk kandang sapi perah pada umumnya dibangun setinggi 1,5 m atau diatas pungung sapi. Bangunan dinding semacam ini disebut dinding semi terbuka. Konstruksi bangunan dinding semi terbuka, ataupun yang terbuka sangat menguntungkan, karena dapat memberi jaminan bagi kelancaran pergantian udara dalam kandang, serta memberi kesempatan masuknya cahaya matahari ,terutama di pagi hari. b. Dinding Penyekat Pengukuran kandang yang tidak melebihi kapasitas akan dapat menjamin kesehatan dan kenyamanan sapi. Sebagai pedoman ukuran luas untuk seekor perah dewasa ialah 1,2 x1,75 m2 . Setiap ruangan bagi seekor sapi dewasa sebaiknya diberi dinding penyekat untuk memisahkan sapi yang satu dengan yang lain. Dinding penyekat ini dapat dibuat dari tembok, besi bulat (pipa air) ataupun berasal dari bahan kayu dan bambu. Ukuran dinding penyekat dpat dibuat pada bagian depan yaknitempat ransum 1,25 m, belakang 0,75m. 2. Atap berfungsi untuk melindungi sapi dari terik matahari dan air hujan, juga berfungsi untuk menjaga kehangatan sapi yang menghuni kandang pada malam hari, serta menahan panas yang dihasilkan oleh tubuh hewan. Agar air hujan dapat meluncur diatas atap dengan lancar, maka

konstruksi atap harus dibuat miring. Sudut kemiringan atap diusahakan sekitar 300 , bagian yang rendah mengarah ke belakang. Ada beberapa macam bahan pembuat atap yang dapat dipergunakan seperti asbes, seng, genteng, ataupun bahan lain. Namun, atap dari genteng dirasa lebih baik, karena genteng lebih awet, relatif murah, tidak banyak menyerap panas dan udara dari luar dapat masuk melalui celah-celah. selokan, supaya air mudah mengalir atau kering, lanti kandang harus diupayakan miring dengan kemiringan 2 – 3 cm. 3. Ventilasi harus berfungsi dengan baik sehingga keluar masuknya udara dari dalam dan luar kandang berjalan sempurna. Pengaturan ventilasi yang sempurna berarti memperlancar pergantian udara yang bersih dari ;uar. Jika ventilasi sempurna, maka ruangan kandang tidak pengap, lembab, kotor, berdebu, berbau, dan panas. Pengaturan ventilasi yang baik merupakan kunci dalam menciptakan kondisi ruangan kandang yang sehat. Ventilasi kandang untuk sapi perah di daerah tropis cukup ventilasi alami, yang pengadaannya erat sekali dengan dinding terbuka atau semi terbuka. 4. Tempat makan dan tempat air minum merupakan perlengkapan kandang yang harus ada. Kandang yang disekat-sekat dengan pembatas sebaiknya dilengkapi tempat makan dan air minum dari beton semen secara individual. Masing- masing dibuat dengan ukuran 80 x 50 cm2 untuk tempat makan dan 40 x 50 cm2 untuk air minum. 5. Jumlah ternak yang dipelihara harus disesuaikan dengan luas lantai kandang yang ada. 6. Agar air pembersih kandang dan air untuk memandikan sapi mudah mengalir menuju bak penampungan, maka lantai bagian belakang dan di sekeliling kandang harus dilengkapi parit dengan ukuran lebar 20 cm dan kedalaman 15 cm. dengan adanya parit, maka air pembersih lantai, air untuk memandikan sapi, air kencing, dan sekaligus kotoran sapi mudah terkumpul di dalam bak penampungan kotoran. II.

Higiene Dan Sanitasi Peralatan Kebersihan perlengkapan dan peralatan yang dipakai sangat mempegaruhi kebersihan dan kesehatan air susu. Perlengkapan dan peralatan tersebut antara lain:

ember tempat pemerahan, tali pengikat kaki, tali pengikat ekor (jika diperlukan ), milk-can untuk ,menampung air susu, dan kain bersih untuk menyaring susu terhadap kotoran dan bulu sapi pada saat susu dituangkan ke dalam milk-can. Semua alat yang digunakan sebelum dan sesudah dipakai harus selalu dalam keadaan bersih atau steril. Agar semua peralatan yang dipakai menjadi steril, alatalat tersebut harus dicucikan dengan cara merendam dalam larutan desinfektan, lalu dicuci dengan air, selanjutnya dibilas dengan air panas dan dijemur. C. Penanganan Pemerahan Susu Sapi Penanganan air susu sangat diperlukan untuk memperlambat penurunan kualitas susu dan memperpanjang masa simpan susu. Didalam penanganan air susu dituntut keterampilan dalam hal : a. Penanganan kadang dan kamar air susu Susu tidak boleh terlalu lama di daerah kandang pemerahan dan jangan simpan air susu pada ruang yang berbau b. Pengaturan ransum sapi yang sedang laktasi Makanan yang diberikan bukanlah makanan yang berbau karena makanan yang bau akan diserap air susu melalui peredaran darah. c. Teknis pemerahan Baik tukang perah maupun peralatan perah hendaknya bebas dari kuman. Cuci alat dengan sabun dan air mengalir kemudian dikeringkan. d. Pasca panen Keterampilan ini perawatan atau penanganan air susu setelah diperah hingga dikonsumsi oleh konsumen. Hal ini meliputi processing, storage, dan pachage, transportasi, dan pemasaran. Cara penanganan air susu sesuadah pemerahan adalah : a. Air susu hasil pemerahan harus segera dikeluarkan dari kandang untuk menjaga jangan sampai susu tersebut berbau sapi atau kandang. b. Air susu tersebut disaring dengan saringan yang terbuat dari kapas atau kain putih dan bersih, susu tersebut disaring langsung dalam milk can. Segera setalah selesai penyaringan milk can tersebut ditutup rapat. Kain penyaring harus dicuci bersih dan digodok kemudian dijemur. Bila kain penyaring tersebut hendak dipakai kembali sebaiknya disetrika terlebih dahulu.

c. Tanpa menghiraukan banyaknya kuman yang telah ada, air susu perlu didinginkan secepat mungkin sesudah pemerahan dan penyaringan sekurangkurangnya pada suhu 4°–7°C selama 2 atau 3 jam. Hal ini dilakukan untuk mencegah berkembangnya kuman yang terdapat didalam air susu.bila tidak mempunyai alat pendingin maka pendinginan tersebut dilakukan dengan menggunakan balok es, dalam hal ini milk can yang telah berisi susu dimasukkan kedalam bak yang berisi es balok dan ditutup rapat. D. Penyakit Potensial Sapi Perah I.

Penyakit 1. Penyakit antraks 

Penyebab: Bacillus anthracis yang menular melalui kontak langsung, makanan/minuman atau pernafasan.

Gejala: –

Demam tinggi, badan lemah dan gemetar;

Gangguan pernafasan;

Pembengkakan pada kelenjar dada, leher, alat kelamin dan badan penuh bisul;

Kadang-kadang darah berwarna merah hitam yang keluar melalui hidung, telinga, mulut, anus dan vagina;

Kotoran ternak cair dan sering bercampur darah;

Limpa bengkak dan berwarna kehitaman.

Pengendalian: vaksinasi, pengobatan antibiotika, mengisolasi sapi yang terinfeksi serta mengubur/membakar sapi yang mati.

2. Penyakit mulut dan kuku (PMK) atau Penyakit Apthae Epizootica (AE) 

Penyebab : virus ini menular melalui kontak langsung melalui air kencing, air susu, air liur dan benda lain yang tercemar kuman AE.

Gejala : –

Rongga mulut, lidah, dan telapak kaki atau tracak melepuh serta terdapat tonjolan bulat berisi cairan yang bening;

Demam atau panas, suhu badan menurun drastis;

Nafsu makan menurun bahkan tidak mau makan sama sekali;

Air liur keluar berlebihan.

Pengendalian : vaksinasi dan sapi yang sakit diasingkan dan diobati secara terpisah

3. Penyakit ngorok/mendekur atau penyakit Septichaema epizootica (SE)  Penyebab : bakteri Pasturella multocida. Penularannya melalui makanan dan minuman yang tercemar bakteri. 

Gejala : –

Kulit kepala dan selaput lendir lidah membengkak, berwarna merah dan kebiruan;

Leher, anus, dan vulva membengkak;

Paru-paru meradang, selaput lendir usus dan perut masam dan berwarna merah tua;

Demam dan sulit bernafas sehingga mirip orang yang ngorok. Dalam keadaan sangat parah, sapi akan mati dalam waktu antara 12-36 jam.

Pengendalian : vaksinasi anti SE dan diberi antibiotika atau sulfa.

4. Penyakit radang kuku atau kuku busuk (foot rot) Penyakit ini menyerang sapi yang dipelihara dalam kandang yang basah dan kotor. 

Gejala : –

Mula-mula sekitar celah kuku bengkak dan mengeluarkan cairan putih keruh;

II.

Kulit kuku mengelupas;

Tumbuh benjolan yang menimbulkan rasa sakit;

Sapi pincang dan akhirnya bisa lumpuh.

Pencegahan Serangan Upaya pencegahan dan pengobatannya dilakukan dengan memotong kuku dan merendam bagian yang sakit dalam larutan refanol selama 30 menit yang diulangi seminggu sekali serta menempatkan sapi dalam kandang yang bersih dan kering.

BAB III METODE PRAKTIKUM A. Tempat dan Waktu Pelaksanaan Hari, Tanggal

: Jum’at, 15 Oktober 2021

Pukul

: 16.00 – 17.00

Lokasi

: Jalan Bandar Nomor 22, Sidoarjo, Jawa Timur.

B. Alat dan Bahan 1. Formulir Persyaratan 2. Alat Tulis 3. Kamera C. Metode Pengumpulan Data Metode Praktikum yang digunakan adalah observasi langsung ke tempat pemerahan susu sapi. Observasi ini dilakukan dengan cara mengamati dan pencatatan hasil berpedoman pada lembar formulir penilaian inspeksi pemerahan susu sapi. Di samping itu dilakuka wawancara yang ditujukan kepada petugas serta pengelolaan tempat pemerahan susu sapi sehingga diperoleh data primer. D. Prosedur Kerja Inspeksi Sanitasi 1. Membuat formulir penilaian 2. Mencari lokasi pemerahan susu sapi 3. Melakukan perijinan kepada pemilik peternakan sapi perah 4. Melakukan wawancara 5. Melakukan observasi proses pemerahan susu sapi secara langsung 6. Melakukan penilaian sesuai variable yang dinilai 7. Mengambil foto untuk dokumentasi 8. Melakukan analisis data, kesimpulan dan saran 9. Membuat laporan kerja

E. Prosedur Penilaian Inspeksi Sanitasi 1. Pengisian Identitas Instrumen yang meliputi : Tempat UD pemerahan sapi Nama

:

Alamat

:

Tanggal Pemeriksaan : Petugas Pemeriksa

:

2. Pemberian Nilai a. Angka pada kolom bobot merupakan angka yang telah ditetapkan sesuai form inspeksi yang digunakan b. Pemberian nilai maksimum dilakukan berdasarkan faktor resiko paling tinggi dari beberapa komponen yang ada pada setiap variabel, dengan batas nilai setiap variable sejumlah 10, selanjutnya dikalikan bobot menjadi skor maksimal c. Pemberian nilai pada kolom nilai yang diperoleh yaitu apabila kondisi peternakan tidak sesuai sebagaimana yang tercantum pada komponen penilaian, maka diberikan nilai 0. Bila sesuai sebagaimana tercantum pada komponen penilaian maka diberikan nilai sebesar angka pada kolom nilai maksimum. d. Perhitungan 1. Skor maksimum

= nilai maksimum x bobot

2. Skor yang diperoleh

= nilai yang diperoleh x bobot

3. Presentase skor

=

Jumlah skor yang diperoleh X 100% Jumlah skor maksimum

Penghitungan peternakan sapi perah  Menentukan Interval a. ∑ Skor Maksimal

= 2.800

b. ∑ Skor Minimal

= 850

c. Interval

=

=

∑ Skor Maksimal−∑ Skor Minimal Jumlah Kategori 2800−850 3

= 650  Menentukan Skala Kategori a. Skala 1 (Baik)

= ∑ Skor Maksimal – Interval

= 2800 – 650 = 2150 b. Skala 2 (Cukup)

= Skala 1 – Interval = 2150 – 650 = 1500

c. Skala 3 (Kurang)

= Skala 2 – Interval = 1500 – 650 = 850

 Menentukan Presentase Kategori a. Kategori Baik

= (Skala 1 : Skor Maksimal) x 100% = (2150 : 2800) x 100% = 76,8%

b.

Kategori Cukup = (Skala 2 : Skor Maksimal) x 100% = (1500 : 2800) x 100% = 53,6%

c.

Kategori Kurang

= (Skala 3 : Skor Maksimal) x 100% = (850 : 2800) x 100% = 30,4%

e. Berdasarkan perhitungan presentase skor penilaian sanitasi tempat pemerahan sapi dibagi menjadi 3 kategori, yaitu : 1)

Batas kategori baik (Skala 1)

= 76,8% – 100%

2)

Batas kategori cukup (Skala 2) = 53,6% – 76,8%

3)

Batas kategori kurang (Skala 3) = 30,4% – 53,6%

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Gambaran Umum Peternakan Sapi Perah

Gambar 4.A.1 Peternakan Sapi Perah Bapak Harjuna Peternakan sapi perah yang kami kunjungi adalah peternakan sapi perah milik bapak Harjuna yang berlokasi di jalan Jalan Bandar Nomor 22, Sidoarjo, Jawa Timur. Usaha peternakan sapi perah ini dimulai dari tahun 2009. Berawal dari hanya seekor sapi betina saja, kini pada tahun 2021, jumlah sapi perah yang dimiliki berkembang menjadi sebanyak 13 ekor sapi termasuk sapi dewasa dan sapi yang masih anak-anak. Proses pemerahan pada sapi dilakukan sebanyak 2 kali dalam sehari. Waktu dilakukannya yaitu pada pagi hari pukul 05.00 WIB dan pada sore hari pukul 15.00 WIB. Pemerahan dilakukan oleh bapak Harjuna juga anaknya, sebab dalam usaha peternakan ini tidak memiliki pegawai tetap tambahan selain anak pak Harjuna. Jika proses pemerahan dan perawatan sapi dilakukan oleh bapak Harjuna dan anaknya, pada proses pembersihan kandang sapi dilakukan oleh istri bapak Harjuna. Pembersihan kandang dilakukan pada pagi dan sore hari. Rata-rata hasil pemerahan susu sapi menghasilkan 80 liter dalam sehari. Pada pagi hari jumlah susu yang didapat 35 liter susu, lebih banyak disbanding pemerahan susu di sore hari yaitu mencapai 25 liter saja. Susu tersebut diwadahi dalam milk can. Susu hasil pemerahan dikirim pada distribusi Anugerah juga pelanggan-pelanggan di kota yang memesan susu. Dalam sehari sapi-sapi perah diberi makan 10 sak yang berisi macammacam pakan sapi. Sak pakan sapi tersebut dapat berisi kulit singkong, rumput atau ampas tahu. Pakan tersebut diperoleh dari rekan sejawat yang mampu memperoleh dan

mencarikan bermacam-macam pakan sapi tersebut. Sapi-sapi yang jika sudah terlalu tua untuk dapat memproduksi susu maka akan didagangkan kepada penjagal sapi.

B. Hasil Penilaian dan Pembahasan Penilaian di lakukan dengan menggunakan Keputusan Menteri Pertanian Nomor : 422/Kpts/OT/210/7/2001 tentang Pedoman Budidaya Ternak Sapi Perah yang Baik (Good Farming Practice). Hasil lengkap seperti tersebut dalam lampiran dengan data sebagai berikut : Nama Pemilik

: Bapak Harjuna

Alamat

: Jalan Bandar Nomor 22, Sidoarjo, Jawa Timur

Tanggal Pemeriksaan : Jum’at, 15 Oktober 2021 Petugas Pemeriksa

: 1) Aisyah Al-Mas’Udah 2) Berlinda Rekta Putri Januariska 3) Dewi Lia Listyawati 4) Firdausy Lintang Tunggadewi 5) Fitria Dwi Yuliatiningsih Sumartin 6) Muhammad Ulil Amri Hanifa 7) Rieke Indah Maharani 8) Sugiana 9) Tengku Hendrawan Al Ubaidah

Hasil Penilaian Sanitasi Pemerahan Susu menggunakan instrument penilaian adalah sebagai berikut: 1. Lokasi dan Lingkungan Produksi Tabel 4.B.1 Hasil Penilaian Variabel Lokasi dan Lingkungan Produksi N Komponen

Bobot Nila Nilai

o

i

hasil

Max I

Lokasi Dan Lingkungan

1

Produksi Lokasi

Sko

Sko Kategori

r

r

Max hasil

15

a. Lokasi pemerahan susu sapi

10

5

a. Tempat sampah selalu

3

1

45

15

tertutup b. Sampah dibuang dan tidak

4

2

60

30

3

1

45

15

20

9

seharusnya

dijaga

150

75

tetap

bersih, bebas dari sampah, bau, kotoran. 2 Lingkungan

menumpuk c.

Jalan

terpelihara,

selokan

kedap air dan lancar Jumlah

Presentase Skor

=

Ʃ Skor yang Diperoleh x 100 % Ʃ Skor Maksimal

=

135 x 100 % = 45% (Kategori Kurang) 300

300

135

Pembahasan: Hasil penilaian kami terhadap komponen lokasi dan lingkungan produksi ini memperoleh skor sebesar 135 dari skor maksimal 300 dengan persentase skor sebesar 45%. Skor penilaian tersebut masuk dalam kategori kurang.

a. Lokasi pemerahan susu sapi seharusnya dijaga tetap bersih, bebas dari sampah, bau, kotoran. Penilaian kami terhadap variabel ini masih belum memenuhi, karena pada lokasi pemerahan yang kami amati masih terdapat karung-karung berserakan, terdapat kotoran debu-debu di langit-langit. Tercium bau yang kurang menyenangkan sebab pada kandang terdapat tumpukan sak makanan ampas tahu dimana mengeluarkan air sehingga jalan untuk keluar masuk kandang agak basah dan licin. Selain itu pada kandang sapi terdapat hewan-hewan lain yang tinggal seperti ayam dan burung yang mungkin menambah bau. Dengan pertimbangan tersebut maka kami beri nilai 5. b. Lingkungan seharusnya selalu dipertahankan dalam keadaan bersih dengan cara – cara sebagai berikut: 1) Tempat sampah selalu tertutup Pada komponen tempat sampah disni kami beri nilai 1 karena kami menemukan wadah sampah yang terbuka. 2) Sampah dibuang dan tidak menumpuk Pada komponen sampah disini kami beri nilai 2 karena pada lingkungan sekitar lokasi pemerahan yang kami kunjungi terdapat sampah yang menumpuk. 3) Jalan terpelihara dan selokannya berfungsi Pada komponen jalan dan selokan disini kami beri nilai 1 karena jalan untuk mengakses ke kandang sapi kurang terpelihara seperti terdapat tumpukan sak pada akses keluar masuk juga jalan agak basah. Pada saat kami melakukan pengamatan selokan terlihat sedikit menggenang air. 2. Bangunan dan Fasilitas Tabel 4.B.2 Hasil Penilaian Variabel Bangunan dan Fasilitas N

Komponen

Bobot Nila Nilai

o

i Max

II

Bangunan Dan Fasilitas

25

hasil

Sko

Sko

Kategor

r

r

i

Max hasil

1

Kandang ternak a. Bersih

2

1

50

25

b. Kontruksi ruangan kuat

2

2

50

50

c. Langit-langit kuat, tahan

2

1

50

25

2

1

50

25

2

1

50

25

a. Bersih

2

1

50

25

b. Kontruksi ruangan kuat

2

2

50

50

1

1

25

25

1

1

25

25

2

2

50

50

terhadap air, tidak mudah bocor,

tidak

mudah

terkelupas atau terkikis dan bersih d. Drainase

dan

saluran

pembuangan limbah lancar e. Lantai sebaiknya terbuat dari bahan kedap air, rata, tidak licin,

kuat,

memudahkan

pembuangan atau pengaliran 2

air, air tidak tergenang. Ruang Produksi

c.

Ruang

produksi

tidak

digunakan memproduksi

untuk produk

lain

selain pangan d. Dinding atau pemisah ruang kedap air, rata, halus, tahan lama,tidak

mudah

mengelupas, dan kuat/kokoh dan bersih e. Pintu ruangan kuat, tidak mudah pecah atau rusak, rata, halus, berwarna terang dan membuka samping

keluar

/

ke

f. Lantai sebaiknya terbuat dari

2

1

50

25

bahan kedap air, rata, tidak licin,

kuat,

memudahkan

pembuangan atau pengaliran 3

air, air tidak tergenang. Kelengkapan Ruang Produksi a.

Ruang

produksi

5

5

125

125

b.

sebaiknya cukup terang Terdapat tempat mencuci

5

5

125

125

30

24

tangan dengan sabun dan pengeringnya. Jumlah

Presentase Skor

= =

750

570

Ʃ Skor yang Diperoleh x 100 % Ʃ Skor Maksimal 570 x 100 % = 76% (Kategori Cukup ) 750

Pembahasan: Hasil penilaian kami terhadap komponen Bangunan dan Fasilitas ini memperoleh skor sebesar 570 dari skor maksimal 750, yang mana skor penilaian tersebut masuk dalam kategori baik. a. Bangunan kandang ternak 1) Konstruksi kandang Pada komponen kontruksi ruangan kami beri nilai 2 karena pada bangunan yang kami identifikasi kontruksi bangunannya terbuat dari batu bata dan semen yang dipastikan dapat bertahan lama, selain itu tiang – tiang juga terbuat dari semen. 2) Langit-langit Pada komponen tersebut pada langit – langit di peternakan yang kami kunjungi bahannya sudah termasuk bahan yang tahan lama, tahan terhadap air, tidak mudah bocor yaitu kayu.

3) Drainase Pada komponen tersebut pada drainase di peternakan yang kami kunjungi bahannya sudah termasuk bahan yang tahan lama, tahan terhadap air dan lancar. 4) Lantai

komponen syarat lantai kami beri nilai 1 karena pada lantai tempat

pemerahan sapi yang kami kunjungi licin dan ada genangan air di tempat pemerahan sapi. b. Ruang produksi 1) Ruang produksi sebaiknya tidak digunakan untuk memproduksi produk lain selain pangan Pada

komponen

fungsi

ruang produksi

tidak

digunakan

untuk

memproduksi produk lain selain pangan, dimana pada bangunan yang kami identifikasi hanya digunakan untuk memproduksi susu pemerahan sapi. 2) Pintu Pada komponen pintu kami beri nilai 2 karena pada peternakan yang kami kunjungi terdapat pintu ataupun pagar 3) Lantai Pada komponen syarat lantai kami beri nilai 1 karena pada lantai ruang produksi yang kami kunjungi licin dan ada genangan air di sekitar ruangan produksi susu perah. 4) Konstruksi ruangan kuat Pada komponen kontruksi ruangan kami beri nilai 2 karena pada bangunan yang kami identifikasi kontruksi bangunannya terbuat dari batu bata dan semen yang dipastikan dapat bertahan lama, selain itu tiang – tiang juga terbuat dari semen. 5) Dinding Pada komponen kriteria dinding, dinding di peternakan yang kami kunjungi dibuat dari bahan batu bata dan semen yang di cat warna putih,

tentunya bahan tersebut kedap terhadap air, rata, halus, tahan lama, kuat dan tidak mengelupas

c. Kelengkapan ruang produksi 1) Ruang produksi sebaiknya cukup terang sehingga karyawan dapat mengerjakan tugasnya dengan teliti Pada komponen penerangan ruang produksi kami beri nilai 5 karena ruang produksi berada di dalam ruangan, sehingga jika malam hari / dini hari mendapat bantuan dari pencahayaan lampu yang tersedia di ruang produksi. 2) Di ruang produksi terdapat tempat untuk mencuci tangan yang selalu dalam keadaan bersih serta dilengkapi dengan sabun dan pengeringnya Pada komponen tersebut kami beri nilai 5 karena di peternakan yang kami kunjungi terdapat tempat cuci tangan yang bersih yang dilengkapi dengan sabun dan pengeringnya (lap). 3. Peralatan Produksi Tabel 4.B.3 Hasil Penilaian Variabel Peralatan Produksi N

Komponen

Bobot Nila Nilai

o

i

hasil

Max II

Peralatan Produksi

I 1

Persyaratan Bahan Peralatan

Sko

Sko

r

r

Max hasil

15

Produksi a. Bersih

2

2

30

30

b. Tahan lama

2

2

30

30

c. Terbuat dari bahan kuat

2

2

30

30

Kategori

d. Mudah dipindahkan atau

2

2

30

30

2

2

30

30

a. Bersih

4

4

60

60

b. Terbuat dari bahan kuat

3

3

45

45

c. Tersedia alat ukur/timbang

3

45

20

17

300

255

dibongkar pasang e.

Permukaan

yang

kontak

langsung dengan pangan halus, tidak bercelah atau berlubang, tidak 2

mengelupas,

tidak

berkarat dan kedap air Bahan perlengkapan dan alat ukur/timbang

Jumlah

Presentase Skor =

Ʃ Skor yang Diperoleh x 100 % Ʃ Skor Maksimal 255 x 100 % = 85% (Kategori Baik) 300

Pembahasan : Hasil penilaian terhadap variabel peralatan produksi ini memperoleh skor sebesar 255 dari skor maksimal 300, yang mana skor penilaian tersebut masuk dalam kategori baik. a. Persyaratan bahan peralatan produksi Peralatan dapat menjadi faktor resiko terjadinya kontaminasi pangan, karena peralatan merupakan sesuatu yang bersentuhan langsung dengan hasil pangan. Oleh sebab itu, peralatan harus diperhatikan bahannya, keadaan peralatannya, dampak penggunaannya. b. Bahan perlengkapan dan lat ukur / timbang

Komponen tersebut kami beri nilai 0 karena pada peternakan yang kami kunjungi tidak terdapat alat ukur / timbangan.

4. Suplai Air dan Sarana Air Bersih Tabel 4.B.4 Hasil Penilaian Variabel Suplai Air dan Sarana Air Bersih N

Komponen

Bobot Nila Nilai

o

i

hasil

Max

Sko

Sko

r

r

Kategori

Max hasil

I

Suplai Air Atau Sarana Air

10

V

Bersih 1. Air bersih

5

5

50

50

2. Tersedia air dengan jumlah

5

5

50

50

10

10

yang cukup Jumlah

Presentase Skor

=

Ʃ Skor yang Diperoleh x 100 % Ʃ Skor Maksimal

=

100 x 100 % = 100% (Kategori Baik) 100

100

100

Pembahasan: Pada peternakan sapi pak Harjuna, air yang digunakan untuk suplai air dan sarana air bersih dapat dinyatakan air bersih dan dengan jumlah yang memenuhi kebutuhan pemerahan. Jenis air yang digunakan merupakan air sumur yang berada dekat dengan peternakan, sehingga mudah dijangkau. Pada Permenkes No.32 Tahun 2017 tentang air bersih yang digunakan untuk keperluan hygiene sanitasi, sumur (air bersih) haruslah memenuhi syarat fisik yaitu tidak berbau, berwarna, dan berasa. 5. Fasilitas dan Kegiatan Sanitasi Tabel 4.B.5 Hasil Penilaian Variabel Fasilitas dan Kegiatan Sanitasi

No Komponen

Bobot

Nilai Nilai Max

Skor Skor Kategori

hasil Max hasil

V

Fasilitas Dan Kegiatan Sanitasi 15

1 Sarana Pembersihan / Pencucian a. Tersedia sarana pembersihan/ pencucian

bahan

4

2

60

30

3

3

45

45

3

3

45

45

5

5

75

75

5

5

75

75

4

4

60

60

3

1

45

15

3

1

45

15

4

1

60

15

pangan,

peralatan, perlengkapan dan bangunan b. Mudah dibersihkan c.

Sarana

pembersihan

harus

dilengkapi dengan sumber air bersih 2 Sarana Higiene Karyawan a. Tersedia sarana cuci tangan yang bersih b. Tersedia sarana toilet / jamban seharusnya jumlah

tersedia

cukup

dalam

dan

dalam

dekat

ruang

keadaan bersih. 3 Sarana Cuci Tangan a.Diletakkan

di

produksi, dilengkapi air bersih dan sabun cuci tangan b.Dilengkapi

dengan

alat

pengering tangan yang bersih. c.Dilengkapi

dengan

tempat

sampah yang tertutup. 4 Sarana pembuangan air dan limbah a. Sistem pembuangan limbah tertutup

b. Sampah dibuang ke tempat

3

3

45

45

3

1

45

15

sampah c. Tempat sampah harus terbuat dari bahan yang kuat dan tertutup rapat 5 Kegiatan hygiene dan sanitasi a.

Pembersihan

peralatan

produksi dilakukan secara rutin. b.Ada

karyawan

bertanggung kegiatan

jawab

3

75

45

yang terhadap

pembersihan

atau

pencucian Jumlah

Presentase Skor

5

5

5

50

37

=

Ʃ Skor yang Diperoleh x 100 % Ʃ Skor Maksimal

=

555 x 100 % = 70% (Kategori Cukup) 750

75

750

75

555

Pembahasan: Hasil penilaian terhadap variabel Fasilitas dan kegiatan Sanitasi ini memperoleh skor sebesar 555 dari skor maksimal 750 dengan persentase skor 70%. Penilaian tersebut masuk dalam kategori baik. a. Fasilitas Higiene dan Sanitasi Sarana pembersihan / pencucian 1) Sarana pembersihan / pencucian bahan pangan Dalam komponen penilaian tersebut kami beri nilai 2 karena pada peternakan yang kami kunjungi sarana pembersihan atau pencucian bahan pangan, peralatan, perlengkapan dan bangunan (lantai, dinding) masih belum memenuhi. Berdasarkan hasil wawancara kami, tidak dilakukan pembersihan bahan pangan yang sebaiknya dilakukan. Selain itu pada bangunan terlihat kurang bersih dan tidak terlihat adanya sarana untuk membersihkan bangunan peternakan. Namun untuk sarana pembersihan alat dan perlengkapan terdapat

sarana wadah untuk menampung air bersih, sabun, juga selang yang mengaliri air bersih.

2) Sarana pembersihan harus dilengkapi dengan sumber air bersih Pada komponen tersebut kami beri nilai 3 karena berdasarkan pengamatan kami adanya air bersih yang dapat mengalir melalui selang air juga adanya wadah berisi air bersih. b. Sarana Higiene Karyawan Pada komponen sarana hygiene karyawan kami beri nilai 5 karena fasilitas untuk cuci tangan dan toilet/ jamban telah tersedia dalam keadaan baik. c. Sarana Cuci Tangan 1) Pada komponen letak sarana cuci tangan kami beri nilai 4 karena letak sarana cuci tangan sudah berada didekat ruang produksi, dilengkapi air bersih, dan sabun cuci tangan. 2) Pada komponen alat pengering kami beri nilai 1 karena berdasarkan pengamatan kami, untuk sarana cuci tangannya tidak terdapat alat pengering tangan. 3) Pada komponen tempat sampah kami beri nilai 1 karena di peternakan yang kami kunjungi tidak terdapat tempat sampah yang tertutup di sebelah atau didekat sarana cuci tangan. d. Sarana Pembuangan Air dan Limbah 1) Sistem pembuangan limbah Pada komponen sistem pembuangan limbah kami beri nilai 1 karena pada peternakan yang kami kunjungi tidak memiliki sistem pembuangan limbah yang didesain dapat mencegah pencemaran. Limbah padat yang dihasilkan biasanya berupa kotoran sapi, sisa pakan ternak seperti rumput sedangkan limbah cair yang dihasilkan berupa hasil pembersihan kandang seperti urin sapi, kotoran sapi yang terlarut. 2) Sampah harus segera dibuang ke tempat sampah Pada komponen ini kami memberi nilai 3 sebab berdasarkan hasil observasi pada peternakan terlihat sampah-sampah tidak berserakan dan berada masuk ke dalam tempat sampah.

3) Kriteria tempat sampah Pada komponen tempat sampah kami mimberi nilai 1 sebab berdasarkan hasil observasi, kami menemukan adanya tempat sampah yang tidak tertutup. Tempat sampah tersebut penuh juga terlihat adanya lalat berterbangan di sekitarnya, dimana lalat-lalat tersebut dapat berisiko menjadi vektor penyakit. Selain itu juga dapat mengundang binatang pengganggu seperti tikus dan binatang-binatang lain. e. Kegiatan Higiene dan Sanitasi Pada komponen kegiatan hygiene dan sanitasi, kami memberikan nilai 3 sebab walaupun dilakukan pembersihan kandang ternak secara rutin yaitu dua kali sehari, namun pada bangunan serta penataan peralatan dan perlengkapan masih belum memenuhi. Terlihat bangunan masih kurang bersih seperti terlihat debu tebal menempel pada langit-langit, juga pada akses keluar masuk jalannya licin. Namun berdasarkan hasil wawancara kami, terdapat penanggung jawab terhadap kegiatan pembersihan atau pencucian peternakan sapi perah. 6. Kesehatan dan Higiene Karyawan Tabel 4.B.6 Hasil Penilaian Variabel Kesehatan dan Higiene Karyawan N Komponen

Bobot Nila Nilai

o

i

hasil

Max V Kesehatan I 1

Dan

Sko

r

r

Max hasil

Higiene

Karyawan Kesehatan karyawan a. Karyawan yang bekerja di bagian

pangan

ke

ruang

produksi

5

5

50

50

5

5

50

50

5

3

50

30

dalam

keadaan sehat b. Tidak diperkenankan masuk

2

Sko

jika

10

menderita penyakit menular Kebersihan Karyawan a. Karyawan yang menangani

Kategori

pangan

bersih

dan

mengenakan pakaian kerja yang

bersih dan / atau

sepatu kerja, menutup luka di anggota tubuh dengan perban khusus luka. b. Karyawan mencuci tangan

5

5

50

50

5

5

50

50

lain b. Karyawan di bagian pangan

5

5

50

50

tidak mengenakan perhiasan Jumlah

30

28

dengan

sabun

sebelum

memulai 3

kegiatan

pemerahan Kebiasaan Karyawan a. Karyawan yang bekerja tidak makan

dan

minum,

merokok, meludah, bersin atau batuk ke arah pangan atau

melakukan

Presentase Skor

tindakan

=

Ʃ Skor yang Diperoleh x 100 % Ʃ Skor Maksimal

=

280 x 100 % = 93% (Kategori Baik) 300

300

280

Pembahasan: Hasil penilaian terhadap variabel kesehatan dan Higiene Karyawan ini memperoleh skor sebesar 280 dari skor maksimal 300, dimana presentase skor yang diperoleh yaitu 93%. Pada skor penilaian tersebut masuk dalam kategori baik. a. Kesehatan karyawan Komponen kesehatan karyawan kami beri nilai 5 karena karyawan yang bekerja telah berada dalam kategori baik, yaitu tidak mengalami sakit dan tidak menunjukkan gejala penyakit menular.

b. Kebersihan karyawan Berdasarkan hasil observasi kami, karyawan di peternakan tersebut telah menjaga kebersihan badannya, terlihat pakaian yang digunakan juga dalam kategori baik karena tidak berbau dan tidak menempelnya kotoran di pakaiannya. Namun terlihat dalam pembersihan kandang, petugas masih belum menggunakan alas kaki yang sesuai. Petugas masih menggunakan sandal jepit, tidak memakai sepatu kerja. Sedangkan karyawan yang melakukan pemerahan sapi tidak terlihat luka di anggota tubuhnya, dan setiap karyawan hendak memerah susu, melakukan pencucian tangan dengan sabun setelah melakukan pembersihan kandang. c. Kebiasaan karyawan Pada komponen kebiasaan karyawan kami beri nilai 5 karena karywan memenuhi persyaratan saat proses memerah yaitu yaitu karyawan yang bekerja sebaiknya tidak makan dan minum, merokok, meludah, bersin atau batuk ke arah pangan atau melakukan tindakan lain di tempat produksi yang dapat mengakibatkan pencemaran produk pangan. Karyawan juga tidak mengenakan perhiasan seperti anting, cincin, gelang, kalung, jam tangan, bros dan peniti atau benda lainnya yang dapat membahayakan keamanan pangan yang diolah. 7. Penyimpanan Tabel 4.B.7 Hasil Penilaian Variabel Penyimpanan N Komponen

Bobot Nila Nilai

o

i

hasil

Max VI Penyimpanan

Sko

Sko

r

r

Max hasil

10

I 1 Penyimpanan Produk Akhir (Susu) a. Produk terpisah

akhir

disimpan

dalam

ruangan

yang bersih, sesuai dengan suhu penyimpanan, bebas hama, cukup

dan

penerangan

4

3

40

30

Kategori

b. Penyimpanan bahan baku tidak

boleh

3

3

30

30

3

2

30

20

5

5

50

50

5

5

50

50

5

4

50

40

5

4

50

40

30

28

menyentuh

lantai,

menempel

dinding

maupun

ke langit-

langit c. Penyimpanan bahan dan produk akhir diberi tanda dan menggunakan sistem First In First Out (FIFO) 2 Penyimpanan

Wadah

dan

Pengemasan a. Penyimpanan wadah dan pengemas rapih, di tempat b.

bersih dan terlindung Bahan pengemas disimpan

terpisah

harus dengan

bahan baku dan produk akhir. 3 Penyimpanan Peralatan Produksi a.

Penyimpanan

mesin

/

peralatan produksi di tempat bersih dan dalam kondisi baik. b. Tidak terdapat genangan air Jumlah

Presentase Skor

=

Ʃ Skor yang Diperoleh x 100 % Ʃ Skor Maksimal

=

280 x 100 % = 93 % ( Kategori Baik) 300

300

280

Pembahasan : Hasil penilaian terhadap variabel sanitasi ini memperoleh skor sebesar 280 dari skor maksimal 300, yang mana skor penilaian tersebut masuk dalam kategori baik.

a. Penyimpanan produk akhir 1) Pada komponen produk akhir (susu) disimpan dalam ruangan yang bersih dan sesuai kami beri nilai 3 karena susu segar ini diasukkan di kukas dengan . 2) Pada komponen penyimpanan bahan baku 3) Pada komponen pemberian tanda pada penyimpanan bahan dan produk akhir kami beri nilai 2 karena pada peternakan yang kami kunjungi memisahkan hasil produk susu untuk dijual terlebih dahulu dan disimpan, sehingga menggunakan sistem First In First Out (FIFO) namun tidak memberi label pada tempat susu tersebut . b. Penyimpanan wadah dan pengemasan 1) Pada komponen penyimpanan dan pengemas harus rapih, di tempat bersih dan terlindungi kami beri nilai 5 karena penyimpanan wadah dan kemasan (kantong plastik) diletakkan di tempat tertutup dan aman. 2) Pada komponen bahan pengemas harus disimpan terpisah dengan hasil akhir dan bahan baku kami beri nilai 5 karena bahan pengemas pada peternakan yang kami kunjungi menyimpannya di tempat yang terpisah dari hasil akhir dan bahan baku. c. Penyimpanan peralatan produksi Pada komponen penyimpanan peralatan produksi kami beri nilai 4 karena penyimpanan peralatan produksi yang telah dibersihkan tetapi belum digunakan telah disimpan di tempat bersih, terdapat pula genangan airnya. Selain itu, permukaan peralatan dihadapkan ke bawah agar terlindung dari debu, kotoran atau pencemar lainnya.

8. Rekapitulasi Hasil Formulir Tabel 4.B.8 Rekapitulasi Hasil Formulir NO. VARIABEL

SKOR

SKOR

PRESENTASE

MAX

YANG

SKOR

DIPEROLEH

(KATEGORI)

1.

Lokasi dan Lingkungan Produksi

300

135

45% (Kurang)

2.

Bangunan dan Fasilitas

750

570

76% (Cukup)

3.

Peralatan Produksi

300

255

85% (Baik)

4.

Suplai Air atau Sarana Air Bersih

100

100

100% (Baik)

5.

Fasilitas dan Kegiatan Sanitasi

750

555

70% (Cukup)

6.

Kesehatan dan Higiene Karyawan

300

280

93% (Baik)

7.

Penyimpanan

300

280

93% (Baik)

2800

2175

TOTAL

Presentase Skor

=

Ʃ Skor yang Diperoleh x 100 % Ʃ Skor Maksimal

=

2175 x 100 % = 77,7% (Kategori Baik) 2800

BAB V PENUTUP A. Kesimpulan Dari hasil pengamatan yang kami lakukan pada tanggal 15 Oktober 2021 di peternakan sapi perah bapak harjuna Jaya yang berlokasi di jalan Bandar no 22 pak harjuna, Kota Sidoarjo, Jawa Timut. Pukul 14.00 sampai selesai dapat ditarik kesimpulan bahwa: 1. Lokasi dan lingkungan produksi terbilang dalam kategori cukup karena lokasi peternakan yang kami kunjungi kebersihannya sudah baik dari lantai, dinding, dan bangunan. Sedangkan untuk kebersihan lingkungannya sudah cukup, tetapi untuk tempat sampah dan selokan perlu diperbaiki. 2. Bangunan dan fasilitas pada peternakan yang kami kunjungi terbilang dalam kategori baik karena bangunan ruang produksi, lantai, dinding, permukaan tempat kerja, kelengkapan ruang produksi sudah sesuai dengan yang dianjurkan. Akan tetapi ada beberapa yang belum sesuai seperti langit – langit dan pintunya. 3. Peralatan produksi pada peternakan yang kami kunjungi terbilang dalam kategori baik karena untuk persyaratan bahan peralatan, pengawasan dan pemantauan peralatan sudah sesuai dengan yang ditentukan. 4. Suplai air yang digunakan untuk proses produksi terbilang dalam kategori baik karena ketersediannya dalam jumlah yang cukup dan air nya telah memenuhisyarat fisik sebagai air bersih (tidak berbau, tidak berwarna, tidak berasa). 5. Fasilitas dan kegiatan sanitasi terbilang dalam kategori cukup karena untuk peralatan kegiatan sanitasi ada yang tidak tersedia tetapi alat yang sudah tersedia pembersihannya sudah sesuai, fasilitas cuci tangan dan toilet tersedia dalam jumlah cukup tetapi tidak bersih, ketersediaan tempat sampah di dekat tempat cuci tangan tidak tersedia, pembuangan limbah tidak sesuai dengan yang ditentukan. 6. Penyimpanan dalam kategori baik karena produk akhir susu dismpan di kulkas, akan tetapi langsusng habis setelah di perah dan penyimpanan wadah/ pengemas Laporan Penyahatan Makanan Dan Minuman – B ǀ30 (plastik) karena disimpan di tempat tertutup. B. Saran

Dari hasil kunjungan yang telah kami lakukan, maka kami dapat menyarankan untuk : 1. Sebaiknya pemilik sapi perah lebih memperhatikan perawatan lantai diperhatikan dengan baik, agar tidak terjadi kecelakaan saat kerja (terpeleset). 2. Sebaiknya pada saat memandikan sapi dilakukan penggosokan badan sapi menggunakan sikat bukan menggunakan telapak tangan, agar bakteri pada badan sapi dapat hilang dan tidak menempel pada karyawan yang akan memerah sapi. 3. Sebaiknya peternakan ini memperbaiki sistem pembuangan limbah menjadi yang sesuai agar tidak terjadi kontaminasi pangan pada produk yang dihasilkan dan pencemaran pada lingkungan serta tidak mengganggu kenyamanan masyarakat sekitar.

DAFTAR PUSTAKA Suwanto. 2015. Peranan Pemerintah Desa Pudak Wetan Kecamatan Pudak Kabupaten Ponorogo Dalam Memberdayakan Peternak Sapi Perah. Skripsi thesis, Universitas Muhammadiyah Ponorogo. Rahmawati, Riska. 2020. Analisis Critical Control Point pada Pengolahan Susu Sapi Pasteurisasi terhadap Potensi Bahaya Biologis dengan Menggunakan Total Plate Count (PTC). Skripsi thesis, Universitas Jember. Peraturan Menteri Pertanian RI Nomor 100 Tahun 2014 tentang Pedoman Pembibitan Sapi Perah yang Baik. Jakarta: Kementerian Pertanian Peraturan Menteri Pertanian RI Nomor 100 Tahun 2014 tentang Pendaftaran dan Perizinan Usaha Peternakan Pratiwi, Dyah Ayu. 2018. Personal Higiene Pemerah Susu Sapi dan Pemeriksaan Kandungan Salmonella sp. Pada Susu Sapi Perah Dari Beberapa Lokasi Peternakan Sapi Perah di Kota Medan Tahun 2017. Universitas Sumatera Utara Medan. Suriasih, Subagiana, dan Saribu. 2015. Ilmu Produksi Ternak Perah. Universitas Udayana Denmark P. Budidaya Ternak Sapi Perah. Dinas Pertanian Daerah Istimewa Yogyakarta

Link Video : https://tinyurl.com/SAPI-PERAH-KELOMPOK-4

LAMPIRAN A. Formulir inpeksi peternakan sapi perah INSTRUMEN PENILAIAN SANITASI TEMPAT PETERNAKAN SAPI PERAH Menurut Keputusan Menteri Pertanian Nomor : 422/Kpts/OT.210/72001 Nama Peternakan Sapi

:

Alamat

:

Tanggal Pemeriksaan

:

Nama Pemeriksa

:

No

Komponen

I

Lokasi Dan Lingkungan Produksi

1

Lokasi

Bobot

Nilai Nilai Skor Skor Max hasil Max hasil

Kategori

a. Lokasi pemerahan susu sapi seharusnya dijaga tetap bersih, bebas dari sampah,

10

7

150

105

Baik

a. Tempat sampah selalu tertutup

3

45

Kurang

b. Sampah dibuang dan tidak menumpuk

4

2

60

30

Baik

3

3

45

45

Kurang

a. Bersih

2

1

50

25

Cukup

b. Kontruksi ruangan kuat

2

2

50

50

Baik

bau, kotoran. 2 Lingkungan

15

c. Jalan terpelihara, selokan kedap air dan lancar II Bangunan dan Fasilitas 1 Kandang ternak 25

c. Langit-langit kuat, tahan terhadap air, tidak mudah bocor, tidak mudah

2

2

50

50

Baik

2

2

50

50

Baik

2

2

50

50

Baik

a. Bersih

2

2

50

50

b. Kontruksi ruangan kuat

2

2

50

50

1

1

25

25

1

1

25

25

2

2

50

50

2

2

50

50

5

5

125

125

5

5

125

125

terkelupas atau terkikis dan bersih d. Drainase dan saluran pembuangan limbah lancar e. Lantai sebaiknya terbuat dari bahan kedap air, rata, tidak licin, kuat, memudahkan pembuangan atau pengaliran air, air tidak tergenang. 2 Ruang Produksi

c. Ruang produksi tidak digunakan untuk memproduksi produk lain selain pangan d. Dinding atau pemisah ruang kedap air, rata, halus, tahan lama, tidak mudah mengelupas, dan kuat/kokoh dan bersih e. Pintu ruangan kuat, tidak mudah pecah atau rusak, rata, halus, berwarna terang dan membuka keluar / ke samping f. Lantai sebaiknya terbuat dari bahan kedap air, rata, tidak licin, kuat, memudahkan pembuangan atau pengaliran air, air tidak tergenang. 3 Kelengkapan Ruang Produksi a. Ruang

produksi

sebaiknya

cukup terang sehingga karyawan dapat mengerjakan tugasnya dengan teliti. b. Terdapat tempat mencuci tangan dengan sabun dan pengeringnya. III Peralatan Produksi

15

1 Persyaratan Bahan Peralatan Produksi a. Bersih

2

2

30

30

b. Tahan lama

2

2

30

30

c. Terbuat dari bahan kuat

2

2

30

30

2

2

30

30

2

2

30

30

a. Bersih

4

4

60

60

b. Terbuat dari bahan kuat

3

3

45

45

c. Tersedia alat ukur/timbang

3

45

5

5

50

50

Baik

5

5

50

50

Baik

4

3

60

45

Cukup

3

3

45

45

Baik

d. Mudah dipindahkan atau dibongkar pasang e. Permukaan yang kontak langsung dengan pangan halus, tidak bercelah atau berlubang, tidak mengelupas, tidak

2

berkarat dan kedap air Bahan perlengkapan dan alat ukur/timbang

IV Suplai Air Atau Sarana Air Bersih 1. Air bersih

10

2. Tersedia air bersih dengan jumlah yang cukup V Fasilitas Dan Kegiatan Sanitasi 1 Sarana Pembersihan / Pencucian a. Tersedia sarana pembersihan/ pencucian bahan pangan, peralatan, perlengkapan

15

dan bangunan b. Mudah dibersihkan

c. Sarana pembersihan harus dilengkapi

3

3

45

45

Baik

5

5

75

75

Baik

5

5

75

75

Baik

4

4

60

60

Baik

3

3

45

45

Baik

3

45

Kurang

a. Sistem pembuangan limbah tertutup

4

60

Kurang

b. Sampah dibuang ke tempat sampah

3

45

Kurang

3

45

Kurang

5

5

75

75

Baik

5

5

75

75

Baik

dengan sumber air bersih 2 Sarana Higiene Karyawan a. Tersedia sarana cuci tangan yang bersih b. Tersedia sarana toilet / jamban seharusnya tersedia dalam jumlah cukup dan dalam keadaan tidak bersih. 3 Sarana Cuci Tangan a. Diletakkan di dekat ruang produksi, dilengkapi air bersih dan sabun cuci tangan b. Dilengkapi dengan alat pengering tangan yang bersih. c. Dilengkapi dengan tempat sampah yang tertutup. 4 Sarana pembuangan air dan limbah

c. Tempat sampah harus terbuat dari bahan yang kuat dan tertutup rapat 5 Kegiatan hygiene dan sanitasi a. Pembersihan peralatan produksi dilakukan secara rutin. b. Ada karyawan yang bertanggung jawab terhadap kegiatan pembersihan / pencucian VI Kesehatan Dan Higiene Karyawan 10 1 Kesehatan karyawan

a. Karyawan yang bekerja di bagian pangan dalam keadaan sehat b. Tidak diperkenankan masuk ke ruiang produksi jika menderita penyakit

5

5

50

50

Baik

5

5

50

50

Baik

5

5

50

50

Baik

5

5

50

50

Baik

5

5

50

50

Baik

5

5

50

50

Baik

4

4

40

40

Baik

3

3

30

30

Baik

3

2

30

20

Baik

menular 2 Kebersihan Karyawan a. Karyawan yang menangani pangan bersih dan mengenakan pakaian kerja yang bersih dan / atau sepatu kerja, menutup luka di anggota tubuh dengan perban khusus luka. b. Karyawan mencuci tangan dengan sabun sebelum memulai kegiatan pemerahan 3 Kebiasaan Karyawan a. Karyawan yang bekerja tidak makan dan minum, merokok, meludah, bersin atau batuk ke arah pangan atau melakukan tindakan lain b. Karyawan di bagian pangan tidak mengenakan perhiasan VII Penyimpanan

10

1 Penyimpanan Produk Akhir (Susu) a. Produk akhir disimpan terpisah dalam ruangan yang bersih, sesuai dengan suhu penyimpanan, bebas hama,dan penerangan cukup b. Penyimpanan bahan baku tidak boleh menyentuh lantai, menempel ke dinding maupun langit-langit c. Penyimpanan bahan dan produk akhir diberi tanda dan menggunakan sistem First In First Out (FIFO)

2 Penyimpanan Wadah dan Pengemasan a. Penyimpanan wadah dan pengemas rapih, di tempat bersih dan terlindung b. Bahan pengemas harus disimpan terpisah dengan bahan baku dan produk

5

5

50

50

Baik

5

5

50

50

Baik

5

5

50

50

Baik

5

5

50

50

Baik

akhir. 3 Penyimpanan Peralatan Produksi a. Penyimpanan mesin / peralatan produksi di tempat bersih dan dalam kondisi baik. b. Tidak terdapat genangan air Jumlah

100

190

2800

Kategori 

Batas kaategori baik (Skala 1)

= 76,8 % – 100%

Batas kaategori Cukup (Skala 2)

= 53,6% – 76,8 %

Batas kaategori Kurang (Skala 3)

= 30,4 % – 53,6%

B. Dokumentasi

Sapi Perah

Wawancara dengan Pemilik Sapi Perah

Kondisi Dinding 1

Kondisi Langit-langit

Kondisi Tempat Sampah 1

Drainase

Kondisi Dinding 2

Sumber Air

Pemerah Sapi

Kondisi Lantai

Foto dengan Pemilik Sapi Perah

Kondisi Tempat Sampah 2

Tumpukan Makanan Sapi Perah (Ampas tahu)

Kondisi Lingkungan