Isbd Ibu Nifas

Isbd Ibu Nifas
  • Isbd Ibu Nifas

  • Views 18

  • Downloads 0

  • File size 62KB
  • Author/Uploader: Ade Irma Djama

ADAT KEHAMILAN DAN KELAHIRAN SUMBA BARAT DAN SUMBA TIMUR Pelaksanaan adat ini di Sumba Barat dan Sumba Timur banyak berbeda dalam variasi dan istilahistilah rituilnya. Namun dalam asas pemberian korban kepada marapu masing-masing agar selama masa kehamilan dan semasa melahirkan selamat, pada dasamya tidak ada perbedaan. Demikian pula qalam asas tabu, pantangan yang wajib dijalani oleh si ibu . dan suaminya selama masa kehamilan, pada dasarnya juga tak ada perbedaan yang prinsipil. Adat kehamilan terdiri atas serangkaian upacara-upacara religius, magis religius, dan hanya dilaksanakan satu kali saja, yaitu pada masa kehamilan anak yang pertama. Di Sumba Barat rangkaian upacara-upacara kehamilan itu dilaksanakan apabila sang ibu telah mencapai masa hamil enam bulan. Rangkaian upacara-upacara kehamilan itu disebut dengan istilah lokal Katame. Sebagai ilustrasi, di sini kami uraikan pelaksanaan rangkaian upacaraupacara kehamilan di daerah Gaura, Sumba Barat. Tempat melaksanakan upacara Katame tersebut, ialah di rumah orang tua dari ibu yang hamil, dan jalannya upacara sebagai berikut : 1. Suami dan ibu yang hamil menyediakan seekor kuda/ kerbau, satu batang tombak dan seekor anjing. Barangbarang tersebut diserahkan kepada mertuanya. 2. lbu/bapak dari ibu yang hamil menyediakan seekor babi, selembar kain dan selem bar sarung. Barang-barang terse but diserahkan kepada menantunya. Setelah serah terima barang-barang tersebut selesai, maka diambillah daun kelapa yang masih muda Uanur) yang diletakkan pada bahu kiri kanan, lengan kiri kanan, paha kiri kanan· dan pada pergelangan kaki kiri kanan masing-masing selembar di tubuh ibu yang hamil, yang pada waktu itu dalam posisi duduk. Kemudian suaminya mengambil sebilah pisau yang cukup tajam dan diserahkan kepada salah seorang ibu yang masih termasuk keluarga atau tetangga , melalui mertuanya. lbu yang diserahi pisau itu kemudian memotong daun kelapa yang telah diletakkan pada tubuh ibu yang hamil satu demi satu, dimulai dari yang berada di bahu kanan kiri, lengan kanan kiri, paha kanan kiri dan berakhir pada pergelangan kaki kanan kiri. Pisau kemudian diserahkan kepacla ibu yang memotong daun kelapa tersebut dan menjadi miliknya. Potonganpotongan daun kelapa tersebut dikumpulkan dan disimpan pada suatu tempat yang dingin, biasanya diletakkan di sela-sela tempayan dalam rumah. Dengan maksud agar ibu yang hamil itu selalu mcndapatkan keadaan yang dingin (tentram dan aman) di masa-masa bersalin. Kemudian diadakanlah pesta dengan: 1. Memotong babi oleh suami dari ibu yang hamil tersebut. 2. Mcmotong anjing oleh bapak dari ibu yang hamil tersebut. Yang unik, ialah bahwa pesta ini dengan memakan daging menurut kclompoknya masingmasing, di mana ada dua group, ialah group mertua dan besan. Mereka makan daging yang menjadi bagian dari groupnya masing-masing. Selesai makan minum kemudian mereka pulang kc rumah masing-masing dan selesailah upacara Katame. Setelah sampai di rumah, pada waktu pagi hari ibu yang sedang hamil itu mandi di suatu mata air· sambil menggosok badannya dengan daun kinar. Cara menggosok mulai dari tubuh bagian atas ke bawah secara lurus dengan maksud agar nanti dapat melahirkan dengan mudah, sebab kinar tersebut licin.

Masih di Sumba Barat, yaitu di daerah Laura, rangkaian upacara-upacara kehamilan itu dimulai dengan pemberian korban hewan (ayam, babi atau kerbau) yang dipersembahkan kepada marapu kabisu, marapu kampung, agar berkenan memberkati wanita yang sedang hamil, melindungi keselamatan bayi yang masih ada dalam kandungan . Serta sesajian berupa bingkisan (bunga sirih) dan pinang (buah pinang) yang dibungkus dengan sirih (bunga sirih) dan pinang (buah pinang) yang dibungkus dengan daun pinang dan digantungkan di bawah bubungan rumah. Bingkisan sirih pinang yang menurut kepercayaan telah diberkati olch para marapu itu, lalu diambil dan dibuka bungkusannya. Ini mengandung makna simbolis, yaitu agar pada saatnya melahi.rkan (partus), si bayi dapat dengan mudah terlepas dari ikatanikatan rahim dan di kelak kemudian hari. tidak mengalami kesulitan dalam pertumbuhannya. Kemudian disusul dengan upacara menutup semua liang-liang tanah yang dilakukan oleh sang suami di sekitar rumah yang dianggap dapat dihuni oleh arwah jahat, kekuatan hitam (black magic) yang sewaktu-waktu mengganggu orang hamil. Di Sumba Timur dalam adat kehamilan ada upacara pamandungu pelugu (mengencangkan jalan) bila kehamilan telah mencapai empat bulan. Dengan lebih dahulu memberikan sesajian sirihpinang kepada marapu dan arwah leluhur. Kemudian dilakukan korban hewan ayam yang berbulu merah. Sebelum disembelih, diucapkan mantra agar roh ayam menghadap marapu, arwah leluhur untuk memberitahukan, bahwa wanita yang sedang hamil empat bulan itu bermaksud hendak mohon berkat. Setelah ayam disembelih lalu dipotong-potong ditaruh di atas dua buah piring emas ( dua ngia marara) dan dua buah piring perak ( dua ngia mabara). Lalu dengan do’a mantra diserulah marapu dan segenap arwah leluhur yang berasal dari Jawa, Makasar, Bima untuk hadir dan berkenan melimpahkan berkahnya. Dalam masa hamil, seseorang wanita harus dibantu dengan suatu benda magis yang mampu menangkis kekuatan hitam (black magic). Karena dalam masa hamil selalu terjadi kemungkinan ada pihak-pihak yang dengan pertolongan tukang · sihir ( mamarungu) a tau pun dengan kekuatan hitam (suanggi) berusaha mencelakakannya. Maka untuk mencegah kemungkinari itu seseorang wanita yang hamil selalu menyelipkan sebilah pisau bertuah di pinggangnya. Perlu kiranya diketahui, bahwa selama masa kehamilan, baik istri maupun suami wajib mematuhi berbagai pantangan, tabu, pemali. Setiap pantangan itu mempunyai makna tersembunyi. Yang menurut kepercayaan apabila istri-suami berani mengabaikan, melanggar berbagai pantangan itu niscaya akan membawa akibat buruk pada anaknya, baik sewaktu lahir maupun dalam pertumbuhannya di kemudian hari. Di antara berbagai pantangan yang wajib ditaati oleh seorang wanita hamil, ialah : a. Dilarang berdiri di bawah pintu. Sebab itu akan berakibat susu ibu akan tidak mencukupi untuk diminum bayi. b. Dilarang menjawab “ya” atau “tidak” bila ada seseorang yang meminta sesuatu. Sebab itu akan mengakibatkan kesulitan kandungan. c. Dilarang makan daging kura-kura, penyu. Sebab akan mengakibatkan kulit bayi tidak normal. d. Dilarang makan ikan sotong. Sebab ·akan mengakibatkan jarijari bayi tidak normal. e. Dilarang menyembelih binatang. Sebab akan mengakibatkan anaknya kelak akan mati sengsara.

f.

Dilarang makan daginft monyet. Sebab akan mengakibatkan anaknya kelak memiliki sifatsifat monyet. g. Dilarang makan telur bebek. Sebab akan mengakibatkan anaknya kelak berjalan seperti bebek. h. Dilarang mentertawakan orang tuli, bisu. Sebab akan mengakibatkan si bayi tuli, bisu. i. Dilarang menenun kain. Sebab bila anaknya nanti lahir seorang lelaki, maka ia akan bersifat seperti seorang perempuan. j. Dilarang menyanyi. Sebab akan berakibat anakhya kelak bersifat pemalas. k. Dilarang mencaci-maki, marah-marah. Sebab akan berakibat anaknya kelak bersifat pemarah dan suka mencaci. Dan di antara berbagai pantangan yang wajib ditaati oleh seorang suami yang istrinya sedang hamil, ialah : a. Dilarang menyembelih binatang. b. Dilarang berburu kera. c. Dilarang menangkap ikan sotong, kura-kura, penyu. d. Dilarang makan buah mentimun. e. Dilarang menggali tanah. f. Dilarang menguliti kelapa. g. Dilarang memotong; menebang kayu bakar. h. Dilarang memilin tali. i. Dilarang banyak bicara. j. Dilarang memakai busana rangkap. k. Bila makan harus melepaskan kain-kepala dan meletakkan tas anyaman tempat sirih-pinang. l. Dilarang merobek-robek daun lontar. m. Dilarang ikut melayat orang mati. n. Dilarang mengiris-iris daun tembakau. Selama masa hamil, seseorang wanita selalu dirawat oleh seorang dukun bayi yang secara teratur dari waktu ke waktu memijitinya (massage) agar letak bayi dalam kandungan senantiasa dalam posisi normal. Dukun bayi itu pulalah yang kelak akan membidani kclahiran (ma pungu papangari). Memotong tali pusar, ari-ari dengan pisau bambu (kadika), mengobatinya dan masih memberikan perawatan sesudah kelahiran (post partus). Apabila dalam masa kehamilan atau saat menjelang kelahiran (partus) terjadi kesulitan, maka dukun bayi akan minta bantuan kepada seorang dukun. Yang dengan cara-cara magis-religius, yaitu dengan upacara korban anak ayam. Dukun itu mengeluarkan hati dan perut besar anak ayam, yang menurut kepercayaan dapat memberikan petunjuk apa yang menjadi sebabmusabab kesulitan kandung(!n wanita yang sedang hamil itu. Meramalkan atau mencari tahu sebab-musabab sesuatu kesulitan atau pun sesuatu penyakit (diagnosis) secara mag}s religius dengan hati ayam itu istilahnya Mowalu. Setelah diketahui sebab-musababnya maka si dukun dapat menentukan pengobatannya (therapy) yang tentu saja mempergunakan reramuan obat tradisionil serta kekuatan ga’ib (white magic) dengan bantuan arwah yang baik. Dukun yang bertugas menolong seseorang yang mengalami kesulitan dalam masa kehamilan dan kelahiran itu disebut ama bahulu mapingu pahan:zajangu.

Bila saat kelahiran telah tiba dilakukanlah serangkaian upacara-upacara kelahiran. Yang di daerah Gaura, Sumba Barat, disebut istilah lokal Pa ‘ana bagi masyarakat umum. Hara Jawa Tatena bagi kaum bangsawan. Sebagai ilustrasi, di sini kami uraikan garis besar rangkaian upacara-upacara kelahiran di daerah Gaura, Sumba Barat. Setelah seorang merasa akan melahirkan atau ada tandatanda bahwa ia merasa akan melahirkan, maka dipotonglah seekor ayam oleh ‘suaminya. Dengan maksud untuk memberikan jalan agar anak dapat lahir dengan mudah. Jika pada saat seorang ibu hendak melahirkan sedang suaminya baru bepergian, maka tempat sirih, parang yang selalu dipakai oleh suaminya diletakkan di sisi ibu yang hendak melahirkan sebagai tanda bahwa suaminya ada di sampingnya. lbu yang melahirkan biasanya ditolong oleh satu · – dua orang dukun. Bila bayi telah lahir, maka dipotonglah ari-arinya. Ari-ari ditaruh di dalam satu tempat dan dikuburkan di kolong rumah oleh suami atau keluarga lakilaki dari suami. lbu yang baru saja bersalin diberi minum air tajin (air yang dihasilkan dari menanak nasi), agar air susunya menjadi lancar dan agar anaknya kelak menjadi orang baik-baik serta berpengasihan baik. Ayah atau keluarga laki-laki kemudian mengambil sebutir kelapa yang masih berkulit, yang dianggap kerbau dari _anak yang baru saja lahir itu. Kelapa yang dianggap sebagai kerbau itu kemudian dipotong/dibelah dengan mengucapkan : “Kiranya anak ini selamat sentosa dan sejahtera dalam hidupnya”. Kalau di antara belahan kelapa itu terdapat potongan kecil-kecil, misal dua – tiga potong atau lebih, menandakan bahwa anak itu akan mujur. Belahan kelapa tersebut kemudian : 1. Satu belah dibagi-bagikan kepada semua yang hadir. 2. Belahan yang lain diparut, diambil santannya. Kemudian santan dipergunakan untuk memandikan anak (bayi yang baru saja lahir) agar nanti dalam hidupnya berkelimpahan. 3. Kulit dan belahan kelapa tersebut kemudian disimpan di bagian menara rumah pada sudut bagian kiri. Ada beberapa kelompok kabisu, kabihu yang langsung memberi nama pada bayi \yang baru saja lahir itu. Caranya : Disebutlah suatu nama yang a’da di dalam kelompok suku sambil menyusukan bayi tersebut. Jika ia tidak mau menyusu, menandakan bahwa bayi itu tidak mau menerima pemberian nama yang telah disebutkan tadi. Kemudian disebutlah nama-nama lain sampai ia mau menerima pemberian nama itu. Ada juga beberapa kelompok kabisu, kabihu yang tidak boleh memberi nama kepada bayi yang barn lahir, dan harus menunggu beberapa waktu. Bayi (anak) yang belum diberi nama dipanggil “Dapa ngara” yang berarti belum ada nama, sambil menunggu pemberian nama. Upacara pemberian nama pada kelompok suku ini dengan diadakan suatu pesta dengan memotong babi ataupun kerbau. Ada kebiasaan bagi orang tua untuk menimang anak (bayi) yang barn lahir itu sambil berkata : 1. Untuk bayi laki-laki : “Jadilah petani, jadilah pemburu, jadilah orang baikbaik dan lain-lain.” 2. Untuk bayi perempuan :

“Pergilah ke kebun, pergilah ambil air, uruslah rumah tangga, bantulah ibu dan lain-lain.” Di Sumba Timur, rangkaian upacara-upacara kelahiran diawali dengan pemberian sesajian sirih pinang dan korban binatang (ayam, babi atau kerbau menurut kemampuan masing-masing). Lalu dipanjatkan do’a syukur, pernyataan terima kasih kepada marapu, segenap arwah leluhur dan kepada Sang Maha Pencipta. Yang dirangkapkan secara resitatif dengan methapora. Yaitu tidak menyebutkan nama Sang Maha Pencipta melainkan dengan Methapora, seperti “Yang Membentuk Kehidupan. Yang menjadikan· m,ata, telinga, taJtgan, kaki dan sebagainya.” Setelah itu dilanjutkan dengan upacara memotong rambut. Upacara ini ada yang dilakukan sesaat setelah ari-ari bayi dipotong, ada pula yang menunggu sampai umur bayi sudah 3 – 4 hari. Kemudian dilanjutkan dengan upacara pemberian nama, istilah Sumba Timur Dekangu tamu. Upacara ini dapat dilaksanakan bila bayi telah lahir. Dapat pula menunggu sampai bayi sudah berumur beberapa bulan. Bahkan ada yang menunggu sampai bayi sudah mulai merangkak. Selama bayi belum diberi nama, ia disebut Dapat ngara, (istilah lokal Gaura, Sumba Barat). Pemberian nama anak tidak boleh sama dengan nama bapak kandungnya. Melainkan harus sama dengan nama kakeknya, neneknya, atau nama pamannya. Bahkan dapat juga dengan nama marapu leluhur kelompok suku yang menjadi pokok keluarga. Upacara-upacara memotong rambut dan pemberian nama selalu disertai dengan korban hewan untuk selamatan. Bila bayi sudah berumur delapan hari (baik ia sudah diberi nama atau beum) dilakukan upacara menjemput bayi di tengah keluarga (Hanggurunya na ana, istilah daerah Sumba Timur). Apabila bayi tersebut putri, maka kepadanya dihadiahkan seekor kuda (njara) dan anting-anting emas (mamuli). Pemberian hadiah itu dimaksudkan, bahwa bila kelak si bayi sudah dewasa akan dinikahkan dengan anak laki-laki ayah saudara perempuannya. Oleh karenanya ketika memberikan hadiahnya itu selalu disertai ucapan : “Dia kelak menjadi milik putraku” (tangguna na ananggu mini). Apabila bayi itu seorang laki-laki, maka pamannya memberikan hadiah seekor babi dan kain (hinggi) atau kain kepala. Di Sumba Barat, bila bayi sudah berumur delapan hari juga dilakukan upacara yang sama. Yang dikuti dengan upacara turun ke kebun. Apabila bayi tersebut putri, maka salah seorang wanita yang mewakili ibunya, pergi ke kebun membawa bekal makanan dan cangkul. Lalu secara simbolis mencangkul beberapa jengkal tanah kebun, kemudian memakan bekalnya. Apabila bayi tersebut laki-laki, maka salah seorang laki-laki yang mewakili ayahnya pergi ke kebun membawa bekal dan parang. Lalu secara simbolis membuka kebun, kemudian memakan bekalnya. Upacara turun ke kebun yang bersifat simbolis itu dimaksudkan agar kelak si anak menjadi orang yang rajin bekerja, berkebun, hingga bisa hidup kecukupan (tidak kelaparan) dari hasil kerjanya. Hangguruny a na ana sebenarnya suatu upacara inisiasi peresmian masuk menjadi anggota keluarga dalam kelompok kekerabatan. Selama tiga – enam bulan, bayi dan ibunya mendapat perawatan khusus secara tradisionil. Sang ibu harus duduk di tepi perapian (au) dalam rumah, berdiang dengan punggung. Tapi api tidak boleh menyala melainkan membara. Kayu perapian harus jenis kayu kusambi yang dianggap mengandung kekuatan magis. Masa ibu berdiang selama tiga – enam bulall’ itu pada hakekatnya merupakan masa isolasi. Karena menurut kepercayaan, bayi dan ibu bersifat muharam (sacre) yang dalam jangka masa tertentu harus diisolasikan dari masyarakat umum. Selama masa itu seorang ibu wajib pula melaksanakan ketentuan-ketentuan adat lainnya. Yaitu kewajiban mandi setiap hari dua kali, pada saat

menjelang subuh dan saat menjelang matahari terbenam. Bayi dimandikan setiap hari empat kali, pada waktu fajar, tengah hari, lepas sore hari dan malam hari sekitar jam 20.00 – 21.00. Air mandi untuk ibu dan bayi harus diberi reramuan daundaun, akar-akaran tertentu yang dianggap mengandung kekuatan magis, yang mampu membantu kesehatan jasmani bayi dan .ibu. Dan jika bayi telah dapat merangkak, dilakukan upacara inisiasi memperkenalkan ~ayi dengan alam, yaitu injak bumi (tedak siten – di Jawa) dan turun ke kali. Bayi dimaridikan di kali disertai sesajian kepada marapu, arwah leluhur berupa sirih pinang, daging (buah) kelapa dan daging hewan korban, serta sebltah pisau. Akan tetapi pisau yang dianggap telah menjadi bertuah. Setelah selesai upacara dibawa pulang ke rumah. Dari adat kehamilan dan kelahiran, kita dapat melihat bahwa upacara-upacara inisiasi dan rangkaian pantangan yang wajib dilaksanakan merupakan hal-hal yang dominan. Khusus mengenai pantangan-pantangan yang wajib dilaksanakan oleh pasangan suami-istri dalam masa kehamilan itu sebenamya ad:Uah praktek “negative magic”. Yang mempunyai dasar-dasar sama dengan ilmu ga’ib (magic). Hanya saja kalau ilmu ga’ib itu berupa tindakan perbuatan aktif, maka · pantangan-pantangan justru inerupakan tindakan perbuatan pasif. Dalam arti menghindari tindakan perbuatan aktif. Menghindari bahaya-bahaya kekuatan ga’ib yang ditimbulkan oleh arwah jahat dan kekuatan-kekuatan hitam lainnya. Jadi tujuan dari berbagai pantangan itu adalah untuk memperoleh keselamatan bagi suami istri dan bayi yang ada dalam kandungan agar selama masa kehamilan yang merupakan masa krisis itu terhindar dari segala malapetaka. Pelanggaran atas pantagan-pantangan itu akan membawa akibat buruk, bukan saja sernasa keharnilan, tetapi juga sernasa kelahiran dan dalam rnasa perturnbuhan anaknya. ADAT KEHAMILAN DAN KELAHIRAN DALAM ADAT SUMBA TENGAH. BULAN KEHAMILAN 1. Bulan Pertama,Ibu Ke Dukun kampung untuk Periksa Kehamilan 2. Bulan kedua,Ibu Periksa kehamilan kedukun lagi 3. Bulan Ketiga,dalam Istilah Adat,atau kebudayaan (Syukuran).Supaya Bayi dalam kandungan Normal 4. Bulan Keempat,Ibu hamil periksa lagi Kedukun kampung 5. Bulan Kelima,dan Bulan Keenam,sampai bulan Ketujuh,Ibu Hamil Pergi lagi periksa kandungan di Dukun Kampung dan Selanjutnya,Untuk mengetahui kepastian Untuk Melahirkan.

BULAN MELAHIR atau WAKTU MELAHIR 1. Bulan Kedelapan,dan Kesembilan,Ibu Hamil mendapat Berita Dari Dukun Kampung Bahwa,Dihari,dan Bulan Yang di Tafsirkan Oleh Dukun Untuk Melahirkan. 2. Bulan Kesembilan,Sudah melahirkan,dan Di lanjuti Diberi nama,sebelum di beri nama,Kelurga dari Ibu yang melahirkan Mempersiapkan 1 Buah kelapa Mudah,selanjutnya kelapa tersebut di Belah Dua,Untuk Mensahkan Pemberian nama kepada Bayi,Setelah kelapa di belah,Isinya di

ambil selanjutnya di bagi2 kepada anak2,Tandanya bahwa Pemberian Nama Kepada Bayi Tersebut Telah Sah,Atau Ditetapkan. Setelah Itu dukun memberikan Obat kampung Kepada Ibu yang melahirkan,dan selanjutnya Dukun Tersebut Menganjurkan,atau Mengarahkan Cara Menggunakan Obat Kampung Tersebut. 1. Buat merawat ibu yang baru melahirkan.Pertama Mandi Dengan air panas yang di rebus dengan Daun kayu atau Kulit kayu hidup (obat tradisi) itu budaya Anakalang di haruskan untuk pakai mandi saat baru melahirkan agar Tubuh yang yabu terbuk bisa kembali rapat.mandi 2x sehari.jam 6 pagi dan jam 6 sore. Dalam bahasa daera nya.( ihu waingu rau ai eka tada ai.) 2. Ibu baru melahirkan harus di aktifkan panggang belakan stiap saat di pinggir api yang sdah di Proses dengan kayu besar agar arang nya bertahan dan panas nya cukup,agar belakang yang sudah terbukan karna hamil 9 bulan bisa rapat kembali dan tidak mudah dapat sakit kapan2 saja. (PATUNNI) 3. IBU baru melahirkan di haruskan Rajin minum air nasi tumbuk. Supaya asinya banyak buat menyusui.

ADAT KEHAMILAM DAN KELAHIRAN DI SUMBA BARAT DAYA

Pada saat sekitar kelahiran seorang bayi, ada beberapa peristiwa penting yang harus mendapat perhatian orang tua dan kaum kerabatnya. Misalnya pada bulan keempat masa kehamilan, diadakan upacara Pamandungu pelungu (meneguhkan tumpuan) dengan mempersembahkan pahapa, kewadaku dan mangejingu kepada para marapu dan Ndiawa Tumbu — Ndiawa Dedi (Dewa Tumbuh dan Lahir) agar kandungan luput dari mara bahaya. Selain itu untuk mencegah adanya kekuatan-kekuatan gaib yang bersifat jahat, seorang wanita yang sedang hamil selalu menyelipkan sebilah pisau bertuah di pinggangnya. Selama kehamilan suami-istri harus mentaati beberapa pantangan makanan dan perbuatan agar nantinya tidak menyulitkan kelahiran dan tidak menimbulkan cacat kepada anak yang akan lahir. Bila saat kelahiran telah tiba dilakukanlah upacara Hamayangu dengan persembahan pahapa, kawadaku dan mangejingu untuk menyambut tamu yang baru datang dari alam gaib. Menurut anggapan orang Umalulu, ana rara (bayi) yang akan lahir adalah makhluk gaib yang datang dari alam gaib dengan tena (perahu). Oleh karena itu, untuk melancarkan kelahirannya, segala dosa orang tuanya harus diakui dan segala kelalaian dalam memenuhi kewajiban terhadap para marapu harus dinyatakan. Setelah bayi dimandikan dan diberi nama melalui upacara Dekangu tamu, dilakukan lagi upacara Hamayangu baha kaheli untuk membersihkan segala kekotoran dan menghaturkan terima kasih kepada para marapu. Ketika bayi sudah berumur empat hari dilakukan upacara Kikiru (cukur). Kemudian rambut dan tali pusar si bayi disimpan dalam kahipatu untuk turut dikuburkan bila dia meninggal di kemudian hari. Apabila sudah berumur delapan hari dilakukan upacara Hangguru, yaitu upacara penyambutan si bayi di tengah kaum kerabatnya. Pada masa inilah ia mulai menginjak tanah dan turut mandi di sungai. Upacara-upacara tersebut selalu disertai dengan persembahan

pahapa, kawadaku dan mangejingu. Khususnya persembahan mangejingu pada upacara Hangguru, harus disediakan seekor babi yang seIuruh tubuhnya berwarna hitam (wei mitingu). Setelah berumur antara dua sampai tiga tahun dilakukan upacara peralihan dari masa anarara menjadi anakiada (kanak-kanak), yaitu upacara Papaita wai huhu (memahitkan air susu, penyapihan). Upacara ini dilakukan dengan permohonan kepada para marapu agar si anak cepat besar, diberikan rejekinya dan keselamatan. Pada masa ini seorang anakiada sudah boleh makan telur ayam dan mengikuti orang tuanya bekerja di ladang.