Cerpen

Cerpen
  • Cerpen

  • Views 8

  • Downloads 0

  • File size 138KB
  • Author/Uploader: TheeniKawi

Cerpen

CATATAN SI BURUNG GEREJA Inilah rumahku di mana aku dan saudara-saudaraku bersarang. Lihatlah di setiap celah-celah genting bangunan sekolah itu, aku dan saudara-saudaraku berlindung dari teriknya panas matahari dan dinginnya udara di malam hari. Aku sudah lama bersarang di celah genting bangunan sekolah ini, hampir setiap hari aku melihat siswa-siswa yang berdatangan untuk menuntut ilmu di sekolah ini, tetapi ada saja di antara mereka yang melanggar peraturan sekolah yang sudah ditetapkan. Hampir setiap hari aku melihat ada saja siswa yang terkena hukuman. Aku sering melihat ketika hari Senin seusai upacara, ada saja di antara mereka yang terkena sanksi. Mulai dari yang kesiangan, ada yang tidak memakai dasi, kalau anak laki-laki ada yang berambut agak panjamg, dan sampai-sampai ada yang memakai celana model corong. Hampir setiap hari aku melihat kejadian-kejadian seperti itu. Pada suatu hari, aku tidak sengaja sedang bertengger di sebuah papan jendela di sebuah kelas. Terlihat oleh pandanganku, beberapa siswa tengah sibuk menulis di meja belakang. Entah sedang apa mereka. Ternyata mereka sedang mengerjakan PR. Apakah mereka tidak tahu kalau PR itu sebenarnya pekerjaan rumah bukan pekerjaan sekolah. Mungkin mereka bukan tidak tahu, tetapi mereka malas mengerjakannya di rumah . Bel masuk pun berdering hingga membuatku terperanjat lalu terbang untuk melihatlihat di sekitar sekolah tempat aku bersarang ini. Ketika aku sedang bertengger di sebuah pohon, aku melihat seorang guru sedang menggiring beberapa siswanya dari dalam kelas menuju mesjid. Aku tidak tahu mau diapakan mereka itu. Lalu aku tidak sengaja mendengar perkataan gurunya itu. Mereka diminta untuk membuka sepatunya lalu dimintanya pula untuk bersuci. Ternyata, mereka itu belum shalat subuh. Kalau mereka belum shalat subuh, pukul berapa mereka bangun. Apa mereka selalu begitu setiap hari, padahal mereka bisa memasang alarm atau minta dibangunkan oleh orang tuanya agar tidak kesiangan. Yang pasti, kebisaaan baik itu harus dipaksakan dan ditanamkan sejak dini. Tak lama kemudian bel pelajaran kedua pun berdering hingga membuatku kembali terperanjat. Aku terbang dan hinggap di papan jendela sebuah kelas. Ketika aku sedang

melihat-lihat, seorang guru sedang menerangkan sebuah pelajaran. Terlihat olehku salah seorang muridnya sedang asik mengoperasikan handphone milikinya, padahal sebelumsebelumnya dia pernah terkena sanksi gara-gara mengoperasikan handphone-nya pada saat jam belajar di kelas. Aku berfikir ,apa dia tidak merasa jera dengan sanksi yang pernah ia terima . Aku merasa bosan dengan keadaan sekolah tempat aku bersarang, hampir setiap hari ada saja siswanya yang terkena hukuman . Akhirnya , aku diajak oleh saudaraku untuk mengunjungi sebuah sekolah, katanya untuk studi banding. Katanya di sana ada sebuah pelajaran berharga yang akan aku dapat. Aku pun pergi sebelum matahari menampakkan dirinya. Aku dan saudaraku sangat senang karena akan mendapatkan pelajaran berharga nanti. Mungkin aku bisa mengambil pelajaran berharga dari sekolah itu dan membawanya ke sekolah di mana aku bersarang. Aku dan saudaraku terbang melewati sungai yang indah, hutan yang banyak ditumbuhi pepohonan, dan banyak sekali biji-bijian. Pantas saja banyak burung yang bersarang di hutan itu. Aku berhenti sejenak dan beristirahat sambil memakan biji-bijian. Setelah kenyang, aku kembali melanjutkan perjalanan bersama. Tak lama kemudian, aku dan saudaraku sampai di sekolah tersebut. Aku bertengger di depan gerbang sekolah, melihat-lihat beberapa siswa yang baru datang. Lalu kulihat sesuatu yang lain, ada seorang siswa yang sangat pendek sekali dan berbeda dari teman seumurannya. Ternyata, dia bukan pendek. Dia pendek karena kakinya hanya sebatas lutut saja. Kata saudaraku, dia terlahir cacat. Meskipun memiliki kaki yang tidak sempurna, ia termasuk siswa yang berprestasi. Dia bersekolah tidak memakai alas kaki apa pun karena tidak ada ukuran dan model sepatu untuk kaki yang cacat semacam itu. Lututnya tampak agak tebal dan kasar, karena ia selalu berjalan di atas aspal dan tanah tanpa menggunakan alas kaki apa pun. Aku sangat kagum dan takjub kepadanya. Walaupun dia memiliki kekurangan, tetapi semangatnya untuk belajar sangat tinggi. Mengalahkan

anak-anak sekolah yang

memiliki tubuh normal. Mengalahkan anak-anak sekolah yang memiliki kaki lengkap untuk berjalan bahkan berlari. Ternyata, inilah pelajaran berharga yang ingin ditunjukkan oleh saudaraku. Aku sangat sedih ketika mengingat siswa di mana tempatku bersarang. Di antara mereka tidak ada yang tidak bisa berjalan. Tidak ada yang tidak bisa berlari. Tidak ada yang tidak bisa menulis. Bahkan ketika kedapatan sengaja tidak ikut upacara, walaupun di pematang sawah, mereka sangat cepat berlari menghindar dari tangkapan guru. Padahal

mereka semua bisa dikatakan sebagai makhluk yang memiliki tubuh sempurna. Tetapi, kenapa mereka menyia-nyiakan semua kesempatan yang ada di depan mata. Sepertinya mereka tidak mensyukuri yang telah diberikan oleh Yang Maha Kuasa. Ketika pagi menjelang, udara begitu dingin karena semalaman hingga pagi ini hujan tak kunjung reda. Perut yang semakin lapar memaksaku untuk keluar mencari makanan. Kulihat ada beberapa siswa yang sudah datang dan berdiri di depan pintu kelasnya. Padahal pintu kelas masih terkunci dan kabut-kabut pagi masih terikat di rerumputan. Aku sangat senang sekali karena masih ada di antara mereka yang begitu bersemangat untuk mencari ilmu walaupun hujan tak kunjung reda.

CERPEN Topeng Satukan Langkah Mentari pagi ini berlari mengiringi langkahku yang kian cepat. Entah kali yang keberapa aku menengok jam tanganku. “Wah, lima menit lagi!” seru hatiku melihat jarum panjangnya telah menunjuk angka dua puluh lima. Aku terus mengayunkan langkah dan melempar kakiku jauh kedepan dengan harapan aku segera sampai di sekolah. Teeet… teeet…. teeet… bunyi bel menyambutku tepat di depan pagar sekolah. “Alhamdulillah Ya Allah, Engkau telah menyelamatkanku, Engkau Mahakasih dan …” belum selesai aku bersyukur dari belakang Sesa mengagetkanku, “Hai, buru-buru amat!” Aku tersenyum kemudian menarik tangannya dan mengajaknya berjalan lebih cepat menuju kelas. Pagi ini, aku memang harus segera bertemu teman-teman untuk mencari tahu tentang tugas hari Sabtu sebab pada hari itu aku izin tidak masuk sekolah. Aku takut tidak mengerjakan tugas rumah, apalagi jam pertama pelajaran Bapak Pras raja sejarah di SMP-ku. Sekali aku tidak kerja tugas, sepanjang hayat namaku tak terhapus dalam sejarah beliau. “Frieska, maju ke depan. Ceritakan sejarah Candi Badut!” perintah beliau sambil menajamkan pandangannya. “Oh, jangan!” ketakutanku memuncak bersama khayalku. Sungguh, untuk berkhayal saja aku takut sekali, bagaimana jika beneran terjadi? Aku tidak ingin hal itu terjadi. Aku tidak ingin memutar otakku kembali ke masa silam. Karena itulah, jika ada tugas dari Bapak Pras aku harus segera mengerjakannya pagi ini. “Sa, ada tugas sejarah tidak?” tanyaku pada Sesa yang telah duduk di sampingku. Seraya mengeluarkan buku sejarah, hatiku berdegup keras menunggu jawaban. “Sa, ada tugas tidak?” tanyaku kembali padanya. “Sory, sory, sory Non, tidak ada tugas. Cukup hafalan saja.” Jawabnya sambil menatap mataku. Seperti ada yang dicari Sesa dariku. “Ha? Hafalan?” tanyaku tak percaya. Sesa hanya mengangguk. Bagaimana aku bisa menghafal dalam waktu kurang dari lima belas menit? Aku semakin takut. Jiwaku berguncang keras. “Ya Rabi, tolong aku. Mudahkanlah aku menjalaninya…“ pintaku kepada Tuhan agar pagi ini aku kembali diselamatkan. Tepat! Candi Badut! Seru hatiku. Kenapa sama dengan khayalanku ya? Kebetulankah, atau aku sedang bermimpi? Atau dejavu ya? Hatiku berfikir keras. Perlahan kubuka buku sejarah tepat di halaman yang menginformasikan Candi Badut. Candi Badut terletak di Dukuh Gasek, Desa Karang Besuki, Kecamatan Dau, Kabupaten Malang Provinsi Jawa Timur. Candi Badut terletak di kaki Gunung Kawi. Dapat ditempuh dengan kendaraan umum jurusan Tidar. Candi ini diperkirakan berusia lebih dari 1400 tahun dan diyakini adalah peninggalan Prabu Gajayana, penguasa kerajaan Kanjuruhan sebagaimana yang tertera dalam prasasti Dinoyo bertahun 760 Masehi. Aku membaca kalimat demi kalimat dengan hati-hati agar aku bisa menyimpannya ke dalam otakku dan kemudian mengingatnya, lalu … “Frieska, ada?” Tanya seorang staf Tata Usaha di sekolahku dan menghentikan bacaanku.

“Dalem Ibu, saya Frieska.” Jawabku sambil bertanya-tanya, ada apa ya? “Frieska harap ke ruang Ibu Kepala Sekolah sekarang!” jelasnya. “Siap Ibu.” Aku mengangguk dan beranjak pergi menuju ruang kepala dengan penuh tanya. “Assalamualaikum” sapaku kepada Ibu kepala sekolah. “Waalaikumsalam, Namamu Frieska?” jawab beliau sambil mengerutkan dahi seakan tidak percaya. “Betul Ibu, saya Frieska” suaraku lirih dan aku tertunduk. Sesekali kakiku bergetar sebab Ibu yang berada di depanku hanya menatapku. “Maaf, Ibu memanggil saya?” tanyaku membuyarkan keraguan Beliau. “Oh, ya. Betul Frieska, kamu Ibu minta kemari untuk menjelaskan hal ini.” jawab beliau sambil menunjukkan koran pagi yang salah satu kolomnya menampilkan judul ‘Malang Kembali Raih Jawara TK Provinsi’. “Ini tentang kamukah? Benar kamu si penari ‘Topeng Malangan’ itu Frieska, benarkah?” tanya Ibu kepala bertubi-tubi. Aku tidak segera menjawab Beliau, sebab aku juga belum membaca harian pagi tersebut. Aku takut salah. Aku melanjutkan membacanya dengan meliriknya. Mengetahui jika aku ingin membacanya, Ibu kepala menyodorkan koran tersebut kepadaku, dan benar sekali, namaku kembali mengisi berita budaya Jawa Timur. Salah satu barisnya menyebutkan, Frieska merebut juara I se-Jawa Timur dan tahun ini kembali membawa pulang piala gubernur… “Benerkan itu kamu?” kembali Ibu kepala sekolah bertanya. Aku tersenyum lalu menjawab, “Benar Ibu.” Begitu mendengar jawabanku, beliau langsung berdiri menghampiriku dan kemudian memelukku. “Selamat, Nak. Selamat, Ibu bangga padamu.” ucapnya bahagia penuh keyakinan. Akupun bahagia. “Tapi mengapa kamu tidak pernah bercerita tentang hal ini? Siapa yang mendampingimu ke lombalomba itu? Kapan dan dimana saja kamu mengikutinya?” kembali Ibu kepala sekolah menginvestigasiku. Panjang ceritanya. Aku tidak bisa ceritakan semuanya saat itu. Siapapun aku, sebanyak apapun piala yang terpajang di rumahku, aku hanyalah seorang Frieska yang memiliki hoby menari. Aku ingin sekali melestarikan budaya di daerahku. Aku tidak ingin dipuji sebab pujian hanya akan meruntuhkan semangatku untuk berkarya seni dan ayah ibuku selalu berpesan untuk tetap tawadu’ (merendah/ tidak sombong). “Kebetulan, bulan depan kita ada kegiatan pentas seni. Kamu maukan menari buat kami?” Tanya beliau penuh harap. Aku mengangguk setuju. “Terima kasih ya, minggu depan saya akan umumkan prestasi ini pada saat upacara.” lanjutnya dengan bangga. Kembali aku hanya bisa tersenyum sambil terus memujiNya. Alhamdulillah ya Allah, Engkau Maha Pemurah atas segala doa. Engkau selalu membimbingku. Dan aku berada di ruang ini juga tidak lepas dari Kasih-Mu. Terima kasih Ya Allah, pasti orang tuaku bakal senang mendengar kabar ini. Teeet… bunyi bel pergantian jam pelajaran menyadarkan kami. Aku harus segera kembali ke kelas, dan Ibu kepala sekolah juga harus kembali dengan kegiatan beliau memimpin sekolah. Dengan lembut beliau mengakhiri percakapan kami. “Frieska, jika diizinkan Ibu akan berkunjung ke rumahmu. Ibu harus bertemu dengan orang tuamu, sebab ada hal yang harus Ibu sampaikan kepada kedua orang tuamu. Bolehkan?” tanyanya seraya tangan lembutnya memelukku dan menuntunku ke luar dari ruangan. Lagi-lagi aku mengangguk tanda setuju. Aku ulurkan tanganku, aku salim kepada beliau dan berucap salam, “Assalamualaikum Ibu” dan Ibu kepala pun menggangguk sambil membalas salamku. Dalam hati aku berbisik ‘Terima kasih Ibu, Engkau cantik. baik, dan

lembut’. Aku kembali ke kelas dengan penuh kebahagiaan. Aku lupakan sejenak tentang Bapak Pras dan hafalan sejarahnya. Aku bernyanyi-nyanyi kecil melintasi beberapa ruang kelas. Tembok-tembok ikutlah bernyanyi sebab pagi ini aku bahagia. Ajakku kepada tembok-tembok yang setia menyaksikan kami belajar. Dan, Hups! Selembar kertas manila bertuliskan ‘Kelas VII.1. Menyambutmu Penari’ mengejutkanku. Ada apa ini? Ada apa dengan kelasku? Mengapa kelas sepi seakan tak berpenghuni? Kemana mereka? Atau jangan-jangan Bapak Pras mengadakan ulangan? Oh, kembali rasa takut mencekamku. Seketika itu pula dunia menjadi kelam. Dengan hati-hati sekali aku memutar handle pintu. Aku mendorongnya secara pelan dan aku angkat kakiku juga tanpa suara. “Semoga tidak mengejutkan mereka” harapku. Benar, mereka tidak ada di dalam kelas. Aku kembali memutar badan. Belum sampai penuh badanku berbalik arah, tiba-tiba mereka mengejutkanku dengan panggilannya dari bawah meja paling belakang. “Frieska, selamat! Frieska Penariku! Selamat!” teriak mereka tak ubahnya koor di pagi hari. Kemudian mereka berlari memelukku. Aku baru sadar jika mereka sengaja bersembunyi untuk mengejutkanku, namun aku senang sebab mereka ternyata menerimaku. Aku bahagia mereka tahu tentang aku seorang penari topeng. Semula aku takut diejek mereka, sebab kebanyakan dari mereka adalah dancer modern bukan penari klasik sepertiku. Dulu waktu di SD aku pernah diolokolok oleh teman-temanku sebab aku setiap menari selalu mengenakan topeng dengan gamelan sebagai pengiringnya. Kata mereka aku penari ‘kuno’. Aku orang ‘ndeso’ yang menarinya tidak seperti kebanyakan anak jaman sekarang. Aku memang terlahir bukan untuk menjadi penari modern, aku terlahir untuk membawa dan melestarikan budaya Jawa, khususnya Kabupaten Malang. Malang selain terkenal sebagai salah satu kota yang berhawa dingin di Indonesia, Bumi Arema juga menyimpan berbagai kekayaan seni dan budaya bangsa yang luar biasa. Mulai dari makanannya seperti Bakso, Keripik Tempe hingga Apel Malang. Disamping itu Malang juga terkenal dengan budaya dan kerajinannya seperti, Topeng Malangan, Keramik Dinoyo, Tari Malangan dan Jaran Kepang. Bangunan tuanya juga tak kalah menggoda, seperti Toko Es Krim “Oen”, Gereja Kayu Tangan, Rumah Makan Inggil dan wisata sejarah yang tak kalah menariknya adalah mengunjungi candi-candi yang ada. Malang juga disebut sebagai kota seribu candi. Karena Berbagai candi ada di kota ini, mulai dari Candi Singosari, Candi Badut, Candi Sumberawan dan lain-lain. Dari segi bahasa Malang juga memiliki ciri bahasa ‘Walikan’. Biasanya para penduduk asli Malang suka menggunakan bahasa walikan. Bahasa walikan adalah bahasa yang dibolak-balik seperti makan jadi nakam dan lain-lain. Di Kota Malang terdapat seni pemahatan topeng yang asli bercirikan khas Malang. Berdasarkan beberapa catatan sejarah menyebutkan bahwa Topeng Malang adalah sebuah kesenian kuno yang usianya lebih tua dari keberadaan Kota Apel ini. Topeng ini pun sudah diperkenalkan sejak zaman kerajaan Gajayana. Para pemahat Topeng Malangan sudah turun temurun sampai sekarang, walaupun jumlahnya tidak terlalu melonjak banyak. Pada jaman dulu apresiasi pada Topeng Malang ini diwujudkan dengan bentuk pertunjukan saat ada acara tertentu seperti pernikahan, selamatan, dan hiburan pejabat tinggi. Topeng Malangan sedikit berbeda dengan topeng yang ada di Indonesia, corak khas dari pahatan kayu yang lebih kearah realis serta menggambarkan

karakter wajah seseorang. Ada banyak ragam dari jenis Topeng Malang yang dibuat seperti karakter jahat, baik, gurauan, sedih, kecantikan, ketampanan, bahkan sampai karakter yang sifatnya tidak teratur. ‘Tari Topeng Malang’ dapat diartikan sebagai gerakan badan yang berirama dengan diiringi bunyi-bunyian dengan menggunakan penutup muka yang menyerupai muka orang. Tari ini murni berasal dari Malang … Artikel tersebut aku tulis guna melengkapi rasa banggaku terhadap Budaya Malangan dan aku bacakan sebelum aku menari dalam pentas seni di sekolahku. Tepuk tangan menghangatkan suasana pentas seni tahun ini. Seperti biasanya aku berusaha menari dengan hatiku. Selesai menari aku kembali turun dari panggung pentas. Dari arah berlawanan aku melihat empat orang gadis mendekatiku. Hai, mereka adalah teman SD-ku yang dulu suka mengejekku. Untuk apa mereka datang? Untuk menghinaku lagi? Aku bertanya dalam hati, aku bergegas menjauh, tapi mereka mengejarku dan menarik sampur (selendang tari) ku dari belakang, kemudian terdengar suara parau dari bibir mereka, “Fries, maafkan kami. Kamu benar, tari Topeng lebih indah dibanding tari modern. Maafkan kami ya, dan selamat atas prestasimu selama ini.” Peluk erat mereka membuatku tak dapat pergi.” Aku memaafkan mereka. Kami semakin erat berpelukan. Titik air mata haru membasah dan mengikis perselisihan kami. Kami bergandeng tangan dengan penuh senyum bahagia. Kami berjanji akan selalu bersama walau kami beda sekolah dan kami akan mengukir asa bersama melalui tari topeng Malangan. Terima kasih ya Allah, semoga Allah menjaga dan membimbing kami selalu. Amin…

MENGIKUTI LOMBA…..

Kring…. kring…. kring…, suara alarm terdengar dari suara teleon genggamku yang menunjukkan pukul 05.00 WIB. Aku terbangun lalumelihat jarum jam yang menunjukkan pukul 05.03 WIB, aku langsung mematikan suara alarm telepon genggamku. Namaku Azarine Ria Elvina aku tinggal di rumah sederhana di Perum Buaran Indah B.281 JL. Bulutangkis 1 Pekalongan Selatan. Waktu itu umurku 12 tahun, aku bersekolah di SMPN 6 Pekalongan kelas VII. Aku baru teringat bahwa hari itu adalah hari dimana aku mengikuti lomba FLS2N di bidang tari kreasi. Aku langsung bersiap siap untuk berangkat ke sekolah “oh iya, hari ini aku ada lomba, untungya aku udah nyiapin barang-barang yang harus disiapin” benakku. Sesampainya di sekolah, aku dan teman-temanku yaitu, Niken, Shalsa, mbak Viar, dan mbk Dilla langsung didandani oleh guru kami yang bernama Ibu Yeni Isnasari. Bu Yeni adalah guru tari si SMPN 6. Bu Yeni bertanya padaku “Zarin, mana ciputmu (salah satu perlengkapn tariku)?” aku dengan rasa percaya diri aku menjawab “aku bawa dong bu, ada di tas” lalu Bu Yeni meminta “mana ciputmu biar bu Yeni pakaikan” ketika aku mengambil untuk kuserahkan pada bu Yeni, ciput itu engga ada “hah! kok nggak ada si?? dimana ciputku?”. Setelah ku ingat-ingat, ciput itu ku letakkan di atas box pakaian adikku. lalu aku bilang pada bu Yeni “aduh bu, ciputku ketinggalan :(“, bu Yeni seperti kecewa padaku, ia berkata “duuuh, gimana si Zarin, kok bisa ketinggalan. Trus gimana?” aku langsung berfikir akan menghubungi ayahku, aku berkata pada bu Yeni “bu, aku mau menghubungi ayahku” tetapi, saat ku pikir-pikir kembali, “bukannya ayah baru nganterin aku ke sekolah, masak balik lagi ke sekolah?” benakku, “ah, nanti aja aku sms ayah, biar istirhat di rumah dulu”. Lalu aku menghubungi ayahku untuk membawakanku ciput. Setelah beberapa waktu… Ayahku sudah membawakanku ciput. Sebenarnya aku udah pesimis bahwa kami tidak ingin menang di perlombaan itu. Tapi bu Yeni, guru yang mendampingi kami berkata “menang atau tidak menang, yang penting kalian udah memberikan yang terbaik” itu kata-kata yang masih kuuingat. Di tempat perlombaan… Tempat perlombaan FLS2N berada di SMPN 1 Pkl, semua kategori dan bidang FLS2N ada di sana. Sesampainya di sana, kedatangan kami menjadi pusat perhatian semu peserta yang lain karena konsep dandanan kami berbeda dengan yang lain “aduh, kenapa mereka lihat kami kaya ada yang beda??” benakku. Selama Perlombaan… Kami menunggu giliran dari peserta yang maju pertama sampai nomor urut kami dipanggil. sebelum dipanggil, kami mempersiapkan diri dan berdo’a, aku berdo’a di dalam hati “semoga kami tidak ditertawakan oleh peserta yang lain, karna gerakan dan dan kostum kami yang unik”. Lalu, nomor urut kami dipanggil, jantungku semakin tak karuan rasanya rasa gerogi, takut, cemas dan malu campur aduk. Saat aku maju, ku tarik nafasku dalam dalam untuk menghilangkan rasa gerogiku “shhtt….. aaaahhhh… sshhhtt….aaaaahhhh”. Aku pun pentas. Setelah pementasan…. Alhamdulillaah selama pementasan beralan dengan lancar, dan tidak ada yang menertawakan kami.

Saat juri sedang berunding menentukan pemenang juara 1,2 dan 3, sambil menunggu kami melihat lihat perlombaan yang lain. Tibalah saat saat yang mendebarkan untukku daan semua peserta. Juri mengumumkan pemenang juara 2 dan 3, hatiku semakin berdebar-debar dan tak berharap banyak, karena juara 2 & 3 sangat bagus penampilannya. Namun, saat juri mengumumkan juara pertama, juri pertama mengumumkan “dengan nilai 998, diraih oleh nomor urut 6 dari SMPN 6 Pekalongaaaannn!!!!” seketika aku tersentak dari kegiatanku yang sedang memakan kacang. Refleks aku berdiri, masih tercengang tak percaya bahwa kami mendapat juara pertama. Kami sangat bangga dengan kemenangan ini, begitu pula dengan guru kami bu Yeni. Perjuangan kami dengan berlatih setiap hari, berusaha menjadi yng terbaik tidak siasia, walaupun sempat ada rasa pesimis. Kami pulang dengan membawa nama baik sekolah. Setelah dua minggu berlalu, kami menjadi perwakilan dari Kota Pekalongan untuk mengikuti lomba FLS2N di tingkat Propinsi di Solo.

Lebah Koloni

Lebah – lebah koloni Mencari manis yang terselip sekuntum bunga Menari terbang meninggi Bernyanyi sepanjang pagi Mengisi lubang sarang tersembunyi Semangat disiplin mengalir berdenyut Cinta kasih ratu lebah Seolah menjadi nafas di setiap langkah Mengatur koloni berjanji mengabdi Jangan pernah mengalah pada lebah Yang terus mengikuti aturan terarah Pendam bayangan kemalasan bagai sampah Rindukanlah mimpi buah kedisiplinan Melelehlah wahai engkau semangat asa Membaralah bersama mutiara arahan yang kuikuti Binasalah engkau godaan setan Biarkan aku berjalan lurus Penggoda belokan curam Menjebak kehancuran insan Aku Berdiri menggenggam jemari harapan Kedisiplinan lebah pedoman Akan aku buktikan Bahwa kedisiplinan membawa jawaban

GADIS PEMINTA-MINTA Oleh : Toto Sudarto Bachtiar Setiap kali bertemu, gadis kecil berkaleng kecil Senyummu terlalu kekal untuk kenal duka Tengadah padaku, pada bulan merah jambu Tapi kotaku jadi hilang, tanpa jiwa Ingin aku ikut, gadis kecil berkaleng kecil Pulang ke bawah jembatan yang melulur sosok Hidup dari kehidupan angan-angan yang gemerlapan Gembira dari kemayaan riang Duniamu yang lebih tinggi dari menara katedral Melintas-lintas di atas air kotor, tapi yang begitu kau hafal Jiwa begitu murni, terlalu murni Untuk bisa membagi dukaku Kalau kau mati, gadis kecil berkaleng kecil Bulan di atas itu, tak ada yang punya Dan kotaku, ah kotaku Hidupnya tak lagi punya tanda